8/18/2016

NIKAH MUDA, WANITA & PENDIDIKAN

pict source: pixabay.com

Di hari kamis ini, saya mau ngomongin sesuatu yang selama beberapa hari terakhir sedang ngetren dibahas di mana-mana. Biar kekinian, tentu saya juga tidak mau ketinggalan untuk menulis dengan tema itu dong, hihihi. Yup, topik yang sedang naik daun itu tidak lain dan tidak bukan adalah NIKAH MUDA.

Saya yakin sudah banyak teman yang menuliskan nikah muda dari berbagai aspek mulai segi agama, kesehatan, kemapanan ekonomi, kedewasaan emosi hingga pada kelebihan dan kekurangan menikah muda. Berbeda dari mereka, tulisan saya tentang nikah muda ini lebih menyoroti hubungan antara nikah muda, wanita dan pendidikan.


*** 


Nikah Muda? Di lingkungan tempat tinggal saya banyak banget yang melakukan ini. Pelakunya yah wanita-wanita yang saya kenal. Ada tetangga rumah, teman sekolah dan teman main yang sehari-harinya selalu bersama. Jadi bagi saya, mendengar kabar ada yang menikah muda bukanlah sesuatu yang WOW BGT alias biasa saja.

Saya ingat, ketika saya masih duduk di bangku kelas dua SMA yang mana saat itu usia saya baru enam belas tahun, sahabat saya yang usianya setahun lebih tua dari saya memutuskan untuk berhenti sekolah karena ingin menikah. Bagaimana perasaan saya ketika ditinggal sahabat menikah? Sedih? Pasti. Kesepian karena tidak punya teman main sekaligus teman jalan bersama ke sekolah? Awalnya begitu, namun seiring berjalannya waktu persahabatan kami tetap berlanjut walau tidak seakrab saat kami masih sama-sama sekolah dan dia belum menikah tentunya.

Tak hanya itu, saat saya duduk di bangku kelas tiga SMA, ada lagi dua orang tetangga (lagi-lagi wanita) yang usianya lebih muda dari saya memutuskan menikah muda. Belum lagi beberapa orang yang saya kenal yang tinggal di kampung sebelah melakukan hal yang sama.

Begitu banyak orang yang saya kenal melakukan nikah muda. Mungkin karena alasan itulah sehingga di paragraf awal saya katakan bahwa tidak ada yang spesial ketika belum lama ini ada pasangan muda belia anak seorang ustad terkenal menambah deretan pelaku nikah muda. Nothing special lah di mata saya..


pasangan muda belia Alvin & Larissa yang pernikahannya ramai diperbincangkan (pict source: instagram Alvin)

Namun terbiasanya saya menyaksikan secara langsung pernikahan dini tidak lantas membuat saya mengamini dan setuju terhadap langkah yang mereka ambil. Bila ada pertanyaan seperti ini "setujukah saya dengan nikah muda?" diajukan pada saya maka jawaban yang saya berikan adalah TIDAK SETUJU apalagi bila harus mengorbankan pendidikan salah satu pihak (terutama wanita) atau malah kedua belah pihak seperti yang kebanyakan terjadi di lingkungan saya. Loh kok bisa? Ya iya dong, bagi saya putus sekolah berarti mengorbankan masa depan.

Menurut saya, menikah muda (pernikahan yang dilakukan pada usia sekolah) akan menghapus banyak kesempatan yang seharusnya bisa didapatkan pelakunya. Berkaca dari kisah sahabat saya dan beberapa tetangga yang melakukannya, setelah menikah mereka kehilangan kesempatan untuk menuntut ilmu ke tingkat yang lebih tinggi. Setelah menjadi istri, suami dan anak menjadi fokus utama hingga hal lainnya menjadi tidak penting lagi.

Memang sih, setelah menikah wanita mungkin saja masih bisa melanjutkan pendidikannya namun itu bisa terjadi bila sang suami mengijinkan. Kenyataannya, banyak wanita pelaku nikah muda di sekitar saya tidak diizinkan oleh suaminya untuk melanjutkan pendidikannya kembali. Sahabat saya yang saya sebutkan di awal tadi, akhirnya tidak lulus SMA. Tetangga dan orang-orang yang saya kenal pun sama saja.

Karenanya tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk menikah sebelum meraih gelar sarjana. Sejak kecil, cita-cita saya adalah sekolah hingga sarjana, kerja baru kemudian menikah. Alhamdulillah saya berhasil mewujudkannya.

