Langsung ke konten utama

3 ALASAN MENGAPA SAYA ENGGAN MEMINTA OLEH-OLEH PADA TEMAN YANG PERGI BERLIBUR

pic source: pixabay.com

Hai gaes, kalo ada pertanyaan seperti ini "lebih suka dikasih barang atau dapat mentahnya saja?" diajukan pada kamu, apa jawaban yang akan kamu berikan? Sebagian besar wanita mungkin akan memilih yang kedua yaitu mentahnya saja alias uang tunai dong. Sama, saya pun akan seperti itu. Di mana-mana uang tunai selalu lebih menarik dibanding barang yah, hehehe.

Tapi apakah kamu akan menolak bila diberi barang atau oleh-oleh? Jawabannya tentu tidak dong. Menerima pemberian berupa barang tetap memberi kebahagiaan yang sama dengan mendapatkan uang tunai, apalagi barangnya diperoleh secara cuma-cuma atau gratis. Pasti mau dong kakak! ^____^

Semua orang pasti senang dong diberi oleh-oleh, saya juga begitu. Rasanya bahagia banget deh bila ada teman yang baru pulang dari liburan tiba-tiba memberi bingkisan pada saya sebagai buah tangan dari perjalanannya. Siapa yang tidak senang mendapatkan barang gratisan cuy! LOLOL

salah satu foto oleh-oleh yang dibawakan oleh teman usai berpergian

Namun rasa senang saya menerima oleh-oleh tidak lantas membuat saya ketagihan meminta oleh-oleh pada setiap teman yang hendak berlibur atau melakukan perjalanan. Yang ada justru sebenarnya saya menghindari meminta oleh-oleh karena saya tidak nyaman meminta-minta dan merepotkan teman.

Setiap kali ada teman yang hendak melakukan perjalanan, saya berusaha sedemikian rupa menahan mulut ini agar tidak melontarkan kalimat yang entah itu serius atau sekedar bercanda mengharapkan oleh-oleh. Mengapa seperti itu? Ini dia beberapa alasannya:

1. Tidak ingin mengganggu perjalanan teman
Tujuan teman pergi berlibur sudah pasti adalah untuk bersenang-senang. Saya tidak ingin mengganggu kesenangannya dengan meminta dibelikan oleh-oleh. Siapa yang tahu, mungkin saja oleh-oleh yang saya minta itu harus ia dapatkan di lokasi yang jauh dari tempatnya menginap. Bukannya bersenang-senang, yang ada malah jadi beban untuknya. Sungguh saya menghindari hal yang seperti itu. Bukankah kita juga akan merasa terganggu bila berada di posisinya?

2. Tidak mau merepotkan
Entah mengapa, bagi saya, meminta dibelikan oleh-oleh pada teman yang berpergian itu akan menjadi hal yang merepotkan baginya. Membayangkan ia mencari barang pesanan saya kok ya membuat saya tidak tega yah. Apalagi bila saya meminta barang tanpa memberinya uang untuk membeli barang tersebut. Sungguh repotnya akan jadi dobel. Sudah tidak diberi ongkos, eh masih direpotkan pula dengan permintaan saya.

3. Karena saya juga tidak suka dititipi oleh-oleh bila sedang berpergian
Sebenarnya, inilah alasan yang paling mendasar yang membuat saya tidak mau meminta oleh-oleh pada teman. Jujur saja, saya bukanlah orang yang senang bila dititipin beli oleh-oleh, makanya saya tidak ingin melakukan hal yang sama pada orang lain.

Selain karena malas keliling mencari pesanan si penitip, saya juga malas membawa banyak barang. Wong mencari dan membawa barang untuk diri sendiri saja kadang rempongnya minta ampun apalagi bila diminta mencari dan membawa barang pesanan orang lain.

Hal ini juga tetap berlaku pada teman yang menitip uangnya untuk dibelikan barang. OK-lah mungkin tidak memberatkan dalam hal biaya tapi bagaimana dengan waktunya? Mencari barang yang sesuai dengan pesanan bukanlah perkara mudah gaes, apalagi bila ia memesan barang dengan jenis yang berbeda dalam jumlah yang besar.

Tidak akan terlalu memberatkan bila barang yang dipesan bisa ditemukan dalam satu toko, tapi bagaimana bila barang yang dipesan tersebut dijual di tempat yang berjauhan antara satu dengan yang lainnya? Belum lagi pikiran tentang "apakah barang yang dibeli sudah sesuai ekspektasi si pemesan atau belum" yang tentunya akan mengganggu orang yang dititipin, huhuhu -_____-


Itulah 3 alasan yang mendasari saya enggan meminta oleh-oleh pada teman yang melakukan perjalanan atau liburan.

Ketika kita sedang melakukan sebuah perjalanan (terutama perjalanan wisata/liburan), tanpa diminta pun biasanya kita sudah berpikir untuk membeli buah tangan yang akan diberikan pada orang-orang yang ada di sekeliling kita kok. Bukankah membagikan oleh-oleh pada orang-orang di sekeliling kita adalah salah satu cara membagi kebahagiaan yang kita rasakan kepada sesama? Dan sebaik-baiknya pemberian adalah yang diberikan secara ikhlas tanpa beban dan paksaan.

Bagaimana denganmu gaes, apakah kamu termasuk orang yang sering meminta dibawakan oleh-oleh pada teman yang sedang melakukan perjalanan? Ataukah kamu termasuk orang yang sama seperti saya yang enggan meminta oleh-oleh?

Oh iya, hampir lupa nih. Tulisan ini dalam rangka menanggapi artikel yang ditulis oleh Mba Muthia Pakpahan yang berjudul "Minta Oleh-Oleh? Ini Etikanya!" yang tayang di website KEB.

Sampai jumpa di tulisan kolaborasi lainnya yaaa ^______^

Komentar

  1. Kalau ada yang nitip dan kasih uangnya pasti aku belain cari mba wkwkwk tapi klo aku beli oleh2 cmn bwt keluarga deket si mba klo tmn kantor jarang juga hehehehe wong ini namanya dinas kok :p

    BalasHapus
  2. Setuju yang nomor 3. Nggak mau merepotkan teman juga sih :) yg peting nggak mau jadi beban oleh2 hehehe

    BalasHapus
  3. sama mba, siapa tau perjalanan mereka bukan dalam rangka libur semata melainkan kerja . jadi gausah membebani dengan minta oleh2 toh kalo rejeki ga kemana

    BalasHapus
  4. Biar temen ga minta juga saat kita berlibur :3 hehehe

    BalasHapus
  5. Aaah sama perkara oleh2 ini emang rada enak tak enak. Dlu slalu ada beban klo jln2 ga bw plg oleh2. Skrg sih lbh santai, klo pas jln seketemu nya ya beliii, ga jg cuek aja lah

    BalasHapus
  6. Urusan permintaan oleh2 dari teman memang kadang bikin gmn gt ya Mak hehehe!
    Kalo sy pribadi, misal pergi ke luar kota, sy sllu beli oleh2 buat keluarga dan teman yg karib bgt, yg srg interaksi dan ada buat sy. Tentunya tanpa diminta pun pasti sy bawain buat mereka.
    Justru yg (basa basi) minta oleh2 itu yg ga trlalu dkt sama kita ahahahaa - trus gmn dunk?

    BalasHapus
  7. sm mbk ira, aku jg takut ngerepotin, sungkan

    BalasHapus
  8. Setuju banget. Nyesek itu pas dititipin ternyata nggak ada.

    BalasHapus
  9. Hal yang tidak kita sadari ternyata. :'D

    BalasHapus
  10. Otomatis yang tertitipi bakal merasa bertanggung jawab gitu kan?

    BalasHapus
  11. Alasannya memang takut merepotkan. Kan mereka mudik buat senang2. ^_^

    BalasHapus
  12. Setuju sama point2 di atas. Apalagi aku juga kesel kalau ditagih oleh2 mulu

    BalasHapus
  13. saya termasuk org yg tdk pernah mau merepotkan org lain. jadi saya gak pernah nitip oleh2 sama siapapun. kecuali memang sesuatu yg sangat dibutuhkan dan penting, tapi itu pun blm pernah terjadi

    BalasHapus
  14. Saya juga nggak pernah meminta oleh-oleh khusus pada teman atau saudara yang sedang bepergian mbak Ira, alasannya sama nggak mau merepotkan. Kecuali kalau dia bawa apa terus diberikan sebagai oleh-oleh itu lain yaa..

    Kalau dititipin asal nyarinya nggak jauh dan barangnya kecil masih oke sih :)

    BalasHapus
  15. Namanya juga ole-ole. Tergantung yang mau kasih dong ya. Dan buat siapa saja. Kalau kita termasuk dalam daftar teman/sahabat favorit, kemungkinan dapat ole-ole pasti lebih besar.

    BalasHapus
  16. Kita nitip ole-ole ya cman buat basa basi aja la, ga di bawain ga usah kecewa :D hehe

    BalasHapus
  17. Hahah betul banget Mbak, traveling pake tabungan sendiri kok org lain yg heboh. Perasaan mereka karyawisata gretongan dr kantornya aku ga pernah minta ohel ohel hehheeh

    BalasHapus
  18. Di saat terpikir mau beli bros jilbab, Eyang murid saya ngasih oleh2 bros dan cemilan dari Lombok. Di saat terpikir mau beli totebag, mama murid beliin totebag dan lainnya dari Bali. Saya cukup bilang, "Selamat liburan ya. Moga menyenangkan." Saya pun muak ada orang yg ngemis oleh2, tapi ga mungkin saya begitu.

