5/29/2017

ATMAJI SAPTO ANGGORO; DARI TUKANG CUCI CETAK FOTO, PENGUSAHA MEDIA HINGGA PENULIS BUKU


Hai gaes, apa kabarmu hari ini? Semoga baik-baik saja yaa, gimana puasanya nih? masih semangat kan? Harus semangat dong :)

Oh iya, kali ini saya kembali hadir untuk menuliskan profil seseorang yang menginspirasi nih. Bukan, yang akan saya tuliskan ini bukanlah profil teman blogger seperti yang sudah-sudah, kali ini saya akan menuliskan profil seorang tokoh media.

Siapakah gerangan dirinya? Adalah seorang bapak yang sudah malang melintang di dunia media sejak berpuluh tahun lalu. Penasarankah kamu dengan bapak tersebut? Beliau adalah Atmaji Sapto Anggoro atau lebih dikenal dengan panggilan Sapto.



Pernah dengar nama beliau gak? Kalau masih asing dengan namanya, kamu pasti tahu Detik.com dong? Merdeka.Com? Atau mungkin Tirto.Id? Saya yakin semua pengguna internet pasti tahu lah yaa atau minimal pernah mendengar nama salah satu dari tiga portal berita online ini?

Nah, bapak Sapto inilah yang ada di belakang layar ketiga portal berita online tersebut. Kiprah beliau di dunia media sudah dimulai sejak tahun 1980-an loh. Sudah lama banget yaa?

Seperti orang sukses lainnya, bapak Sapto juga merintis karirnya dari bawah. Awalnya beliau bekerja sebagai tukang cuci cetak fiti hitam putih spesialis "almarhum" di Surabaya. Namun kehadiran teknologi "cuci cetak foto 1 jam selesai" membuatnya berpikir ulang untuk meneruskan pekerjaan itu.

Beliau akhirnya berpikir ulang bahwa tak selamanya pekerjaan itu menjanjikan. Beliau sadar, pekerjaan seperti itu akan tergerus zaman dan digantikan oleh mesin.

Sejak dulu beliau memiliki keinginan untuk menjadi penulis. Bagi beliau, menulis merupakan profesi yang membutuhkan skill yang tak tergantikan bahkan oleh mesin sekali pun. Maka pada tahun 1987 bapak Sapto melamar menjadi wartawan olahraga di Surabaya Pos.

Saat melamar di Surabaya Pos, hampir semua teman sekampusnya mengirim surat lamaran. Berbeda dengan temannya, bapak Sapto tidak mengirim surat lamaran melainkan langsung mengirim contoh tulisannya. Beliau berpikir bahwa orang melamar belum tentu bisa menulis sedangkan bila mengirimkan tulisan dan tulisannya dimuat, maka akan langsung dipanggil dan diterima bekerja. Dan seperti dugaannya, beliau langsung diterima bekerja di Surabaya Pos.

Satu setengah tahun menjalani karir di Surabaya Pos, beliau bahkan sudah mengembangkan kemampuannya. Tak hanya jago meliput berita, kemampuan beliau seperti mengedit dan beberapa keahlian lainnya semakin meningkat.

Namun pada saat itu datang tawaran pekerjaan dari seorang teman yang bekerja di Buana Pos. Tawaran tersebut tak lantas diterima. Ada banyak pertimbangan yang harus dipilah. Bapak Sapto merunut kembali karirnya di surat kabar Surabaya Pos dan berkesimpulan bila ia tetap di sana karirnya akan lama naik. Akhirnya beliau menerima tawaran si teman untuk bekerja di Buana Pos.

Penghasilan yang beliau dapatkan di Buana Pos lebuh kecil dari yang beliau dapatkan di Surabaya Pos namun bukan itu yang dicarinya. Beliau lebih memikirkan potensi yang ada di Buana Pos. Tapi ternyata setelah satu tahun berada di Buana Pos, beliau akhirnya memutuskan untuk berhenti. 


Tak lama berselang, beliau bekerja di Republika pada tahun 1993. Beliau juga ikut membidani detik.com pada tahun 1998. Walau posisinya di Republika sudah bagus tapi beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bergabung pada Detik.Com. Beliau berpikir bahwa internet akan membuat masa depannya lebih baik walau tak ada gaji pasti.

Keputusannya tepat. Tahun 1999 Detik.Com mendapat investasi dari Hongkong senilai 24 milyar. Bapak Sapto diminta untuk mencari banyak wartawan. Karir beliau makin terbuka di sini.

banyak pelajaran yang beliau dapatkan saat berada di Detik.Com, salah satunya tentang periklanan. Bapak Sapto yang tidak memiliki basic pemasaran offline apalagi online menjadikan hal itu sebagai sebuah tantangan yang harus ditaklukan guna memberi bukti kepada tim dan juniornya

Pusing? Tentu saja. Tapi bukan Sapto namanya bila tak mendapatkan jalan keluar terbaik. Beliau segera mencari cara dan membuat strategi jitu yang pada akhirnya membuahkan hasil.

Beberapa tahun berada di Detik.Com tak lantas membuatnya puas. karirnya sebagai direktur di Detik.Com pun ditinggalkan dan mencoba peruntungan di bisnis klipimg digital yang masih eksis sampai sekarang. Karirnya kemudian berlanjut ke Merdeka.Com. Beliau membuat strategi yang menjadikan Merdeka.Com berada di tiga besar di Indonesia.