Baca Juga: Sejarah Singkat Kehidupan Irawati Hamid

Penyebab terjadinya pernikahan dini di sekitar saya & Opini saya tentang itu

"Mengapa di sekeliling saya banyak terjadi pernikahan dini?"

Setelah membaca beberapa paragraf di atas, di benak teman-teman mungkin akan muncul pertanyaan seperti yang saya bold. Maka izinkanlah saya untuk menjawab pertanyaannya sesuai dengan jawaban yang mereka (wanita pelaku nikah muda) berikan sekaligus opini pribadi yang saya rasakan setelah mengamati banyaknya pernikahan dini yang terjadi.

Pernikahan dini di lingkungan saya paling banyak disebabkan karena para wanita yang masih di bawah umur itu dilamar oleh seseorang yang menurut mereka sudah mapan dalam ekonominya. Selain itu ada juga yang karena "kecelakaan" dalam artian mereka harus menjalani pernikahan untuk menutupi aib dan menyelamatkan nyawa seorang bayi tak berdosa *you know what i mean*.

Dalam kasus pertama, kebanyakan dari mereka berpikir bahwa untuk apa bersekolah tinggi-tinggi bila sudah menemukan orang yang akan menanggung hidup mereka? Toh bersekolah tinggi kan tujuan akhirnya untuk mencari uang juga. Bila saat ini sudah ada yang bersedia untuk memberi uang dan menanggung kehidupannya, mengapa harus bersusah payah bersekolah dan memikirkan masa depan?

Hmm, pemikiran yang sangat salah menurut saya. Come on gaes, bersekolah itu tidak semata hanya untuk mencari uang, walau tidak dapat dipungkiri bahwa orang yang pendidikannya lebih tinggi tentu akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari yang tidak berpendidikan. Tapi bukan itu saja, tahukah kamu bahwa dengan bersekolah itu berarti kamu menghargai diri sendiri? Dengan bersekolah setinggi-tingginya berarti kamu memberi kesempatan kepada dirimu untuk mendapatkan yang lebih baik dalam segala hal, termasuk di dalamnya adalah jodoh.

Wanita berpendidikan juga akan lebih dewasa dan bijaksana dalam menjalani kehidupannya. Dan bukankah setiap rumah tangga tidak akan luput dari masalah? Maka untuk menghadapinya tentu dibutuhkan pribadi yang lebih bijak dan "berilmu".

Sedangkan untuk kasus kedua, pernikahan dini yang terjadi dilakukan oleh sepasang muda mudi yang usianya masih sama-sama belia guna menyelamatkan wajah kedua orang tuanya dari aib yang mereka perbuat.

Pasangan ini biasanya masih sama-sama bersekolah dan rumah tangganya sepenuhnya masih ditanggung oleh orang tua. Jangankan membiayai kebutuhan rumah tangga, uang untuk membeli pulsa saja kadang masih menadahkan tangan pada orang tua. Dan kasus yang kedua inilah yang paling membuat miris. Pasalnya bukan hanya satu orang remaja yang mengorbankan pendidikannya tapi ada dua orang yang harus putus sekolah.

Pendapat saya tentang pernikahan

Beberapa teman yang melakukan nikah muda pernah bercerita bahwa mereka menyesali keputusan yang dulu diambilnya. Hal yang paling disesali karena dulu mereka tidak menamatkan sekolahnya. Begini kira-kira kalimat yang sering diucapkan "seandainya dulu saya menikah setelah tamat SMA mungkin nasib saya akan lebih baik dari yang sekarang" atau "hidupmu terlihat enak Ra, bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Itu pasti karena kamu kuliah, tidak seperti saya yang SMA saja gak lulus". Hmm jujur saja, sedih banget mendengar kalimat pengandaian itu. Tapi semuanya sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Tinggal bagaimana caranya mengolah bubur itu menjadi makanan yang enak dan tidak membosankan saat dimakan *_________*

Menurut saya, menikah bukanlah perkara mudah seputar menemukan seseorang yang kamu pikir mampu menghidupimu di masa kini dan nanti, bukan pula sebatas mencintai dan dicintai. Bukan perkara cepat-cepatan seperti halnya lomba. Bukan semata menghindari zina. Tapi arti menikah menurut saya lebih dari semua itu. 

