11/25/2016

PENGALAMAN MELAHIRKAN ANAK PERTAMA SECARA NORMAL

pic source: pixabay.com

Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman saya saat melahirkan Wahyu, lima tahun lalu. Sebenarnya sudah lama saya ingin menuliskan ini tapi entah mengapa rasa-rasanya momennya selalu kurang pas. Maka saat menuliskan ucapan selamat ulang tahun pada Wahyu kemarin, tiba-tiba ingatan saya tentang detik-detik kelahirannya terbayang dengan begitu jelasnya, seolah-olah baru kemarin saya mengalaminya.

Baca Juga: Selamat Ulang Tahun Ke-5, Anakku!

Saya berpikir mungkin inilah saat yang tepat untuk menceritakan pengalaman saya melahirkan anak pertama secara normal, hehehe. Semoga saja pengalaman yang saya rasakan ini bisa memberi sedikit gambaran tentang tanda-tanda yang dirasakan oleh wanita hamil menjelang persalinan kepada ibu-ibu muda yang sedang menantikan kelahiran anak pertamanya di luar sana.

Hmmm, ceritanya dimulai dari mana yah?? Ceritanya saya mulai dari kunjungan terakhir saya ke dokter kandungan saja kali yah..

H-7: 17 November 2011
Kurang lebih satu minggu sebelum kelahiran Wahyu, saya kontrol lagi ke dokter kandungan. Malam itu saya datang untuk memeriksakan kandungan sekaligus ingin meminta surat keterangan dokter sebagai lampiran untuk mengajukan surat permohonan cuti melahirkan di kantor (Yup, karena menurut perkiraan dokter saya akan melahirkan pada tanggal 5 desember 2011 maka saya baru memutuskan untuk mengambil cuti pada tanggal 21 november 2011. Mengapa saya baru mengambil cuti dua minggu sebelum HPL? Karena saya ingin bisa berlama-lama dengan bayi saya setelah melahirkan. Saya ingin memeluknya lebih lama sebelum akhirnya saya meninggalkannya selama delapan jam sehari saat saya kembali bekerja).

Saat kandungan saya diperiksa, dokter mengatakan bahwa posisi bayi saya sudah siap dilahirkan. Kepalanya sudah bersiap di jalan lahir, air ketubannya juga cukup. Kondisi bayi saya alhamdulillah lengkap dan sehat, beratnya pun sudah mencapai 2700 gram.

H-1: 23 November 2011
Hari itu saya sudah cuti dari kantor. Ba'da ashar perut saya mulai terasa mulas. Saya merasa pengen banget buang air besar (BAB). Saya sampai duduk di dalam kamar mandi selama hampir satu jam lamanya. Duduk lama di dalam kamar mandi tidak lantas membuat saya BAB, yang ada malah mulasnya timbul tenggelam.

Malam harinya saya masih merasakan mulas namun rasa mulas yang saya rasakan masih bisa saya tahan. Saat itu saya berpikir bahwa rasa mulas tersebut disebabkan karena masuk angin. Mama menawari saya makan namun saya tolak dengan alasan tidak lapar. Malam itu saya tidur dengan nyenyak walau kondisi perut saya masih mulas (Alhamdulillah, sejak awal kehamilan hingga mendekati persalinan saya tidak pernah merasakan susah tidur).

Hari H: 24 November 2011
Pukul 03.30 dini hari rasa mulasnya masih terasa namun tidak lagi seperti mulas karena masuk angin, mulasnya berganti seperti yang dirasakan saat akan datang bulan (mulasnya sudah mulai bercampur sedikit nyeri). Tapi saat itu saya belum berpikir bahwa itu adalah pertanda saya akan melahirkan, saya masih saja berpikir bahwa saya masuk angin. Rasa mulas yang saya rasakan masih timbul tenggelam dan saya masih bisa menahannya.

Saya bangun dari tidur karena merasa ingin pipis. Lalu pergilah saya ke kamar mandi untuk buang air kecil namun betapa terkejutnya saya ketika melihat ada bercak darah di celana saya. Saya langsung membangunkan mama (kebetulan saat itu mama datang dan bermalam di kost-an kami karena rencananya pagi itu kami akan pindah kost) dan bercerita bahwa celana saya berdarah. Mama langsung berkata "sepertinya saya akan melahirkan"

Maka segera saya bangunkan suami. Barang-barang yang telah dikemas untuk dipindahkan ke rumah kost yang baru segera diangkat. Saya dan mama segera menuju rumah kost baru. Di sana, saya diminta beristirahat sambil menunggu datangnya pagi untuk kemudian kami akan pulang ke rumah orang tua saya (saya memang berniat melahirkan di rumah ortu).

Pukul 06.30 semua barang-barang telah berhasil dipindahkan ke rumah kost baru. Mama berkata bahwa kami harus pulang ke rumah. Saya diminta untuk segera besiap-siap.

Pukul 07.00 kami melakukan perjalanan dari kota Bau-Bau menuju rumah ortu di Lombe (nama salah satu kecamatan di Kabupaten Buton Tengah). Untuk sampai ke Lombe, kami harus berganti dua kali angkutan umum yakni speedboat dan angkot. Alhamdulillah saat itu perjalanan kami lancar-lancar saja, angkot dan speedboat yang kami tumpangi tidak menunggu lama untuk berangkat.

Baca Juga: 5 Hal yang Kurang Menyenangkan Saat Naik Kendaraan Umum

Pukul 09.00 kami tiba di Lombe. Papa kaget melihat kedatangan kami, beliau tidak menyangka saya akan datang pagi itu, terlebih saat itu mama memberitahunya bahwa saya akan segera melahirkan. Sepengetahuan papa saya baru akan melahirkan di bulan desember. Setelah kami tiba di rumah, mama segera menuju rumah bidan yang tinggal tidak jauh dari rumah.

Pukul 10.30
Mama belum juga pulang. Saya tinggal berdua dengan papa sambil menahan sakit yang masih saja timbul tenggelam. Saat itu rasa sakit yang saya rasakan semakin kuat. Munculnya pun lebih sering. Jika sebelumnya setiap 30 menit sekali, kini sudah lebih cepat yakni 10 menit sekali. Saya masih sempat berbaring di depan TV menyaksikan penikahan Ibas dan Aliya yang disiarkan secara langsung di salah satu stasiun TV nasional.

Rasa sakit yang saya rasakan dibarengi dengan keinginan untuk BAB. Saya bolak balik ke kamar mandi namun tidak juga berhasil melakukan buang air besar. Saya kembali berbaring dan lanjut menonton acara pernikahan Ibas. Papa sempat bertanya "apakah sakitnya tak tertahankan lagi?" saya menjawab sambil tersenyum "saya masih bisa menahan sakitnya". Mendengar jawaban saya, sambil tersenyum papa melanjutkan "sepertinya belum saatnya kamu melahirkan, mamamu saja yang terlalu panik".

Di saat rasa sakit semakin terasa dan tak dapat ditahan, saya tak ingin menyia-nyiakan waktu, segera saja saya memohon maaf dan ampun pada papa atas segala salah dan dosa yang telah saya perbuat sejak kecil hingga menikah. Dengan berurai air mata saya peluk papa dan mencium tangannya. Saya yakin maaf dari orang tua akan mempermudah jalan saya melahirkan.

Pukul 11.30
Rasa sakitnya sudah tak tertahankan lagi. Frekuensi sakitnya datang lima menit sekali. Sungguh saat itu saya tidak kuat menahan sakitnya. Saya lemas. Rasanya saya tidak bertenaga lagi menahan rasa sakit. Mama sudah pulang dengan membawa seorang bidan senior dari puskesmas (bidan tetangga rumah sedang tidak berada di tempat, ia sedang keluar daerah karena ada keluarganya yang meninnggal dunia). Saat itu juga sudah ada dukun beranak di rumah (di daerah kami, sebagian besar ibu hamil memutuskan untuk bersalin di rumah dibantu oleh bidan dan dukun beranak. fyi, rumah sakit dan dokter kandungan hanya ada di kota Bau-Bau yang jaraknya cukup jauh dari Lombe)

Pukul 12.30
Rasa sakitnya (sakit, pegal dan nyeri bercampur menjadi satu) benar-benar tak tertahankan lagi. Kondisi saya sudah lemah banget. Saya menangis dan berkata ingin menyerah saja. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang membuat saya semakin lemas. Untungnya saat itu suami sudah berada di samping saya. Ia tak henti-hentinya memberi semangat bahwa saya pasti bisa melahirkan anak kami.

Keringat mengucur deras. Mama memberi saya sepiring bubur yang dicampur telur. Tapi ternyata sepiring bubur tidak mampu menambah tenaga, saya masih saja lemas. Lalu saya diberi dua butir telur ayam kampung. Saya pasrah saja ketika almarhumah bibi membuka mulut saya dan memasukkan dua butir telur ayam kampung. Telur ayam kampung yang masih mentah itu meluncur mulus ke dalam tenggorokan saya. Rasa amis dari telur sudah tidak saya rasakan lagi.

Anehnya, setelah mengonsumsi dua butir telur ayam kampung itu tenaga saya pulih kembali. Jika sebelumnya saya tidak kuat lagi mengejan karena letih, semuanya berubah setelah saya dipaksa mengonsumsi telur ayam kampung itu. Saya menjadi kuat dan semangat untuk mengejan (ternyata desas desus yang selama ini sya dengar terkait khasiat telur ayam kampung bukan isapan jempol belaka, ia memang terbukti dapat menambah stamina).

Baca Juga: Turunkan Tekanan Darah Tinggi Dengan daun Belimbing Wuluh

Puncaknya, pada pukul 13.00 saya merasakan bidan menusukkan sesuatu ke organ intim saya. Bidan menyuruh saya untuk tetap mengejan dan sreeeet ketuban saya pecah. Bersamaan dengan itu terdengar suara tangisan bayi yang disambut dengan ucapan syukur oleh beberapa orang yang ada di dalam kamar tempat saya bersalin. Tangisannya begitu keras dan lantang, ia seolah protes mengapa harus keluar secepat itu.

