Langsung ke konten utama

MARTABAK MIE; MAKANAN ANDALAN SI ANAK KOST

Hari ini adalah hari kamis. Dan bila menuruti jadwal yang sudah saya tetapkan, berarti hari ini saatnya saya menyetor  tulisan 1M1C. Tapi entah mengapa sampe jam segini saya belum berhasil juga membuat satu artikel, huhhuhu :(

Gak tahu nih, akhir-akhir ini semangat menulis saya sedang jatuh ke titik terendahnya. Harapan yang saya panjatkan di awal tahun lalu agar tahun ini lebih rajin publish artikel sepertinya hanya akan menjadi harapan semata, hiks :(

Setelah cukup lama memikirkan ide apa yang hendak saya tuangkan dalam tulisan, akhirnya saya terpikir untuk menulis resep makanan andalan saya saat kuliah dulu. Nama makanannya adalah MARTABAK MIE.

gambar martabak mie-nya seadanya :(

*Note: tolong jangan tertawa yaaa gaes. Mohon dimaklumi karena si empunya blog yang tidak pandai memasak ini sedang gak punya ide untuk menulis jadi ia menulis apa yang ada di depan mata saja, hehehe :D

Sebelum menuliskan cara membuatnya, terlebih dahulu saya ingin memberitahukan mengapa si Martabak Mie ini menjadi makanan andalan saya saat kuliah dulu. Penasaran? Yuk baca tulisan ini sampai selesai, hihihi :D

Jadi saat kuliah dulu, saya suka nyetok mie dan telur untuk persiapan makanan selama sebulan. Biasalah anak kost, surganya sehari doang (hari pas dapat transferan dana dari orang tua) dan 29 hari setelahnya adalah neraka (apa saya doang yang seperti ini yaah?).

Baca Juga:  Cerita Tanggal Tua si Anak Kost di Masa Lalu & Sekarang

Ada dua alasan mengapa saya sengaja nyetok mie dan telur. Yang pertama adalah untuk berjaga-jaga saat saya kelaparan tengah malam dan yang kedua untuk jaga-jaga saat uang belanja bulanan habis.

Mie dan telur itu biasanya akan saya olah menjadi mie rebus campur telur (saya dan teman-teman menyebutnya intel-indomi telur). Saat pulang kampus dan merasa lapar tapi tidak sempat beli makanan di warung dekat kost plus saat sedang malas masak yang berat-berat,  maka makan intel adalah solusinya.

Saat terbangun tengah malam karena kelaparan, intel juga yang jadi solusinya. Saat uang bulanan habis dan yang tersisa hanya mie dan telur, jawabannya lagi-lagi mie rebus campur telur alias intel. Pokoknya intel adalah solusi segala permasalahan yang berhubungan dengan perut lapar deh, hahaha :D

Namun lama-kelamaan kok bosan juga yah makan intel terus. Rasa bosan itu kemudian memunculkan ide brilliant dari salah seorang teman kost untuk membuat makanan lain yang bahan bakunya tetap terbuat dari mie dan telur yang rasanya nendang namun cara buatnya gampang, segampang membuat intel.

Maka terciptalah sebuah makanan yang kami namakan MARTABAK MIE yang pada akhirnya sukses menjadi makanan andalan kami menggantikan intel. 

*pelajaran moral: rasa bosan bisa memunculkan ide brilliant* 

Penasaran bagaimana cara membuatnya? Cara buatnya gampang banget kok, dijamin tidak akan gagal bahkan saat dibuat oleh orang yang tidak pandai memasak seperti saya :) 

Bahan-bahan: 
  • 1 bungkus mie instan, merk mie-nya terserah (saya memakai indomie kaldu ayam)
  • 1 butir telur 
  • Minyak goreng secukupnya 
  • Air 350 cc
Cara membuat: 
  • Rebus air hingga mendidih
  • Masukkan mie, tiriskan.. 
  • Kocok telur, campurkan bumbu mie instan 
  • Setelah telur dan bumbu tercampur, masukkan mie yang airnya telah ditiriskan ke dalam kocokan telur yang telah tercampur bumbu 
  • Panaskan minyak goreng kemudian masukkan mie yang telah tercampur telur 
  • Tunggu sampe warnanya emas kecokelatan. Angkat! 
  • Martabak mie siap dinikmati J 
Gampang banget kan cara buatnya? Segampang kita membuat mie rebus. Martabak mie ini sangat cocok dinikmati malam hari saat cuaca sedang hujan. Rasanya enak walau hanya dicocol sambal botol.

Tapi demi alasan kesehatan, jangan sering-sering mengonsumsi makanan ini ya. Cukup sebulan sekali ajaa laah mengonsumsinya J J


Komentar

  1. Ini resep kesukaan anak saya juga loh mbak Ira. Karena bahannya gampang dicari bahkan setiap ibu rumah tangga pasti punya persediaan mi instan dan telur di kulkas :)

    Cara buatnyapun mudah sekali dengan waktu yang singkat, dan yang paling penting rasanya itu loh : enyak bingittt.. Saya sendiri sudah membuktikan, hehe..

    BalasHapus
  2. kalo saya kos dulu, selalu makannya di warteg hehehe... tapi kalo martabak mie ini, emang kesukaan saya sama anak2 :)

    BalasHapus
  3. ini emang menu andalan mba wkatu kost dulu hahaha tp skrg jg masih suka buat wlw ga sesering pas dulu :D

    BalasHapus
  4. hahahah, rasa bosan bisa menimbulkan ide brilliant di Kak, noted :D
    saya juga suka intel Kak, suka martabak mie juga :D

    BalasHapus
  5. Penyelamat sepanjang waktu anak-anak rantau wkwkwkwwkwkwk! Aku digorengnya sampe pinggirannya bener-bener garing, biar ada efek kriuk-kriuk pas digigit. Nom nom! 😂😂😂😂😂

    Nice sharing :))
    www.iamandyna.com

    BalasHapus
  6. inget masa2 kuliah pagi siang malem indomi terus

    BalasHapus
  7. Hihi jadi ngileer pagi2 baca iniii...gawaat...

    BalasHapus
  8. aku jg sukaaaa :D.. apalagi kalo ditambahin korned dan sayuran ke dalam :D... makin sukaaa... justru pas ngekos aku g prnh masak ini, krn ga boleh memasak di tempat kos mba ;p.. krn kita dpt makan 3x dr fasilitas kosnya.. makanya ga boleh masak... setelah nikah sih aku taunya, dan jd sering masak ini :D

    BalasHapus
  9. Kesukaanku jugaa.. Hihi..
    Tapi saya lebih suka kalau mie instantnya tidak dimasak dulu kak, jadi lebih kriuk-kriuk martabak mienya :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini 😊😊

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus 😉

Postingan populer dari blog ini

CARA MENGOBATI LEBAM/BENJOLAN PADA JIDAT ANAK KARENA KEJEDOT

Selamat tahun baru yah Gaes, semoga di tahun 2016 ini segalanya lebih baik dari tahun-tahun yang telah lalu, amin. Tidak terasa yah, hari ini kita sudah berada di hari ke empat di tahun yang baru ini. Setelah beberapa hari menikmati hari libur (libur nulis juga), hari ini saatnya kita untuk beraktivitas seperti biasanya.

Oh iya, postingan pertama saya di awal tahun ini akan dibuka dengan cerita sedih yang dialami oleh anak saya “Wahyu” beberapa waktu yang lalu.Pada hari kamis tanggal 24 desember 2015 yang lalu, Wahyu kejedot (bahasa Indonesia dari kejedot apa yah?) di kaki ranjang. Saat sedang berlari-lari dalam rumah, tanpa sengaja kakinya menabrak kaki Papanya hingga ia terlempar dan jidatnya terbentur kaki ranjang.
Wahyu yang awal mulanya tertawa ceria tiba-tiba berteriak dengan suara yang sangat keras disusul suara tangisnya yang pecah. Ternyata anakku tercinta terjatuh dan terdorong dengan keras hingga jidatnya menabrak kaki ranjang. Oh tidak..!


BERKAS YANG HARUS DISIAPKAN SAAT MENGAMBIL BPKB KENDARAAN DI LEASING SETELAH MASA KREDIT SELESAI

Blogpost kali ini mau ngomongin sesuatu yang berhubungan dengan kerjaan saya nih yaitu tentang berkas yang harus disiapkan saat mengambil BPKB di perusahaan pembiayaan setelah masa kredit selesai.
Ide ini muncul karena akhir-akhir ini banyak konsumen kantor saya yang telah lunas masa kreditnya namun belum mengetahui hal ini (walaupun syarat-syaratnya sudah ditempel di papan pengumuman kantor), akibatnya mereka harus bolak-balik pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang menjadi syarat pengambilan BPKB ini. Bagi yang rumahnya dekat sih tidak masalah, tapi bagi yang rumahnya jauh, pasti merepotkan dong? Tidak jarang mereka baru bisa datang kembali pada keesokan harinya.
Jadi menurut saya mungkin bagus juga jika saya menulisnya di blog ini, sekalian nambah postingan blog yang baru beberapa biji padahal udah pertengahan februari ^________^

PENGALAMAN MENGGUNAKAN KB IMPLANT/SUSUK TIGA TAHUN

Beberapa waktu belakangan ada satu celetukan dari teman-teman yang lumayan sering mampir ke telinga saya dan suami ketika melihat kami berjalan bersama Wahyu. Celetukannya kurang lebih seperti ini nih “ihhhh, Wahyu udah besar yah, kapan nih punya adik lagi?”
Mendapat pertanyaan seperti itu biasanya kami hanya tersenyum sambil menjawab “Bila Allah berkenan, Insyaallah secepatnya. Doakan semoga secepatnya kami mendapatkan adik Wahyu”.
Sebenarnya jawaban yang kami berikan itu adalah jawaban basa basi karena sejujurnya kami memang sengaja menunda kehadiran adik Wahyu. Saya sih sudah pengen banget punya anak lagi, tapi suami masih belum mau punya anak lagi. Menurutnya, Wahyu masih membutuhkan lebih banyak kasih sayang dari kami. Walau alasan itu terkesan “cemen” di mata saya, tapi akhirnya saya amini juga.