8/25/2016

PESAN NENEK UNTUK KAMI

Yuhuiii, udah hari kamis ajah nih, gimana kabarmu gaes? Semoga selalu baik-baik saja yah. Oh iya, di hari kamis ini saya kembali hadir dengan tulisan kolaboratif blogging. Tulisan saya kali ini terinspirasi dari tulisan Mba Maya Siswadi di website KEB yang berjudul "Makanan Sisa, Diolah Lagi atau Dibuang?".  ^________^

Jujur saja, pertama kali membaca tulisan Mba Maya itu mulut saya langsung berkata "Mba Maya keren ih, nemu ajah ide seperti ini untuk dijadikan bahan tulisan yang nantinya akan dijadikan inspirasi oleh saya dan sembilan orang lainnya yang ada di kelompok 1".

Lalu mulailah saya berpikir. Kira-kira saya harus menulis tentang apa yah biar bisa menanggapi tulisan kerennya Mba Maya? Secara dalam keluarga kami jarang banget ada makanan sisa. Kami baru memiliki makanan sisa pada saat-saat tertentu saja misalnya saat lebaran atau hari-hari besar lainnya. Sisa makanannya pun hanya berupa kuah dari kari ayam atau gulai saja yang mana biasanya adik-adik saya yang laki-laki tidak perlu disuruh selalu langsung "menyikat habis" makanan sisa itu.

pict source: pixabay.com


Setelah beberapa saat berpikir dan mencari ide yang pas, tiba-tiba saya teringat pada nasehat yang diberikan oleh Naina (nenek saya). Naina adalah sosok yang sangat menghargai makanan. Dulu, Naina selalu menegaskan agar kami tidak membuang-buang makanan termasuk diantaranya makanan sisa. Begitu tegasnya hingga ada beberapa aturan baku yang diberlakukan oleh beliau kepada anak-anaknya dan kami cucu-cucunya terkait masalah ini.

Saat kami (saya dan adik-adik) masih anak-anak, Naina selalu berpesan agar kami tidak menyia-nyiakan makanan. Beliau berkata bila kami melakukannya, maka makanan yang kami sia-siakan itu akan menangis dan lari sehingga tidak akan mau lagi datang kembali. Dan bila sudah seperti itu, kami akan kesulitan mendapatkan makanan. Mendengar hal itu, kami merasa takut dan akhirnya melakukan hal yang dibilang Naina.

Sebenarnya ada alasan kuat mengapa Naina seperti itu. Di masa kanak-kanak (jaman sebelum kemerdekaan), beliau mengalami masa-masa kelam dimana saat itu kelaparan melanda seluruh kampung. Tak ada makanan yang dijual di pasar-pasar. Naina, orang tuanya dan seluruh masyarakat yang hidup di kampungnya nyaris mati kelaparan. Untunglah di hutan masih ada beberapa jenis umbi yang bisa dimakan.

Saya ingat, Naina memanggil saya dan adik-adik untuk menceritakan masa lalunya dengan mata berkaca-kaca. Beliau tidak ingin kami merasakan kembali masa-masa kelaparan yang penuh penderitaan itu. Jadi baginya, makanan bukanlah sesuatu yang bisa disia-siakan sesuka hati. Makanan adalah barang berharga yang harus dihargai keberadaannya.

Di akhir cerita Naina berpesan pada kami. Pesan yang sampai saat ini masih terekam jelas di ingatan kami. Dan inilah beberapa pesan Naina terkait makanan yang kami dengar berpuluh tahun silam ((BERPULUH TAHUN)) *kesannya saya udah tua banget yah LOLOLOL*:

*Jangan menyisakan makanan di piring saat selesai makan

Naina berpesan agar selalu menghabiskan makanan yang ada di piring setiap kali kami makan. Jangan pernah menyisakan sedikitpun nasi/lauk yang sudah terlanjur disendok ke dalam piring. Lebih baik mengambil makanan dalam porsi kecil dan nambah berkali-kali dibanding harus mengambil makanan dalam porsi besar tapi tidak dihabiskan dan pada akhirnya dibuang.

Sampai saat ini saya masih menerapkan pesan ini, terutama bila sedang menghadiri kondangan. Saat melihat meja dipenuhi banyak makanan, kadang saya tergoda untuk mencoba semuanya tapi bila mengingat pesan Naina, rasa penasaran untuk mencoba rasa makanan itu hilang dengan sendirinya dan berganti dengan mengambil makanan yang saya sukai saja dengan porsi yang pas (alasan lainnya karena malu juga sih kalo mau ambil makanan banyak-banyak, ntar orang berpikir badan sekecil itu kok makannya banyak? LOL).

*Jangan buang makanan sisa

Ini nih yang paling ditekankan oleh Naina. Makanan sisa yang masih layak konsumsi sebisa mungkin yah dikonsumsi. Jangan pernah membuangnya. Cara yang saya lakukan untuk membuat makanan sisa agar layak konsumsi adalah dengan cara memanasinya kembali (contoh makanan yang masih bisa dikonsumsi setelah dipanasi: sayur santan, pindang ikan dan beberapa jenis masakan ikan lainnya).

Bila yang tersisa adalah nasi, ini lebih bagus lagi karena sisa nasi tersebut bisa dikeringkan dan dibuat menjadi camilan yang bisa dinikmati di saat senggang.

jipang, salah satu camilan yang bahan dasarnya bisa dibuat dari sisa nasi yang dikeringkan
pict source: kuliner123.com


*Memasaklah secukupnya

Ini juga pesan Naina yang selalu saya terapkan hingga kini. Saya tidak akan pernah memasak dalam jumlah yang banyak kecuali sedang ada tamu. Bagi saya, lebih baik memasak berulang kali tapi selalu habis dari pada masak sekali tapi malah tidak habis dan menjadi mubazir. Nah, untuk melakukan hal ini, biasanya bahan-bahan makanan (lauk pauk) itu sudah saya siapkan sebelumnya, lalu saya taroh di kulkas. Setiap kali mau makan, baru deh makanan yang ada di kulkas itu di masak.

**
Pesan yang disampaikan oleh Naina itu sungguh masih membekas di ingatan kami hingga kini. Terlepas dari masa kelam yang pernah beliau alami yang membuatnya sangat menghargai makanan, rasanya memang sudah sepantasnya bagi kita semua untuk menghargai makanan. Bukankah menghargai makanan merupakan salah satu bentuk syukur kita terhadap rezeki yang diberikan oleh-Nya?

Jadi bila pertanyaan "Makanan Sisa, Diolah Lagi atau Dibuang?" diajukan pada saya, maka saya akan menjawab diolah lagi dong!. Tapi kalo boleh jujur sih, sebenarnya saya lebih suka bila tidak ada makanan yang tersisa.

Menulis artikel ini tiba-tiba membuat saya kangen banget sama Naina. Alfatihah buat beliau *___________*

24 comments:

  1. kalo ane pribadi kalo sisa tak kasih ayam mbak heeee, oleh pora ngunu kuwi? lewong ayamku luwe loh mbak heeee

    ReplyDelete
  2. Hahahahaha aku paling sedih Mba Ira kalau masak gak habis, mau diangetin udah gak selera, mau dibuang mubazir. Makanya aku kalau masak ya secukupnya aja, kalo kurang ya jajan jadi nya :D

    ReplyDelete
  3. Huaaa, sedih yaa kalau makanan sampai sisa. Mamaku itu selalu kalau masak dalam versi banyak, jadi aja sering nyisa. Itu sebabnya aku belajar mengolah makanan sisa menjadi bentuk baru itu ya dari mama. Aku sendiri selalu masak dalam jumlah pas, kadang-kadang aja nyisa.

    Tentang pesan nenek ini, rasanya sama dg pesan eyangku. Sepertiya nenek2 kita dulu memang berada di jaman yg serba susah ya :(

    ReplyDelete
  4. siaaap nenek siaaaap, saya juga feeling guilty kalo makan gak abis, diluar sana banyak yang susah cari makan, kita malah buang-buang

    ReplyDelete
  5. paling sediiih kalau terpaksa harus membuang makanan sisa, ngebayangin orang lain banyak yang susah beli makanan

    ReplyDelete
  6. Kalau di rumah ada makanan sisa tapi masih bisa dimakan/belum basi ibu memberikan kepada adik saya karena adik jarang masak. Tetapi kalau sudah tidak layak makan biasanya diberikan ayam/kucing tetangga.