Usai Merdeka.Com, beliau membuat Tirto.Id dan mendirikan Padepokan ASA. Padepokan ASA merupakan tempat berbagi oleh mereka yang memiliki keahlian secara terbuka. Mereka berbagi tanpa dibayar. Sesuai dengan tagline Padepokan ASA itu sendiri yaitu house of sharing and incubation.



Sejak 2015 hingga sekarang Padepokan ASA sudah memiliki banyak sekali program. Padepokan ASA memfasilitasi anggotanya untuk berdiskusi dan berbagi tentang banyak hal bermanfaat terutama berbagi ilmu bisnis juga berbagi ilmu jurnalis. Harapan beliau saat mendirikan padepokan ini adalah mencetak generasi muda yang bertalenta sehingga dapat memberi kontribusi pada bangsa ini.


Sapto Anggoro & Buku


Seolah tak puas dengan banyak hal yang sudah dilakukannya, bapak Sapto juga mencoba menjadi penulis. Yup, sejauh ini sudah ada dua judul buku yang beliau terbitkan yakni "Detikcom Legenda Media Online" dan "Mantra Justru".

Keinginannya untuk membuat buku sendiri sudah ada sejak lama yakni sejak beliau duduk di bangku kuliah jurnalistik. Namun siapa yang menyangka, ternyata beliau malah kalah cepat sama anaknya yang pada usia belasan tahun sudah berhasil menerbitkan buku.

Melihat kesuksesan anaknya yang berhasil menerbitkan buku pada usia belia, bapak Sapto pun semakin terdorong untuk menerbitkan buku sendiri.

Setelah beberapa saat dilanda bingung hendak menulis buku apa, akhirnya beliau terpikir untuk membukukan Detik.com. Mengapa? Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Yang pertama, karena beliau membuat skripsi kualitatif terlambat terhadap Detik.com, media pionir di Indonesia.

Yang kedua, alasan dokumentasi. Beliau ingin mendokumentasikan tentang bagaimana ide pendirian, pembuatan, proses kerja, kinerja wartawan dan juga awak-awak yang terlibat dalam sukses Detik.com.

Beliau lalu merangkai mozaik yang terpisah di sana sini, mewawancarai para pendiri yang sebagian sudah keluar, mencari teori tentang 3W (what, where, when) yang dipakai Detik.com. Beliau lalu menyusunnya menjadi satu bagian buku, beberapa bab dan diberi judul "Detikcom Legenda Media Online".

Buku tersebut terbit pada akhir tahun 2011. Yang mana pada waktu itu ia sudah keluar dari Detik.com.

Alasan beliau menerbitkan buku Detikcom Legenda Media Online cukup sederhana. Beliau menginginkan salah satu portal berita online di tanah air ini memiliki buku seperti halnya perusahaan besar lainnya yang juga sudah diterbitkan bukunya seperti Microsoft, Appel, Facbook, Google, Paypal dan beberapa perusahaan besar lainnya.

Walau bukunya kurang laris di pasaran, beliau tetap bahagia karena buku tersebut cukup jadi pegangan mahasiswa komunikasi di kelas, terutama yang memiliki materi tentang media online. Bahkan beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi mengirim email untuk tanya jawab sebagai pelengkap makalah, skripsi atau tesis mereka.

Sedangkan buku keduanya yang berjudul Mantra Justru adalah kumpulan lebih dari 40 tulisan tentang bagaimana ide sederhana yang bisa dijadikan bisnis. Melalui buku ini beliau bertujuan memberi energi positif kepada para pembaca agar energi negatif yang mereka rasakan bisa diubah menjadi energi postif.

Dalam waktu beberapa bulan saja, buku ini sudah naik cetak sebanyak dua kali. Menurut beliau, hal yang menjadikan buku ini laris di pasaran adalah isinya yang positif sehingga sangat berarti untuk khalayak umum.

Hingga saat ini beliau baru menerbitkan dua judul buku. Bila ditanya apakah nanti beliau akan menerbitkan buku ketiganya? Jawabannya adalah iya, namun beliau belum tahu buku tersebut bertema apa. Beliau hanya berharap memiliki jejak dokumentasi yang baik dan bermanfaat bagi orang lain. Beliau ingin menjadi orang yang berarti.

Gimana? Sudah kenal dengan sosok menginspirasi ini dong yaa? Sampai jumpa di artikel tentang sosok menginspirasi lainnya :)

4 comments:

  1. Aku baru mengenal sosok bpk Sapto ini loh mba, terkadang memang kita harus belajar dulu di satu tempat dan tepat memilih seperti bapak Sapto ini bukan gaji yang menjadi incaran tapi menurut aku blio sdh visioner y mba.
    aku penasaran sama bukunya, lagi suka baca buku inpiratif soalnya biar ketularan sakses hehehe

    ReplyDelete
  2. Wah.. kalau lihat jenjang pekerjaannya tentu inspiratif sekali Beliau ini kak, yang saya tangkap intinya berani mengambil keputusan dan resiko untuk "melompat".

    ReplyDelete
  3. orangnya penuh semangat dan tidak kenal putus asa ya, Kak. Salut! Sukses terus Pak Sapto :)

    ReplyDelete
  4. wah suka dengan cara berpikir bapak Sapto, sepak terjangnya juga keren, tapi orangnya sederhana ya :)

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini :) :)

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus.