Langsung ke konten utama

TENTANG RASA “SUUDZON”

Pernahkan teman-teman merasa selalu berburuk sangka (suudzon) terhadap orang lain?? Mudah-mudahan tidak pernah yah, cukup saya saja yang pernah mengalaminya karena rasanya sangat mengganggu dan menyiksa.

Pada blogpost kali ini saya akan bercerita tentang perjuanganku melawan rasa suudzon yang sudah cukup lama saya derita. Rasa suudzon ini membuatku tidak nyaman hingga mengganggu hubungan sosialku dengan orang-orang. Sebenarnya saya sangat malu untuk menceritakan ini (karena saya merasa ini adalah aib) tapi mungkin ada orang diluar sana yang juga merasakan hal yang sama denganku bisa mengambil pelajaran dari kisahku ini.


suudzon
sumber: tertera pada gambar

Iya, sejak kurang lebih setahun yang lalu saya dilanda penyakit hati yang bernama “Suudzon” ini. Jadi setahun belakangan ini saya menjadi orang yang selalu berprasangka buruk pada orang lain. Pada teman kantor, pada teman jalan, pada sahabat, pada adik-adik saya, pada suami bahkan pada orang yang baru saya temui. Parah banget yah?

Entah kenapa prasangka buruk ini selalu saja muncul. Perasaan ini perlahan-lahan menyelinap hadir di dalam pikiranku. Ia bagaikan virus yang menyerang pikiranku dan memaksaku untuk selalu menilai apapun dengan negatif sehingga sangat sulit bagiku untuk melihat sisi positif dari orang lain.


Rasa suudzon ini membuatku merasa tersiksa. Iya, saya tersiksa dengan kehadirannya yang tidak saya inginkan. Saya merasa menjadi orang jahat karena telah menuduh orang lain sesuka hati. Menuduh mereka melakukan hal yang belum tentu dilakukannya.

Hingga saya terpikir untuk menuliskan ini sebagai peringatan kepada diri sendiri bahwa berprasangka buruk itu adalah hal yang sangat jahat. Beberapa hal negatif yang saya rasakan akibat berburuk sangka terhadap orang lain:


Pikiran tidak tenang
Setiap kali diserang rasa suudzon, saya selalu merasa tidak tenang. Saya selalu merasa bahwa apapun yang dikatakan oleh lawan bicaraku adalah bohong. Selalu merasa bahwa tanpa sepengetahuanku orang itu telah melakukan hal yang buruk dibelakangku. Saya selalu menduga-duga hal buruk apa yang telah dilakukannya kepadaku.

Sulit untuk merasa cukup
Rasa suudzon ini juga membuatku menjadi orang yang kufur nikmat. Ketika saya mendapatkan tambahan rezeki, saya selalu merasa bahwa yang didapatkan oleh teman saya pasti nilainya lebih besar.

Suka merasa iri
Ketika melihat teman sedang tertawa, saya selalu berpikir alangkah bahagia hidupnya. Saya merasa hidupnya pasti lebih bahagia dari hidup saya dan saya membenci hal itu. Saya tidak menyadari bahwa setiap orang itu memiliki kebahagiaan dan masalahnya sendiri.

Menimbulkan penyakit
Karena suka memikirkan hal yang belum tentu terjadi, akibatnya saya sering menderita sakit kepala.
    Dan satu bulan yang lalu saya bertekad untuk mengusir rasa suudzon ini. Satu bulan belakangan ini perlahan-lahan saya mencoba untuk mengusir rasa itu dan berusaha menghilangkannya dari dalam pikiran dan hatiku.

    Alhamdulillah sejak niat baik itu tertanam, sedikit demi sedikit perasaan saya mulai tenang, meskipun rasa suudzon itu belum sepenuhnya hilang namun saya sudah bisa melihat dan berpandangan baik terhadap orang lain dan hal itu membuat saya lebih tenang menjalani hidup *mudah-mudahan seriring berjalannya waktu rasa suudzon itu bisa pergi selamanya dan jangan balik-balik lagi, amin..*