    Iya sih ya mbak, kalau bisa jangan menyisakan makanan. Itukan merupakan penghematan juga ya :)

    ReplyDelete
  7. iya, nenek saya juga begitu. Kalau ada sisa ya dikasih ke tanaman atau ke hewan.
    saya juga nerapin hal yang sama

    ReplyDelete
  8. kayaknya hampir semua nenek dimanapun sikap perhatiannya sama ya mba. Mungkin dulunya pernah hidup di jaman prihatin

    ReplyDelete
  9. untuk saat ini memang memasak secukupnya cara yang paling bisa dilakukan ya..

    ReplyDelete
  10. Wejangannya sama ma Nenekku :D

    ReplyDelete
  11. kalau ini sih wejangannya emak saya mbak ira
    kalau nenek biasanya, makan tuh duduk gitu jangan bediri

    ReplyDelete
  12. Saya pun gitu,di rumah sering masak nasi sampe 3 kali, daripada masak sekali blom tentu habis. Lagipula kl masak pas butuh, makanannya lbh fresh, lebih nikmati disantap...alfatihah buat naina :)

    ReplyDelete
  13. Aku suka bingung mba kalo masak, aku sendiri dkosan, jadi nanggung kalonmasak, tp kalo beli terus bengkak pengeluaran

    ReplyDelete
  14. Aku klo masak juga mending secukupnya mbak. Klopun sisa..dikit. Klo sekira bisa diolah ulang, oke. Tp klo nggak..kasihkan ayam/ikan di kolam

    ReplyDelete
  15. Saya setuju dg koment diatas, kalau masih bisa diolah jd masakan bagus, tapi kalau ngak bisa buat jd makanan hewan juga bisa. Intinya tidak ada yg mubazir

    ReplyDelete
  16. panggilan nenek di situ naina ya mbk, klok aku datok,
    pesannya sama, jgn buang2 makann sisa, jd klok makanan datok ada yg sisa, biasanya dikasih ke ayam, kebetulan dulu datok melihara ayam
    jd kgn beliau

    ReplyDelete
  17. Kadang masak sedikit, eh banyak peminatnya. Giliran masak banyakan eh sisa :(.
    Terutama nasi, kalo sisanya nasi sih biasanya dibuat nasgor. Kalo lauk yg lainnya hmm agak bingung juga ngolahnya.

    ReplyDelete
  18. Kalau saya ambil praktisnya Mbak, buang kasihin ke pitik-pitik, hihi :D

    ReplyDelete
  19. bener banget yg dibilang neneknya, kitanya suka anggap sepele ya mbak, duh! pdhal smp kapanpun msh bs dipraktikin sih yaa

    ReplyDelete
  20. Kalo saya yang sisa paling hanya nasi, mbak. Kalo nasi sisa, bisa dibuat karak (sejenis kerupuk) dengan dicampur tepung kanji. Atau kalo nggak sempet, disimpen di freezer. Nanti kalo seumpama di hari lain, nasinya kurang, kan bisa diangetin lagi.

    Kalo lauk sama sayur, ya masak sekedarnya saja. Kalo kebanyakan, terus sisa, mau diolah lagi juga gizinya banyak yang hilang. Tapi kalo masih sisa ya ketimbang dibuang, diolah lagi juga nggak pa-pa. :)

    ReplyDelete
  21. Nenekku dulu juga sering bilang begitu tuh, jangan suka nyisain makanan nanti nasinya nangis :))

    Tapi anak sekarang kok gak bisa diomongin kayak begitu yah, heran deh, akhirnya setiap kali Kayla & Fathir makannya nyisa akulah yang bertugas untuk menghabiskan deh hahahaha...*emak-emak rakus*

    ReplyDelete
  22. Aku merasa bersalah kalau makanku nggak habis. Jadi kalau makan diluar aku suka gabung saja. Karena porsi makan saya dikit.

    ReplyDelete
  23. Jipangnya bikin lapar Kak.#eehh
    Nenekku juga begitu Kak, makanan sisa diolah lg sebisa mungkin, klo pun tidak habis setelah diolah lagi yaah apa daya berarti rejekinya ayam2 di luar.

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini, Insyaallah saya akan berkunjung balik ^___^

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan otomatis terhapus..