    BalasHapus
  19. Aku juga, memilih mentahnya aja mbak hehe. Duh, ngerasa kesindir nih mbak, aku kadang kalau teman pergi pasti minta oleh-oleh. Makasih udah menyadarkan ya mbak, besok-besok nggak akan minta oleh-oleh lagi deh. Tapi sesekali nggak papa lah ya mbak :D

    BalasHapus
  20. Sepakat saya sama 3 alasan itu mba. Kecuali memang nitip dan nitip uangnya juga ya buat dibeliin. Huehehehe. Pengalaman dari temen juga, ada yg nitip dibeliin,udah dibeliin eh barangnya gak diambil. Huuh kan kesel๐Ÿ˜‚

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus ๐Ÿ˜‰

Postingan populer dari blog ini

CARA MENGOBATI LEBAM/BENJOLAN PADA JIDAT ANAK KARENA KEJEDOT

Selamat tahun baru yah Gaes, semoga di tahun 2016 ini segalanya lebih baik dari tahun-tahun yang telah lalu, amin. Tidak terasa yah, hari ini kita sudah berada di hari ke empat di tahun yang baru ini. Setelah beberapa hari menikmati hari libur (libur nulis juga), hari ini saatnya kita untuk beraktivitas seperti biasanya.

Oh iya, postingan pertama saya di awal tahun ini akan dibuka dengan cerita sedih yang dialami oleh anak saya “Wahyu” beberapa waktu yang lalu.Pada hari kamis tanggal 24 desember 2015 yang lalu, Wahyu kejedot (bahasa Indonesia dari kejedot apa yah?) di kaki ranjang. Saat sedang berlari-lari dalam rumah, tanpa sengaja kakinya menabrak kaki Papanya hingga ia terlempar dan jidatnya terbentur kaki ranjang.
Wahyu yang awal mulanya tertawa ceria tiba-tiba berteriak dengan suara yang sangat keras disusul suara tangisnya yang pecah. Ternyata anakku tercinta terjatuh dan terdorong dengan keras hingga jidatnya menabrak kaki ranjang. Oh tidak..!


BERKAS YANG HARUS DISIAPKAN SAAT MENGAMBIL BPKB KENDARAAN DI LEASING SETELAH MASA KREDIT SELESAI

Blogpost kali ini mau ngomongin sesuatu yang berhubungan dengan kerjaan saya nih yaitu tentang berkas yang harus disiapkan saat mengambil BPKB di perusahaan pembiayaan setelah masa kredit selesai.
Ide ini muncul karena akhir-akhir ini banyak konsumen kantor saya yang telah lunas masa kreditnya namun belum mengetahui hal ini (walaupun syarat-syaratnya sudah ditempel di papan pengumuman kantor), akibatnya mereka harus bolak-balik pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang menjadi syarat pengambilan BPKB ini. Bagi yang rumahnya dekat sih tidak masalah, tapi bagi yang rumahnya jauh, pasti merepotkan dong? Tidak jarang mereka baru bisa datang kembali pada keesokan harinya.
Jadi menurut saya mungkin bagus juga jika saya menulisnya di blog ini, sekalian nambah postingan blog yang baru beberapa biji padahal udah pertengahan februari ^________^

PENGALAMAN MENGGUNAKAN KB IMPLANT/SUSUK TIGA TAHUN

Beberapa waktu belakangan ada satu celetukan dari teman-teman yang lumayan sering mampir ke telinga saya dan suami ketika melihat kami berjalan bersama Wahyu. Celetukannya kurang lebih seperti ini nih “ihhhh, Wahyu udah besar yah, kapan nih punya adik lagi?”
Mendapat pertanyaan seperti itu biasanya kami hanya tersenyum sambil menjawab “Bila Allah berkenan, Insyaallah secepatnya. Doakan semoga secepatnya kami mendapatkan adik Wahyu”.
Sebenarnya jawaban yang kami berikan itu adalah jawaban basa basi karena sejujurnya kami memang sengaja menunda kehadiran adik Wahyu. Saya sih sudah pengen banget punya anak lagi, tapi suami masih belum mau punya anak lagi. Menurutnya, Wahyu masih membutuhkan lebih banyak kasih sayang dari kami. Walau alasan itu terkesan “cemen” di mata saya, tapi akhirnya saya amini juga.