Alhamdulillah, bayi mungil kami yang berjenis kelamin laki-laki itu lahir dengan fisik yang lengkap dan sehat dengan berat 2900 gram (panjangnya tidak diukur, huhuhu). Melihat wujudnya, hilang sudah rasa sakit dan letih yang sebelumnya saya rasakan dan berganti dengan kebahagiaan yang tak terkira. Bayi mungil itu kemudian kami panggil dengan nama "WAHYU".

bayi mungil kami

Ahhh, jika mengingat detik-detik kelahirannya, rasanya seperti baru terjadi kemarin. Sehat terus yah Nak, doa mama akan selalu mengiringi perjalananmu. Oh iya, sebelum mengakhiri tulisan ini saya ingin menuliskan beberapa tanda-tanda yang saya rasakan sesaat sebelum melahirkan:
  • Mulas. Rasa mulas yang saya rasakan seperti saat masuk angin namun tak lama kemudian rasa mulasnya berganti menjadi rasa mulas yang saya rasakan saat akan menstruasi.
  • Pengen buang air besar terus menerus. Hal ini saya rasakan sejak H-1 lahiran.
  • Sehari sebelum melahirkan ada cairan (hmm bukan cairan juga sih, tepatnya berbentuk seperi jelly atau lem) di celana. Jika dipegang akan terasa lengket di tangan.
  • Keluar lendir bercampur darah.
  • Pinggul dan pinggang terasa pegal, sakit juga nyeri (hmmm, bahasa tepatnya apa yah, pokoknya rasanya tidak nyaman banget deh)
  • Perut terasa lebih kencang.
  • Sebagian orang mungkin merasakan keluarnya air ketuban tapi tidak bagi saya. Ketuban saya baru pecah sesaat sebelum bayi saya lahir (bidan yang memecahkannya).

Dan beberapa hal ini saya lakukan agar kuat dan tenang saat melahirkan secara normal:
  • Minta maaf pada orang-orang di sekitar (khususnya suami dan orang tua). Saya percaya banget dengan kekuatan kata maaf. Ketika mengetahui orang-orang yang saya sayangi sudah memaafkan kesalahan yang saya perbuat, maka saya akan merasa lebih tenang dan kuat saat melahirkan. Ini mungkin hanya sugesti tapi tak ada salahnya untuk dilakukan dong yah ^_____^ 
  • Konsumsi telur ayam kampung. Awalnya saya tidak terlalu percaya dengan khasiat telur ayam kampung yang sering disebut-sebut oleh banyak orang itu hingga saya merasakannya sendiri saat hendak melahirkan beberapa waktu yang lalu. Mengonsumsi telur ayam kampung sesaat sebelum melahirkan akan memberi tenaga ekstra saat mengejan.
  • Tanamkan keyakinan di dalam hati bahwa semuanya akan baik-baik saja.
  • Pasrah

Demikianlah pengalaman yang bisa saya ceritakan terkait proses kelahiran anak pertama saya yang terjadi secara normal juga tanda-tanda yang saya rasakan sesaat sebelum melahirkan. Saya yakin, setiap ibu pasti punya cerita berbeda dalam setiap proses kelahiran anaknya. Bagaimana denganmu gaes? Yuk bagi ceritamu di kolom komentar ^________^

8 comments:

  1. Aah... jadi ingat kembali bagaimana panik dan mulasnya saat mau melahirkan :)

    ReplyDelete
  2. aku.malah..gak ada mulas..malah lewat.hpl.. sampai cemas.. akhirnya di induksi..namun berujung sc juga... tapi bersyukur semua sehat..

    ReplyDelete
  3. Saya baru tau dan merasakan pecahnya air ketuban pas lahiran anak ketiga, Mbak. Hehhehe..
    Btw alhamdulillah yaa persalinannya lancar, anak sehat ibu sehat..
    Aku

    Aku juga kangen maen ke sini ,Mbak Iraaa :)))

    ReplyDelete
  4. Bersyukur sekali bisa melahirkan secara normal. Bahagia banget pastinya karena jagoannya tumbuh sehat dan sekarang sudah berumur lima tahun :)

    ReplyDelete
  5. tanamkan dalam hati semua baik2 saja.
    Hmm... saya pernah mengalami hal berat dan berusaha bilang itu di pikiran sendiri dan akhirnya gagal. Rupanya mesti ada teman yg mengompori kalimat itu, semacam memasukan kalimat itu ke pikiran tp harus lewat ucapannya

    ReplyDelete
  6. Duuuuu nggak kebayang gimana dulu rasanya Mama melahirkan aku dan suatu hari nanti, aku juga akan melahirkan anak. Jadi ibu itu anugerah yang butuh perjuangan hidup dan mati ya. Terima kasih banyak sudah berbagi, Mba Ira.

    ReplyDelete
  7. Momen melahirkan memang momen yang tak terlupakan ya Mba', sehat terus Ibu dan keluarga.. :)

    ReplyDelete
  8. Thanks infonya, sebentar lagi HPL anak pertamaku, jd deg2an

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini :) :)

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus.