Advertisement

PENGALAMAN HAMIL & MELAHIRKAN SAAT PANDEMI COVID-19

satu-satunya foto yang menampakkan perut saya di kehamilan ke-3 kemarin

Hari ini, satu bulan sudah usia anak ketiga saya. Di tanggal yang sama sebulan lalu, pada pukul 01.30 dini hari, lahirlah seorang bayi laki-laki dengan proses kelahiran yang sangat singkat dan tidak terduga sama sekali bahkan oleh saya, ibunya.
Ahh bila mengingat persalinan saya yang terbilang sangat cepat dan mudah itu, ingatan saya kembali ke masa-masa awal kehamilan dulu. Saat itu, saya sempat dilanda ketakutan. Setelah menyadari saya hamil, pikiran saya mulai dihantui tentang bagaimana kelak saat saya lahiran? Apakah sama seperti kelahiran anak pertama dan kedua, ataukah ini akan sedikit berbeda (baca: lebih sulit) karena saat itu pembahasan tentang covid-19 sedang lucu-lucunya hangat-hangatnya.

Ketakutan saya semakin menjadi tatkala membaca beberapa berita yang beredar di beranda facebook saya dan medsos lainnya tentang banyaknya ibu hamil yang meninggal dan tidak sempat melahirkan bayinya karena dipersulit oleh pihak rumah sakit. Huhuhu, bagaimana bila kejadian tragis nan menyedihkan itu juga menimpa saya? Oh Tuhan, membayangkannya saja rasanya menyesakkan dada ๐Ÿ˜ญ.

Syukurlah di tengah ketakutan yang saya rasakan, saya mendengar kabar bahwa adik sahabat saya melahirkan. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, segera saya tanyakan apa saja syarat yang harus dipenuhi ibu hamil saat hendak melahirkan di rumah sakit atau puskesmas terdekat. Jawaban yang diberikan sahabat saya cukup melegakan karena menurutnya, saat mengantar adiknya melahirkan ke rumah sakit, selain fotokopi KTP, fotokopi kartu keluarga dan kartu BPJS Kesehatan, si adik hanya perlu membawa hasil rapid tes yang dilakukan di puskesmas.

Tak lupa saya juga bertanya bagaimana pelayanan rumah sakit saat menerima pasien yang hendak melahirkan? lagi-lagi jawaban yang diberikan sahabat saya membuat saya lega. Alhamdulillah, yang saya takutkan tidak dialami adik sahabat saya. Dokter dan timnya bekerja sangat profesional dan memperlakukan pasiennya dengan sangat baik ๐Ÿ‘.
 
Selain ketakutan di awal kehamilan, perbedaan lain yang saya rasakan di kehamilan ketiga dengan dua kehamilan sebelumnya adalah saya lebih aware terhadap kebersihan. Di kehamilam ketiga, saya sangat rajin mencuci tangan dan pakai hand sanitizer, kemana-mana pakai masker, sangat memperhatikan asupan makanan (walau di awal kehamilan tetap aja mabok parah) dan berusaha tidur secepat mungkin (walau sulit karena ada bayi -anak kedua saya yang saat itu baru berusia 17 bulan- yang sering bangun tengah malam dan begadang sampai pagi) agar imun tubuh tetap kuat.
 
Hal lain yang berbeda adalah saya tidak bebas ke obgyn sesuka hati seperti pada kehamilan pertama dan kedua. Saya sempat mengalami kejadian kurang menyenangkan saat pertama kali datang ke obgyn. Si perawat yang bertugas menerima pasien, memandangi saya dengan tatapan menyelidik penuh curiga, bertanya dengan nada ketus, apa keperluan saya datang ke obgyn? (lha, menurut ngana, mengapa saya repot-repot ke obgyn di masa pandemi kalau bukan kontrol kandungan, Bambang? Lagian, apa perut buncit saya masih terlihat kurang jelas kah?) Huh, kalo ingat kejadian itu kesalnya masih terasa ๐Ÿ˜.
 
Di kehamilan ketiga ini, hanya tiga kali saya ke dokter kandungan. Janji untuk bertemu obgyn beberapa hari sebelum HPL untuk memastikan posisi dan kondisi janin tidak terpenuhi karena ternyata si bayi sudah tidak sabar pengen buru-buru ketemu mama papa dan kakak-kakaknya. Sebenarnya saya bisa lebih cepat bertemu dokter (tiga minggu sebelum HPL), namun untuk ibu hamil dengan usia kandungan >35 minggu, wajib membawa surat hasil rapid tes. Saya gagal ke dokter karena hasil rapid tes saya reaktif (bidan menduga penyebabnya karena saya keseringan begadang) dan disarankan untuk datang tes kembali 3 minggu kemudian, namun belum sempat melakukan tes kembali, si bayi sudah lahir.
 
haii semua, perkenalkan, namaku Zafran! ๐Ÿ˜Š

Walau ada drama pintu puskesmas tertutup dan tidak ada petugas jaga saat kami datangi, Alhamdulillah si bayi lahir tanpa drama. Proses kelahirannya pun sangat mulus bagai jalan tol, ia bahkan nyaris lahir di kamar mandi saat saya buang air kecil.

Dan mungkin karena kami datangnya tengah malam, hal-hal yang saya takutkan di awal-awal kehamilan tidaklah terjadi. Sesaat setelah pintu puskesmas terbuka, saya langsung dibawa ke ruang bersalin dan dilakukan pemeriksaan tekanan darah, rapid tes dan beberapa tes lain, sebelum akhirnya si bayi lahir 30 menit kemudian.
 
Demikian cerita kehamilan saya di masa pandemi covid-19 yang sudah setahun terakhir melanda negara kita. Harapan saya, semoga ibu-ibu yang saat ini sedang hamil diberikan kemudahan dalam menjalani kehamilannya dan diberikan kelancaran saat hendak melahirkan bayinya. Semoga pandemi ini segera berakhir agar kita semua bisa beraktivitas normal seperti sebelum munculnya pandemi ini, amiiin ๐Ÿ™๐Ÿคฒ๐Ÿ˜‡

**

Posting Komentar

1 Komentar

  1. aamiin, semoga pandemi ini cepet berlalu dan bisa kembali ke kehidupan normal lagi.
    salam sehat untuk suami dan keluarga ya mbak :)

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus ๐Ÿ˜‰