12/19/2016

SAYA IBU BEKERJA YANG TINGGAL BERJAUHAN DENGAN ANAK & SUAMI

pic source: pixabay.com

Hai gaes, kali ini saya hadir kembali dengan tulisan kolaborasi nih. Teman kolaborasi saya kali ini adalah 3 mama kece yang pada bulan oktober lalu juga pernah berkolaborasi dengan saya. Baca tulisan kolaborasi saya dengan mereka sebelumnya di tulisan ini yaa.

Yup, teman kolaborasi saya adalah Mba Arinta, Mba Rani dan Mba Widi. Sudah kenal dengan mereka dong yaa. Yang menjadi tema kolaborasi kami kali ini adalah tentang mom war alias hal-hal yang sering membuat ibu-ibu bertengkar hebat berperang opini terkait pilihan dalam hidup mereka. Sungguh tema yang sangat menarik yaa, tema yang pas banget dijadikan ajang curhat, hihihi.

Baca tulisan teman kolaborasi saya pada link di bawah ini:


Hmmm, kalo boleh jujur, tidak sedikit loh keputusan yang saya ambil dalam hidup saya yang mengundang kontroversi ((KONTROVERSI)) hehehe serasa jadi artis deh kalo ngomong seperti ini. Keputusan yang saya ambil yang mengundang penghakiman dari banyak ibu-ibu lainnya. Salah satu pilihan saya yang mengundang banyak komentar negatif dari para wanita lain pernah saya tuliskan di sini.

Dan kali ini saya kembali ingin menuliskan cerita tentang keputusan yang saya ambil yang tak kalah mengundang komentar "ngeri-ngeri sedap" dari ibu-ibu lain yang "menyayangkan" keputusan saya. Keputusan apakah gerangan? Adalah keputusan saya untuk menjalani kehidupan sebagai seorang wanita karir yang tinggal jauh dari anak dan suami. Keputusan seorang ibu untuk menjadi working mom saja sudah banyak yang nyiyirin yaa, apalagi keputusan saya yang sudahlah mutusin jadi working mom, tinggal berjauhan pula dengan anak dan suami, bersiaplah kau dinyinyirin Ra! hahaha *tertawa miris*

Dua tahun terakhir saya memang menjalani peran sebagai seorang wanita bekerja yang tinggal jauh dari anak dan suami. Senin pagi sampai sabtu siang saya bekerja dan tinggal ngekost di kota Bau-Bau bersama adik, baru bertemu anak dan suami yang tinggal di Lakudo; salah satu Kabupaten di Buton Tengah pada hari sabtu siang hingga senin pagi.

Sebenarnya jarak antara kota Bau-Bau dan Lakudo tidaklah jauh, malah cenderung dekat karena hanya berjarak ±23 km saja, namun medan yang harus saya lalui tidak bisa dibilang mudah. Jalanan berbatu dan berdebu menjadi ujian tersendiri. Belum lagi kondisi ombak yang tak dapat diprediksi (keganasan ombak mencapai puncaknya pada bulan desember hingga maret).

Baiklah, agar lebih jelas, akan saya uraikan sedikit tentang kondisi wilayah tempat tinggal kami dan tempat kerja saya. Kantor saya berada di kota Bau-Bau, yang mana ia adalah sebuah kota kecil yang dikelilingi lautan. Di sekitarnya terdapat beberapa kabupaten lainnya, salah satunya adalah Kabupaten Buton Tengah yang merupakan tempat tinggal keluarga kami.

Perjalanan dari Lakudo menuju Bau-Bau atau sebaliknya harus saya tempuh dengan menggunakan dua jenis angkutan umum, yang pertama adalah angkot dan yang kedua adalah speedboat/kapal feri. Iya, selain dipisahkan oleh daratan, Bau-bau dan Buton tengah juga dipisahkan lautan.

Saya naik angkot menuju pelabuhan kecil  yang bernama Wamengkoli dan selanjutnya dari Wamengkoli saya naik speedboat/kapal veri untuk menyeberang ke Bau-Bau, jadi sudah terbayang dong yah, bagaimana kondisi saya yang harus pulang pergi rumah-kantor dan kemudian kantor-rumah lagi setiap hari? Belum lagi masalah klasik penumpang angkutan umum yang tak lain dan tak bukan adalah "menunggu".

Baca Juga: 5 Hal yang Kurang Menyenangkan Saat Naik Kendaraan Umum

kondisi jalan raya yang harus saya lalui menuju kantor

Dengan kondisi seperti itu akhirnya saya (tentu saja atas izin suami dan mertua karena mertua yang menjaga anak saya) memutuskan untuk tinggal ngekost di Bau-Bau saja. Kami sepakat, selama hari kerja saya tinggal di Bau-Bau dan baru pulang ke rumah di hari sabtu siang (hari sabtu saya ngantor hingga pikul 13.30).

Awalnya berat banget menjalani kehidupan yang seperti ini. Banyak pertanyaan terlintas di pikiran hingga membuat saya dilema apakah harus tetap tinggal bersama keluarga dan pulang pergi Bau-Bau - Buton Tengah setiap hari ataukah tinggal ngekost di Bau-Bau dan baru pulang ke rumah di akhir pekan?.

Pikiran tentang bagaimana kehidupan anak saya setelah saya tinggalkan berhasil membuat saya maju mundur cantik untuk mengambil keputusan berat itu. Apakah ia akan hidup baik-baik saja saat saya jauh darinya? Bagaimana bila saya kangen padanya? Apa yang harus saya lakukan saat ia kangen pada mamanya? Dan beberapa pikiran lain yang sempat menggoyahkan keinginan saya.

Alhamdulillah saya mendapatkan suami yang sangat mengerti kondisi istrinya, ia meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia tahu banget istrinya tidak akan bahagia bila tinggal di rumah saja. Dengan dukungan suami, akhirnya saya bisa melalui semua itu. Toh, bila kangen melanda, kami masih bisa bertemu kok, tinggal pilih mereka yang datang ke Bau-Bau untuk bertemu saya atau saya yang pulang ke sana, gampang kan? hihihi. Perlahan tapi pasti saya mulai menikmati kehidupan kami yang seperti ini. Awal mulanya terasa berat namun lambat laun saya mulai terbiasa dengan semua ini. Yup, kini saya bahagia menjalaninya.



Namun rupanya ridho suami terhadap keputusan saya menjadi seorang working mom yang tinggal terpisah dan jauh dari keluarga seolah masih belum cukup, ada segelintir orang yang masih juga sinis dengan keputusan yang saya ambil. Inilah beberapa pertanyaan dan pernyataan dari mereka yang berhasil membuat saya geleng-geleng kepala dan istighfar berkali-kali -____-

"ih, kok tega banget sih ninggalin anak dan suami hanya untuk bekerja!"
"ngapain repot-repot bekerja sampe harus ninggalin anak segala, memangnya suamimu gak mampu memenuhi kebutuhan kamu?"
"anak kamu jarang ketemu kamu, pasti dia lebih dekat sama neneknya kan?"
Atau ini yang lebih menyakitkan
"Ihh, kasian banget deh anak kamu, punya ibu tapi gak bisa dipeluknya setiap saat".

Dulu, pertama kali mendengar perkataan-perkataan itu saya shock. Rasanya tidak percaya, kok ada orang yang tega banget menuduh saya seperti itu. Setiap kali kata-kata penghakiman itu dilontarkan pada saya, saya hanya bisa menangis dan menerima semua tuduhan yang dilontarkan. Saya hanya diam dan tidak mampu menjawab semuanya.

Ingin banget saya katakan tolong dong jangan katakan kalimat-kalimat menghakimi tersebut. Come on gaes, saya bekerja bukan karena tidak sayang pada anak saya atau karena suami tidak mampu membiayai kebutuhan keluarga kami. Sungguh, bukan itu alasan utama saya memutuskan untuk tetap bekerja (walau tak bisa kupungkiri di dalam hati terselip niat untuk membantu meringankan beban suami).

Ada alasan lain yang mungkin tidak kalian pahami. Satu hal yang ingin saya katakan bahwa bekerja adalah salah satu cara saya menghargai dan membahagiakan diri sendiri. Dan dugaan kalian tentang anak saya yang tidak memiliki bonding yang kuat dengan saya juga salah. Alhamdulillah, sampai saat ini saya masih menjadi orang yang paling dicarinya dan hubungan kami juga dekat dan akrab banget.

saya ibu bekerja yang bahagia, hihihi :D


Oh iya, mungkin ada yang bertanya, sejak kapan sih saya memutuskan untuk menjalani kehidupan seperti ini? Seperti yang saya tuliskan di atas, saya tinggal terpisah dari suami dan anak sejak dua tahun terakhir atau saat usia anak saya menginjak tiga tahun. Saya baru mantap mengambil keputusan seperti ini setelah memastikan anak saya akan baik-baik saja saat saya tinggalkan.

Saya ingat, dulu, tiga tahun pertama kelahirannya, pulang pergi kantor-rumah dan rumah-kantor menjadi makanan saya sehari-hari. Iya, saya pulang pergi dengan kondisi jalanan yang rusak parah, bahkan di bulan januari tahun 2013 saat ombak sedang lucu-lucunya, speedboat yang saya tumpangi nyaris tenggelam karena dihantam oleh kerasnya ombak. Seharian saya gemetar karena ketakutan mengingat bagaimana mencekamnya suasana di dalam speedboat yang saya tumpangi saat air laut sudah masuk kedalamnya. (mendengar kalimat saya yang terakhir ini mungkin ada celetukan lagi dari mulut mereka, makanya ngapain kerja Neng? Maka saya akan menjawabnya "Memang kenapa kalo saya kerja? Masalah buat lo!?! Biarlah saya dibilang nyolot! )  -____-

Maka demi kesehatan jiwa dan raga saya, akhirnya suami menyarankan bagaimana bila saya ngekost saja di Bau-Bau dan baru pulang pada akhir pekan? Suami berkata bahwa saya tidak perlu khawatir dengan anak kami, toh ada dia dan mami (mama mertua) yang akan menjaga dan merawat anak kami *terimakasih atas pengertianmu Honey :**. Walau awalnya berat, akhirnya saya menyetujui saran tersebut.

Dengan dukungan suami dan keluarga, kini saya bisa mengatakan kepada dunia dengan kepala tegak bahwa saya adalah ibu bekerja yang bahagia walau jauh dari suami dan anak. Silahkan cap dan hakimi saya sebagai ibu egois. Saya tak peduli lagi dengan apa yang dikatakan orang tentang saya. Toh yang menjalani dan merasakan semuanya adalah saya, ngapain harus peduli apa kata orang lain? Anjing mengonggong kafilah berlalu, peribahasa itulah yang saya terapkan dalam menghadapi kalimat-kalimat menyakitkan yang ditujukan pada saya.

Namun, sepahit apapun hal yang kita rasakan pasti akan selalu ada hikmah yang bisa dipetik dong yaa, seperti itu juga dengan apa yang saya alami. Setelah beberapa kali menerima omongan kurang menyenangkan terkait pilihan yang saya ambil, akhirnya saya belajar satu hal yakni belajar menghargai keputusan orang lain yang berseberangan dengan keputusan yang saya ambil.

Saya tidak bisa memaksakan kehendak pada orang lain agar menerima apa yang saya pilih karena sejatinya apapun keputusan yang diambil oleh seseorang pasti tidak akan bisa memuaskan semua orang. Pro dan kontra dalam sebuah pengambilan keputusan atau pilihan hidup merupakan hal yang sangat wajar terjadi. Saya tidak bisa memaksakan pilihan saya agar disukai oleh orang lain, begitupun sebaliknya. Jadi yang bisa saya lakukan adalah menghormati apapun pilihan hidup orang lain.

Dan satu hal lagi yang saya tanamkan dalam pikiran dan hati saya bahwa saya harus membahagiakan diri sendiri dengan tidak mudah tersulut oleh kata-kata buruk orang lain. Kebahagiaan saya bukanlah ditentukan oleh orang lain, melainkan saya sendirilah yang harus menciptakannya.

Oh iya, tulisan curhat ini saya cukupkan sampai di sini yaa, sampai jumpa di tulisan curhat yang lainnya. Sampai jumpa juga di tulisan kolaborasi saya dengan blogger-blogger kece lainnya di kesempatan berikutnya ^_____^. Tulisan kolaborasi yang sudah saya publish sebelum ini bisa dibaca di label Collaborative Blogging.

Pernah punya pengalaman yang sama dengan saya terkait perbedaan pilihan hidup dengan beberapa perempuan lain yang kemudian membuat kamu mendapat "kata-kata mutiara" dari mereka? Yuk share ceritamu di kolom komentar JJ

23 comments:

  1. Aku mengerti perasaan Mbak. Menyakitkan memang. :'(

    ReplyDelete
  2. Setuju, Mbak. Berusaha untuk kebahagiaan dan tidak peduli dengan omongan buruk orang lain. Mereka kan tidak mengerti, Mbak. :( Kalau di Jawa, biasanya maido doang

    ReplyDelete
  3. Suatu saat pasti akan berkumpul lagi, Mbak. Dengan waktu yang utuh

    ReplyDelete
  4. Setiap keputusan, memang selalu menjadi pro dan kontra. :( Sabar, Mbak

    ReplyDelete
  5. Ya Allah tak pernah tahu dengan kehidupan Mbak Ira jika bukan karena cerita di sini. Makasih ya Mbak sharingnya, jadi harus banyak bersyukur nih..

    ReplyDelete
  6. Aku nggak nyangka Mbak Ira setegar dan sehebat itu. Salut padamu Mbak. Nggak semua orang bisa memutuskan diluar zona. Dan Mbak Ira, wah, aku tak bisa komen apapun deh. SUkses ya Mbak :)

    ReplyDelete
  7. wah..naik speedboat segala Mba? keren perjuangannya.. insya Allah anak-anak paham koq Mba, kalau cinta kita tidak terhalang oleh ruang dan waktu. :)

    ReplyDelete
  8. Wow ternyata mbak Ira :(
    Aku juga LDR sama anak, ketemunya cuma saat weekend aja

    ReplyDelete
  9. pastinya sering kangen ya mba... Yg penting semuanya bisa teratasi dgn baik ya mba...

    ReplyDelete
  10. I Feel u Mba, aku juga bekerja dan kalau dinas luar kota yang memakan waktu lama sampe dibilngin tega banget siy ninggalin anak. Lucunya uda nyinyirin gtu klo dikasi oleh2 diterima wkwkwk
    Bteul bgt mba yg ptg kita bahagia biarkan anjing menggonggong :) smeangat mba Ira *peluk kencenggg*

    ReplyDelete
  11. Wah mak Ira ini memang ibu yang luar biasa sekali. Kalo aku emang tipe ibu yang ceneng, jauh dikit dari anak langsung nangis :') Semangat terus ya mbak Iraaa, selama kita bahagia dan yang kita lakukan adalah hal baik yang bermanfaat untuk orang-orang disekitar kita. Kita harus tetap semangaaaat!

    ReplyDelete
  12. Duh, justru kalo aku sih kagum sama para ibu yang bekerja karena bisa membagi waktu antara kantor dan keluarga...

    Semangat terus yah mbaaak, biarin aja yang nyinyir mah, mumgkin mereka kurang piknik, kurang selfi dan kurang asupan drama korea hehehe.

    ReplyDelete
  13. Dulu aku LDM an hampir 6 tahun, tapi akhirnya sekarang kumpul lagi dengan suami. Aku juga sudah kebal di nyinyirin hal yang sama dg mb Ira. Santai aja kayak di pantai, mbaaak
    Cium sayang ah...buat si ganteng Wahyu

    ReplyDelete
  14. Hanya kita yang tau yg terbaik utk keluarga kita :)

    ReplyDelete
  15. Yang tahu persis persoalan rumah tangga kita adalah kita sendiri ya kan mbak Ira? Yang penting suami sudah memberi ijin dan kita menerima tanggung jawab itu dengan baik.

    Orang sih ngomong enak aja ya..lah kan gratis ngomongnya. Tetap semangat buat mbak Ira dan keluarga, semoga semakin sukses kedepannya, aamiin :)

    * Lah speedboatnya mana mbak, saya pengen lihat niih :)

    ReplyDelete
  16. Setiap istri/ibu punya cara tersendiri untuk membahagiakan keluarga. Saya type yang nggak bisa jauh dari suami tapi salut juga untuk wanita mandiri yang tinggal jauh dari keluarganya. Salam kenal mba.

    Enny-Jambi

    ReplyDelete
  17. Mungkin (mungkin) beberapa dari mereka tahu bahwa rasanya akan sulit untuk bisa seperti itu. Hanya saja cara menyampaikannya yang terkesan tega. Di lain sisi memang harus diakui ada memang yang dari hati dan mulutnya itu memang tega. *Ikutan esmosi.. Hufthh..

    ReplyDelete
  18. di belahan bumi manapun, pasti ketemu dg org2 "ajaib" macam itu ya mbk.
    diwolesin aja ya mbk, nanti jg berhenti2 sendiri mereka mah, yg penting mah suami dukung 1000 persen plus si wahyu always happy, :)

    ReplyDelete
  19. Semoga nanti diberikan jalan untuk bisa kumpul bareng lagi ya Mba', semangat!! :)

    ReplyDelete
  20. Wah, keren Mba, saya juga bekerja, tapi kalau harus berjauhan, saya tidak rela :D

    ReplyDelete
  21. Salut utk Kak Ira bs hadapi nyinyiran orang2 sekitar spt itu. Klo sy sdh menyerah mi mungkin. Anyway semangat All 😊

    ReplyDelete
  22. Waduh, saya telat baca yang ini ya. Yang mbak alami sama dengan kawan saya, dia udah terlanjur kontrak, tahu2 dipindahtugaskan ke pedalaman. Sebulan sekali baru bisa ketemu suami dan anak2. Kami yang dulunya baik2, lama2 mulai terasa sensitifnya. Padahal saya ngerti perasaannya gimana

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini :) :)

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus.