Langsung ke konten utama

TOLANDONA; TEMPAT ISTIMEWA YANG MENYIMPAN BANYAK KENANGAN

Sebelum melangkah pada isi tulisan, izinkan saya untuk memberitahukan bahwa pada tahun 2017 ini saya akan mengikuti setidaknya dua proyek menulis bersama teman-teman blogger lainnya. Proyek pertama yang saya ikuti bernama Sultra Blogger Talk yaitu kolaborasi yang saya jalani bersama 2 sahabat saya yang berasal dari Sulawesi Tenggara dan yang kedua adalah proyek 1 Minggu 1 Cerita (1M1C) yang saya jalani bersama ± 200-an blogger dari berbagai penjuru nusantara.

Tujuan mengikuti proyek menulis ini adalah untuk melatih kemampuan menulis saya, selain itu juga untuk mendorong agar saya tetap semangat menulis, semacam mood booster untuk menulis gitu lah yaa, soalnya mood menulis saya suka lama datangnya kalo tidak dikasih deadline, hehehe.

Nah, artikel yang saya tulis kali ini adalah untuk diikutkan pada proyek 1M1C. Fyi, sesuai namanya, aturan yang berlaku di 1M1C ini adalah setiap pesertanya diwajibkan untuk menyetorkan satu tulisan setiap minggunya. Direncanakan proyek ini akan berlangsung hingga akhir tahun nanti. Doakan semoga saya bisa menyelesaikan proyek ini dengan baik yaa, amiiiin. Dan tema yang diberikan oleh admin pada minggu pertama ini adalah "Kampung Halamanku Juga Seru".

pic source: http://www.hpgrumpe.de/

Pertama kali mengetahui tema yang diberikan, saya sempat mengernyitkan alis. Saya bertanya pada diri sendiri, apa yang akan saya tuliskan mengenai kampung halaman? Sedangkan sampai saat ini saya masih tinggal di kampung halaman itu sendiri (saya merasa kampung halaman saya adalah pulau Buton, pulau yang saya tinggali saat ini). Saya bukanlah seorang perantau yang tinggal jauh dari tanah kelahirannya. Memang sih, saya pernah tinggal jauh dari sini yakni saat memutuskan untuk kuliah di Makassar tiga belas tahun yang lalu, tapi itu kan dulu, sekarang saya sudah balik lagi dan tinggal di sini.

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya saya putuskan untuk menuliskan cerita tentang sebuah tempat istimewa yang menyimpan banyak kenangan tak terlupa saja deh yaitu tanah tempat lahir saya.

Saya lahir di sebuah desa bernama TOLANDONA (sekarang desa ini sudah menjadi sebuah kecamatan), sebuah desa yang terletak di salah satu sudut Kabupaten Buton Tengah (sebuah kabupaten yang baru setahun lalu mekar dari Kabupaten Buton). Satu-satunya desa yang berada di daratan pulau Muna yang menggunakan bahasa buton (selain bahasa Indonesia) sebagai bahasa sehari-hari.

Fyi, ada sebagian daratan Muna masuk dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Buton yang mana saat ini sudah mekar lagi menjadi Buton Tengah. Semua desa/kelurahan yang ada di Buton Tengah menggunakan bahasa indonesia dan bahasa daerah Muna (walau pelafalannya berbeda untuk setiap desa/kelurahan ) sebagai bahasa sehari-hari.

Saya dilahirkan di desa ini pada tahun 1985 silam (upss, ketahuan deh umur saya, hehehe). Menurut cerita mama, kami tinggal di sini hanya sampai usia saya satu tahun. Profesi papa sebagai seorang PNS yang ditugaskan di Lombe (jaraknya ± 18 km dari Tolandona) memaksa kami meninggalkan Tolandona dan hidup menetap di Lombe. Jadi masa-masa sekolah sejak SD hingga SMA semuanya saya lalui di Lombe. Saya baru akan datang kembali ke Tolandona saat tiba liburan sekolah.

potret desa Tolandona di tahun 1990-an  (pic source: http://www.hpgrumpe.de/)

Saya ingat, setiap kali liburan sekolah, kakak mama (kami memanggilnya Iyma) selalu datang menjemput saya di Lombe dan baru "mengembalikan" saya tepat satu hari menjelang masuk sekolah. Rasanya bahagiaaaaa banget bisa menghabiskan waku liburan di Tolandona bersama Iyma dan Naina (nenek).