    Berikut beberapa hal yang saya lakukan untuk mengikis rasa suudzon saya terhadap orang lain:
    • Selalu berprasangka baik pada orang
    • Satu-satunya hal yang bisa menghilangkan prasangka buruk adalah melakukan hal yang sebaliknya yaitu berprasangka baik. Sebulan belakangan ini saya selalu berusaha menilai apapun secara positif. Awalnya memang sulit, tapi saya berusaha untuk melakukannya. Setiap kali pikiran jahat itu muncul, saya mencoba menanamkan dalam pikiran saya bahwa tidak semua yang terlihat itu seperti kelihatannya dan tidak semua yang kita dengar seperti kedengarannya. Dalam hal ini saya menerapkan asas praduga tak bersalah.
    • Berusaha untuk selalu percaya pada orang
      Apapun yang di katakan oleh lawan bicara saya, saya berusaha untuk selalu percaya, saya menanamkan dalam pikiran saya bahwa yang dia katakan adalah benar, jika dia melakukan kebohongan, maka kebohongannya pasti akan terlihat. Serapat apapun kebohongan disembunyikan pasti akan ketahuan, seperti halnya peribahasa serapat apapun bangkai di sembuyikan baunya pasti akan tercium juga.
    • Jika pikiran buruk itu datang, segera saya beristighfar
      Dalam agama apapun sebenarnya kita dilarang untuk berprasangka buruk terhadap orang lain. Dan karena saya adalah seorang muslim, maka setiap kali prasangka buruk itu muncul saya segera beristighfar dan berbicara dalam hati bahwa suudzon adalah kejahatan yang harus diperangi.
    • Selalu bersyukur
      Menurutku bersyukur ini adalah kunci dari semuanya. Dengan bersyukur, kita akan selalu berprasangka baik dan selalu merasa cukup dengan apa yang kita punya sehingga membuat kita lebih tenang dan bahagia.
    Semoga saya bisa istiqomah dalam memerangi rasa suudzon ini dan semoga kita semua dijauhkan dan dibebaskan dari penyakit hati yang bernama Suudzon ini, amin..

    Komentar

    1. Memang bener kalau udah kena virus Suudzon bakalan jadi ga tenang :) bentar2 curiga sama orang dll

      BalasHapus
      Balasan
      1. betul banget, rasanya gak enak banget..

        Hapus
    2. iya... sering suudzon nih, apalagi kalo perilaku orang yang di-suudzon-in lain dari biasanya.. misalnya aja tumben nyapa, tumben kok baik :P

      BalasHapus
      Balasan
      1. kalo yang kayak gitu saya sering banget mbak, bahkan saat orang diam pun pikiran saya sudah membayangkan yang tidak-tidak :(
        semoga kita selalu dijahkan dari sifat ini yah mbak, amin..

        Hapus
    3. Pelan pelan aku juga mau ngilangin suudzon yg berlebih mb hihi

      BalasHapus
      Balasan
      1. ayo semangat sama-sama kita hilangkan sifat buruk ini mbak :)

        Hapus
    4. harusnya demikian yang sebenarnya, tumbuhkan positive thinking bisa mengikis segala macam prasangka yang enggak2 :)

      BalasHapus
      Balasan
      1. setuju mbak, positif thinking memang ampuh untuk melawan prasangka buruk :)

        Hapus
    5. Ngusir su'udzon emang gampang-gampang susah yaa, apalagi kalo sebelumnya emang pernah crash sama orang tersebut :D

      BalasHapus
      Balasan
      1. kalo pernah crash sama seseorang biasanya kita emang gampang suudzon sama orang tersebut yah mbak, dan ini yang terjadi pada diriku dengan salah satu rekan di kantor, saya bawaannya jadi curiga terus sama dia :(
        tapi sekarang pelan-pelan saya mulai menumbuhkan rasa khusnodzon terhadapnya, semoga seiring berjalannya waktu semuanya jadi baik-baik saja, amin..

        Hapus
    6. Mbaaak,
      Menurutku butuh kebesaran hati untuk bisa menuliskan postingan ini dan dengan berani menyatakan bahwa dulu suka suudzon, aku kaguuum :))

      Yah, kadang prasangka buruk memang suka menerpa sih mbak, apalagi kalo baca status no mention bertebaran di social media, duh jangan2 nyindir aku gitu?

      Tapi sama kayak mbak Ira juga, sedikit demi sedikit berusaha banget untuk dihilangkan nih mbak :))

      BalasHapus
      Balasan
      1. waaah bahagianya hatiku akhirnya mbak erry koment di sini *dengan ekspresi terpana dan "terkejut cantik" karena tak percaya* :) :)

        iya mbak, setuju banget yang tentang status no mention itu, saya sering banget merasa kalo status itu ditujukan untuk diriku, padahal mungkin orang yang menulis status itu gak ada maksud menyinggung :)

        semoga kita bisa terbebas dari rasa suudzon ini yah mbak, amin..

        Hapus
    7. juga menyebabkan pusing > stres > struk > koma lalu titik

      BalasHapus
      Balasan
      1. dampak suudzon memang menakutkan yah mas, semoga kita dijauhkan dari penyakit hati ini, amin..

        Hapus
    8. betul mbak Ira kuncinya adalah bersyukur dan baik sangka meskipun sulittt banget ya...

      ** saya sampai sekarang juga kadang masih su'udzon mbak tapi begitu sadar buru-buru istighfar... :)

      BalasHapus
      Balasan
      1. saya juga sama mbak anjar, kalo udah mulai muncul pikiran buruk pada orang lain, buru-buru mengucap istighfar :)

        semoga kita selalu dijauhkan dari sifat suudzon ini yah mbak :)

        Hapus
    9. su'udzon bak virus yg mudah menyebaaarrr,
      ini yg paling disukai syaitan menebar kebencian....

      istighfar, ... bisa sj yg kita nilai buruk, dia lbh mulia di mata Allah.