Memutuskan menikah berarti telah siap menanggung semua yang akan terjadi di masa kini dan nanti. Tidak ada penyesalan atas keputusan yang dulu diambil, tidak ada kalimat "seandainya dulu saya mau menunggu beberapa waktu, mungkin nasib saya tidak akan seperti ini". Memutuskan menikah berarti telah siap menerima segala kekurangan pasangan. Dan yang paling penting, saat memutuskan menikah berarti telah menyelesaikan pendidikan minimal SMA. 


pict source: pixabay.com

Sebagai seseorang yang sudah cukup sering menyaksikan wanita yang melakukan pernikahan dini dan sudah mendengar curahan hati mereka, izinkanlah saya menyampaikan pendapat kepada adik-adik di luar sana yang berencana menikah muda namun belum menyelesaikan pendidikannya:

Adik-adik yang cantik, janganlah terburu-buru mengambil keputusan untuk menikah apalagi bila engkau belum menyelesaikan pendidikan dasar dua belas tahun yang dicanangkan oleh pemerintah. Tahukah kamu bahwa dibutuhkan wanita pandai dan bijaksana dalam mengelola rumah tangga? Jangan karena tergiur dengan wajah dan harta dari pria yang datang melamar lantas semudah itu menyerahkan masa depanmu padanya.

Tahukah kamu bahwa pria akan lebih nyaman bila memiliki istri yang cerdas? Mungkin awalnya ia tertarik padamu karena fisikmu yang masih muda belia, tapi yakinkah kamu ia akan terus-terusan mencintaimu bila setiap hari kamu "tidak nyambung" diajak ngobrol olehnya? Percayalah dik, para pria lebih betah tinggal dengan wanita cerdas dibandingkan wanita cantik.

Jadi, sebelum menikah selesaikanlah pendidikanmu terlebih dulu. Tingkatkan kualitas dirimu dengan giat bersekolah dan belajar. Yakinlah bahwa wanita yang baik dan berilmu akan berjodoh dengan laki-laki yang levelnya sama.


***

Bagi saya, pernikahan seharusnya dilakukan paling cepat pada usia 23 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria. Ada alasan mengapa saya berpikir demikian. Menurut saya, di usia segitu, baik pria maupun wanita setidaknya sudah tahu langkah apa yang diambilnya dan sudah bisa mempertanggungjawabkan apa yang dipilihnya. Belum lagi beberapa alasan lain seperti ekonomi dan kesehatan. Dan yang paling penting, di usia segitu baik pria maupun wanita tentu sudah menyelesaikan pendidikan minimal SMA. 

Syukurlah tiga tahun terakhir ini sebagian besar adik-adik di lingkungan tempat tinggal saya sudah menyadari pentingnya pendidikan. Mereka tidak lagi berpikiran untuk cepat-cepat menikah. Hampir semua dari mereka bercita-cita menyelesaikan pendidikannya hingga perguruan tinggi. Alhamdulillah.. ^________^

Oh iya, tulisan saya ini dalam rangka menjawab tantangan Makpuh Indah Julianti Sibarani untuk menanggapi tulisan teman blogger lainnya yaitu Mba Ade Delina Putri tentang Nikah Muda. Tulisan Mba Ade bisa dibaca di sini 


21 comments:

  1. Menikah muda its oke..muda lhoo ya, asal siap segala aspeknya. jadi sudah cukup umur sesuai dg ketentuan peraturan perundang-undnagan. klo kasus alvin kan di bawah umur batas minimal nikah, jd nikah remaja dia mah hehehe... makanya dia mengajukan keberatan dan diadakan sidang, krn mmg di bawah umur.
    lihat kasus per kasus sih ya jadinya, gak bisa di gebyah uyaah.. gak semua anak remaja bisa dan pantas menikah..tergantung banyak hal...

    ReplyDelete
  2. Kasus tentang pernikahan muda yang pada akhirnya menghambat sekolah dan nikah by accident inilah yang jadi penyebab kontra pernikahan Alvin. Yah, kalau untuk kasus di tempat Mak Ira yang ini biasanya juga sangat dipengaruhi kultur, ekonomi, dan pendidikan masy setempat, biasanya -maaf- masih minim semuanya. Kl untuk kasus seperti di atas, saya juga tidak setuju dan lebih memilih edukasi untuk mereka.

    ReplyDelete
  3. Aku menikah umur 22. Alhamdulillah udah lulus SMA dan pas lagi mau wisuda hehe. Emang ya, pendidikan itu penting banget sebelum menikah. Karena seperti kata Mbak Ira, tidak semua wanita diizinkan suaminya untuk melanjutkan sekolah lagi setelah menikah. Thanks ya Mbak, sudah mengingatkan betapa pentingya hal satu ini ^_^

    ReplyDelete
  4. Ini betul heboh amat yaaa.. Nikah di usia muda asal bisa mempertanggung jawabkan itu ngga apa2 menurutku, dewasa dan bertanggung jawab juga ngga dilihat dari usia, tapi sering dijadiin alasan utk nikah muda. Cuma ini jadi hebring yaa di blow up media dan anak seorang ustad ternama. Moga Allah mudahkan urusan kita yaa mba :)

    ReplyDelete
  5. lebih baik nikah muda, dari pada memperbanyak dosa :)

    ReplyDelete
  6. Aku termasuk nikah muda (22th) tp udah lulus kuliah n udah kerja,, jd udah gak ada tanggungan.. umur suamiku udah cukup juga

    Aku sih gak masalah orang mau nikah muda belia.. kan mereka yg tanggung resikonya,, tapi aku gak setuju kalau sampai pake kampanye ayo nikah muda blablabla.. gak semua orang mampu seperti mereka..

    ReplyDelete
  7. aku nikah muda, alsanku cm satu, just ibadah...
    ahay, berasa jd alvin, hihihi :)

    ReplyDelete
  8. Di tempat ku udah jarang yang nikah muda, waktu aku masih smp baru masih ada, tapi alasannya karena orang tua kebanyakan takut putrinya tidak laku

    ReplyDelete
  9. kalau sudah mampu mah lebih baik nikah daripada pacaran nggak keruan mbak, anak jaman sekarang sih pada gitu pacarannya :) syeremm
    tp emang benar yah minimal SMA udah lulus lah, tar kuliah jg pastikan suami mengizinkan. sayang atuh kalau gak lanjut sekolah

    saya nikah umur 24 btw

    ReplyDelete
  10. Dlu cita2ku nikah muda, dan sedikit meleset, tp aku yakin alloh sdh mengatur semuanya.
    Kata ibu, puas2in dlu main biar nanti pas nikah bisa focus sm keluarga

    ReplyDelete
  11. Kalo temen2 gw rata2 menikah di usia 30 an hehehe

    ReplyDelete
  12. Saya nikah usia 22, termasuk muda diantara teman-teman saya :D

    ReplyDelete
  13. Aku nikahnya umur 22. Kebayang banget gimana pernikahan dini

    ReplyDelete
  14. Yang menentang nikah muda beralasan takutnya belum matang utk mengarungi biduk rumah tangga.. Tetapi umur bukan ukuran ya Mba.. Ada yg nikah muda tetapi rumahtangganya adem ayem.. Bahkan ada pasangan yg nikah usia matang ujung2nya malah cerai..

    ReplyDelete
  15. memang pernikahan itu hal yang sakral, jadi banyak yang harus dipertimbangkan. memang kebanyakan alasan orang tua yang menikahkan anaknya selagi masih muda punya alasan yang klasik karena wanita ujung ujungnya ke dapur juga. well semoga orang tua modern tidak melakukannya dan jika melakukannya harus dengan alasan yang sangat kuat.

    ReplyDelete
  16. Saya malah pengen nikah muda lho Mama Wahyu ^^

    ReplyDelete
  17. Kasus nikah muda (usia sekolah) yang sering saya temui lebih banyak karena MBA mbak Ira. Jadi ada kesan terpaksa gitu. Kasihan sih ya sebenarnya, meskipun masih bisa melanjutkan sekolah tapi kadang faktor malu jadi penghambat sehingga jadi putus sekolah dan putus cita-cita :(

    ReplyDelete
  18. Iya Mba. Aku setuju. MMenikah di usia yang terlalu muda bisa saja menimbulkan penyesalan di lain waktu. Lagipula memang dibutuhkan wanita yang cerdas untuk jadi teman ngobrol di rumah ya

    Sebagai yang masih belum menikah, salah satu ketakutan aku saat ini ya, apa aku bisa menjadi teman ngobrol paling menyenangkan untuk partnerku kelak. Semoga ya Mba. Mohon doanya.

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini, Insyaallah saya akan berkunjung balik ^___^

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan otomatis terhapus..