Ada banyak hal bahagia yang selalu saya lakukan bersama teman-teman saat liburan datang. Mulai dari bermain beragam permainan yang tidak pernah saya lakukan di Lombe, hingga melakukan hal-hal membahagiakan lainnya bersama Iyma dan Naina. Satu hal yang saya sukai dari Tolandona di masa itu adalah cuacanya yang tidak terlalu panas karena pohon rindang ada di mana-mana. Tak heran, bila saya kembali ke Lombe usai liburan, Papa selalu memuji kulit saya yang menjadi lebih cerah, hihihi.

Di Tolandona, sejak pagi kita akan merasa akrab dengan bunyi-bunyian yang berasal dari bawah kolong setiap rumah panggung (saat itu sebagian besar rumah di Tolandona adalah rumah panggung). Itu menandakan bahwa para wanita khususnya ibu-ibu mulai beraktivitas menenun sarung khas Buton. Iyma adalah salah satu penenun sarung yang cukup dikenal di Tolandona.

contoh motif sarung Buton (pic source: indonesia-heritage.net)

Sejak SD hingga SMA saya selalu menghabiskan liburan di sini. Bahkan saat sudah kuliah pun, setiap liburan saya pasti tetap datang ke Tolandona untuk mengunjungi Iyma (saat itu Naina sudah meninnggal dunia). Tolandona selalu memiliki magnet untuk membuat saya datang dan datang lagi. Magnetnya tak lain dan tak bukan adalah Iyma, wanita yang sangat saya sayangi seperti mama sendiri.

Iyma sangat menyayangi saya dan empat orang adik saya. Bagi beliau, kami adalah anak-anaknya yang sangat disayanginya sepenuh hati, dan mungkin karena itulah, kami berlima juga sangat menyayanginya. Dialah yang membuat saya selalu kangen untuk selalu datang ke sini. Ketika menyebut atau mendengar nama Tolandona, maka tanpa bisa dicegah, wajah Iyma yang akan muncul di pikiran saya.

Yup, begitulah saya mengartikan hubungan keduanya, sangat erat dan seolah tak terpisahkan. Di mata saya, mereka adalah satu kesatuan. Iyma adalah Tolandona dan Tolandona adalah Iyma. Karena alasan inilah, tanpa ragu saya putuskan memberi nama blog pertama saya dengan "www.tolandonalipuku.blogdetik.com" yang berarti Tolandona Kampung Halamanku.

Tapi pada pertengahan tahun 2012 yang lalu awan sendu menghiasi langit Tolandona. Salah satu wanita yang paling saya cintai itu pergi meninggalkan kami untuk selamanya setelah ±10 tahun menderita kanker payudara.

Baca Juga: Kanker Payudara Merenggut Nyawa Iyma

Walau sudah ikhlas dengan kepergiannya, saya masih saja tidak percaya bila beliau sudah sudah tak ada lagi. Ketika mendengar berita kepergiannya, semua kenangan indah yang kami lalui seolah muncul kembali dan menari-nari dalam pikiran saya.

Saya ingat saat-saat kami melewati malam bersama yang mana hampir setiap malam beliau menggendong saya yang ketiduran karena lelah menonton acara pertunjukan seni yang rutin diselengggarakan seusai lebaran. Saya juga ingat ketika beliau merasa kesakitan saat saya sakit dan beberapa momen emosional lainnya.

Tak hanya Iyma yang berpulang di tahun itu, empat bulan setelah kepergian Iyma, Papa juga meninggalkan kami untuk selamanya dan lagi-lagi Tolandona menjadi tempat terakhir yang ditinggali Papa sesaat sebelum kepergiannya. Di tahun itu, masih di tempat yang sama, dua peristiwa sendu melingkupi keluarga kami :'(

Kini, saat datang ke Tolandona, saya hanya bisa melihat rumah tak berpenghuni juga pusara-pusara orang yang saya sayangi; Papa, Iyma, Naina, Awan dan beberapa kerabat lainnya. Iya, sejak empat tahun yang lalu, aktivitas saya datang ke tempat penuh kenangan ini bukan lagi untuk berlibur seperti yang bertahun lalu saya lakukan.

Saya datang ke sini memiliki maksud lain yaitu untuk melepas kangen dengan berziarah ke makam orang-orang yang saya sayangi. Semoga Allah mengampuni semua dosa yang Papa, Iyma dan Naina lakukan selama berada di dunia ini dan memberi tempat terbaik untuk mereka, amiiiin. Alfatihah untuk Papa, Iyma, Naina!