      BalasHapus
      Balasan
      1. betul banget mbak, suudzon ini bagaikan virus dan jika sudah terjangkit harus segera diobati :)

        Hapus
    10. Amin. Semoga tetap istiqamah. Saya berdoa buat diri sendiri juga. :)

      BalasHapus
    11. Amin. Semoga tetap istiqamah. Saya berdoa buat diri sendiri juga. :)

      BalasHapus
    12. Iyya nih mbak kadang ada rasa ky gitu ,, Astagfirullah..
      emang perlu keimanan yg bener bener kuat untuk mengalahkan rasa buruk sangka ya mbak, Semoga kita semua dijauhkan dari penyakit hati :-) Amiinn..

      BalasHapus
    13. Saya selalu berusaha berpikiran baik pada orang lain karena su'udzon tidak baik buat otak. Hahah

      BalasHapus
    14. Nice share mbak. Suuzon memang bikin capek hati. Tambah capek kalo ternyata yg kita sangkakan begitu gak spt itu.

      BalasHapus
      Balasan
      1. benar banget mbak, bukan hanya tambah capek tapi tambah dosa juga:)

        Hapus
    15. Semoga kita terhindar dari sifat Suudzon ya mbak :) amiin

      BalasHapus

    Posting Komentar

    Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini 😊😊

    Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus 😉

    Postingan populer dari blog ini

    CARA MENGOBATI LEBAM/BENJOLAN PADA JIDAT ANAK KARENA KEJEDOT

    Selamat tahun baru yah Gaes, semoga di tahun 2016 ini segalanya lebih baik dari tahun-tahun yang telah lalu, amin. Tidak terasa yah, hari ini kita sudah berada di hari ke empat di tahun yang baru ini. Setelah beberapa hari menikmati hari libur (libur nulis juga), hari ini saatnya kita untuk beraktivitas seperti biasanya.

    Oh iya, postingan pertama saya di awal tahun ini akan dibuka dengan cerita sedih yang dialami oleh anak saya “Wahyu” beberapa waktu yang lalu.Pada hari kamis tanggal 24 desember 2015 yang lalu, Wahyu kejedot (bahasa Indonesia dari kejedot apa yah?) di kaki ranjang. Saat sedang berlari-lari dalam rumah, tanpa sengaja kakinya menabrak kaki Papanya hingga ia terlempar dan jidatnya terbentur kaki ranjang.
    Wahyu yang awal mulanya tertawa ceria tiba-tiba berteriak dengan suara yang sangat keras disusul suara tangisnya yang pecah. Ternyata anakku tercinta terjatuh dan terdorong dengan keras hingga jidatnya menabrak kaki ranjang. Oh tidak..!


    BERKAS YANG HARUS DISIAPKAN SAAT MENGAMBIL BPKB KENDARAAN DI LEASING SETELAH MASA KREDIT SELESAI

    Blogpost kali ini mau ngomongin sesuatu yang berhubungan dengan kerjaan saya nih yaitu tentang berkas yang harus disiapkan saat mengambil BPKB di perusahaan pembiayaan setelah masa kredit selesai.
    Ide ini muncul karena akhir-akhir ini banyak konsumen kantor saya yang telah lunas masa kreditnya namun belum mengetahui hal ini (walaupun syarat-syaratnya sudah ditempel di papan pengumuman kantor), akibatnya mereka harus bolak-balik pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang menjadi syarat pengambilan BPKB ini. Bagi yang rumahnya dekat sih tidak masalah, tapi bagi yang rumahnya jauh, pasti merepotkan dong? Tidak jarang mereka baru bisa datang kembali pada keesokan harinya.
    Jadi menurut saya mungkin bagus juga jika saya menulisnya di blog ini, sekalian nambah postingan blog yang baru beberapa biji padahal udah pertengahan februari ^________^

    PENGALAMAN MENGGUNAKAN KB IMPLANT/SUSUK TIGA TAHUN

    Beberapa waktu belakangan ada satu celetukan dari teman-teman yang lumayan sering mampir ke telinga saya dan suami ketika melihat kami berjalan bersama Wahyu. Celetukannya kurang lebih seperti ini nih “ihhhh, Wahyu udah besar yah, kapan nih punya adik lagi?”
    Mendapat pertanyaan seperti itu biasanya kami hanya tersenyum sambil menjawab “Bila Allah berkenan, Insyaallah secepatnya. Doakan semoga secepatnya kami mendapatkan adik Wahyu”.
    Sebenarnya jawaban yang kami berikan itu adalah jawaban basa basi karena sejujurnya kami memang sengaja menunda kehadiran adik Wahyu. Saya sih sudah pengen banget punya anak lagi, tapi suami masih belum mau punya anak lagi. Menurutnya, Wahyu masih membutuhkan lebih banyak kasih sayang dari kami. Walau alasan itu terkesan “cemen” di mata saya, tapi akhirnya saya amini juga.