Tolandona, aahhh terlalu banyak kenangan yang tersimpan di sana *-------*


Komentar

  1. Seperti sedang memgembara di sebuah tempat indah nun jauh disana..
    Salam kenal
    .
    .
    Alfatihaaah buat papa, Iyma dan Naina yaa

    BalasHapus
  2. Jauhh dari tempatku.
    Semoga 1M1C sukses ya Mbak Ira :)

    BalasHapus
  3. Kampung halaman selain menimbulkan kangen, juga rasa sedih sendu ya :(.
    Tapi senang sekali membaca cerita tentang Tolandana yang menarik.

    Salam kenal :)
    Tatat

    BalasHapus
  4. Saya baru tau kota Tolandona mba :) menceritakan masa lalu, masa kecil selalu menyisakan sedih karena terbayang masa lalu yang indah ^^

    BalasHapus
  5. Mba Ira, pas di Ambon banyak pendatang dari Buton. Tapi aku blm pernah dengar Tolandona. Alhamdulillah jadi tahu setelah membaca tulisan ini :)

    BalasHapus
  6. Kereeeen. Baru tau kota ini hhi

    BalasHapus
  7. Tolandona, namanya indah mbak. Saya baru tahu tempat ini setelah membaca tulisan mbak ira

    BalasHapus
  8. Program 1m1c itu sepertinya menarik banget. Ceritanya ditentukan harus fiksi, essai atau bisa genre apa saja semacam nulis di blog gado2 kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. nulis apa aja Mbaa, setiap minggu member harus menyetor 1 tulisan. Kadang2 ada tema yg diberikan oleh admin seperti minggu ini :)

      tujuan proyek ini adalah agar para member aktif menulis setidaknya sekali dalam seminggu :)

      Hapus
  9. Kak, saya mau ikut ini 1M1C :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayoo ikutan say, tapi mungkin sudah tutup krn programnya sdh dimulai sejak senin lalu

      Hapus
  10. saya baru dengar tolandona ini mbak :3
    memang ya kota kelahiran selalu membawa kenangan.

    btw sukses utk 1M1C-nya ^^

    BalasHapus
  11. Tahun 90an keliatan masih banyak pohon nya ya mba, semoga sampai sekarang ya, suka sedih kl liat tempat yang dulunya rimbun jadi tandus

    BalasHapus
  12. Keren Mba Ira, project menulisnya sampai dua. Sini tularin ke aku semangatnya Mbaaa :*

    BalasHapus
  13. Kampung hlmn sll bikin kangen aplg msh ad ortu d sana pinginnya tiap hr tgl bareng... nti klo aku main k sana blh mampir y ^^

    BalasHapus
  14. kampung halaman memang selalu menyimpan kenangan, baik kenangan indah maupun kenangan menyedihkan

    BalasHapus
  15. namanya bagus, Tolandona. sekarang rumah panggung apakah masih eksis mak?

    BalasHapus
  16. Kak, endingnya bikin sedih. Al Fatihah untuk Mereka. *peluk Kak Ira*
    belum pernah kesana saya, coba ajak2 dulu daann :D

    BalasHapus
  17. Hallo salam kenal Mbak Ira. Salam 1M1C... ��...Senangnya punya kampung halaman. Saya lahir di Makassar, tapi hanya smp usia 3 tahun. Numpang lahir doang.

    BalasHapus
  18. Kenangan pada orang terkasih emang sulit dilupakan ya, semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Allah, Aamiin

    BalasHapus
  19. membaca tulisan ini berasa ikut larut pd nostalgia masa kecil. Baru tau ada nama Tolandona

    BalasHapus
  20. Wah Mbak Ira, nama kampungnya keren. Hihi. Aku baru dengar sih namanya. Cuma baca pertama kali jadi pengen suatu saat kelak bisa ke Tolandona.

    BalasHapus
  21. Sebelum berkomentar lebih jauh, saya mau ngasih tau kalau saya baru pertama kali mendengar nama Kampunya mbak heheh. "setiap mengerjakan proyek, semoga dalam keadaan senang dech" biar saya bacanya ikut senang gitu.

    BalasHapus
  22. Al Fatihah utk beliau.. Aku baru tau nama Tolandona mbaa..
    Wah mba Ira seusia kakakku^^

    BalasHapus
  23. Alfatihah untuk Papa, Iyma, Naina..
    Sedihnya mi di kak kalau tempat yang kita kunjungi biasanya ramai trus sepi mi begitu :(

    BalasHapus
  24. asyik juga ni untuk tempat liburan bersama keluarga

    BalasHapus
  25. Makasih mba, sudah berbagi tentang Desa Tolandona, jadi tau ada desa ini :)

    BalasHapus
  26. Tempat yang penuh kenangan ya mba

    BalasHapus
  27. Dingin pasti udaranya ya mba? Asik banget kalau dilihat dari gambar

    BalasHapus
  28. Mbak..dirimu produktif sekali...
    Membaca cerita ini, aku inget tayangan dokumenter yang aku dah lama nggak pernah liat lagi..jejak petualang; soalnya sering eksplor daerah2 cntik luar Jawa dengan kekayaan lokalnya.

    BalasHapus
  29. Baru tau daerah Tolandona. Kampung halaman memang selalu jadi kenangan

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini 😊😊

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus 😉

Postingan populer dari blog ini

CARA MENGOBATI LEBAM/BENJOLAN PADA JIDAT ANAK KARENA KEJEDOT

Selamat tahun baru yah Gaes, semoga di tahun 2016 ini segalanya lebih baik dari tahun-tahun yang telah lalu, amin. Tidak terasa yah, hari ini kita sudah berada di hari ke empat di tahun yang baru ini. Setelah beberapa hari menikmati hari libur (libur nulis juga), hari ini saatnya kita untuk beraktivitas seperti biasanya.

Oh iya, postingan pertama saya di awal tahun ini akan dibuka dengan cerita sedih yang dialami oleh anak saya “Wahyu” beberapa waktu yang lalu.Pada hari kamis tanggal 24 desember 2015 yang lalu, Wahyu kejedot (bahasa Indonesia dari kejedot apa yah?) di kaki ranjang. Saat sedang berlari-lari dalam rumah, tanpa sengaja kakinya menabrak kaki Papanya hingga ia terlempar dan jidatnya terbentur kaki ranjang.
Wahyu yang awal mulanya tertawa ceria tiba-tiba berteriak dengan suara yang sangat keras disusul suara tangisnya yang pecah. Ternyata anakku tercinta terjatuh dan terdorong dengan keras hingga jidatnya menabrak kaki ranjang. Oh tidak..!


BERKAS YANG HARUS DISIAPKAN SAAT MENGAMBIL BPKB KENDARAAN DI LEASING SETELAH MASA KREDIT SELESAI

Blogpost kali ini mau ngomongin sesuatu yang berhubungan dengan kerjaan saya nih yaitu tentang berkas yang harus disiapkan saat mengambil BPKB di perusahaan pembiayaan setelah masa kredit selesai.
Ide ini muncul karena akhir-akhir ini banyak konsumen kantor saya yang telah lunas masa kreditnya namun belum mengetahui hal ini (walaupun syarat-syaratnya sudah ditempel di papan pengumuman kantor), akibatnya mereka harus bolak-balik pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang menjadi syarat pengambilan BPKB ini. Bagi yang rumahnya dekat sih tidak masalah, tapi bagi yang rumahnya jauh, pasti merepotkan dong? Tidak jarang mereka baru bisa datang kembali pada keesokan harinya.
Jadi menurut saya mungkin bagus juga jika saya menulisnya di blog ini, sekalian nambah postingan blog yang baru beberapa biji padahal udah pertengahan februari ^________^

PENGALAMAN MENGGUNAKAN KB IMPLANT/SUSUK TIGA TAHUN

Beberapa waktu belakangan ada satu celetukan dari teman-teman yang lumayan sering mampir ke telinga saya dan suami ketika melihat kami berjalan bersama Wahyu. Celetukannya kurang lebih seperti ini nih “ihhhh, Wahyu udah besar yah, kapan nih punya adik lagi?”
Mendapat pertanyaan seperti itu biasanya kami hanya tersenyum sambil menjawab “Bila Allah berkenan, Insyaallah secepatnya. Doakan semoga secepatnya kami mendapatkan adik Wahyu”.
Sebenarnya jawaban yang kami berikan itu adalah jawaban basa basi karena sejujurnya kami memang sengaja menunda kehadiran adik Wahyu. Saya sih sudah pengen banget punya anak lagi, tapi suami masih belum mau punya anak lagi. Menurutnya, Wahyu masih membutuhkan lebih banyak kasih sayang dari kami. Walau alasan itu terkesan “cemen” di mata saya, tapi akhirnya saya amini juga.