Skip to main content

KEHILANGAN YANG MASIH MEMBEKAS DI HATI

kehilangan orang tercinta

Pernahkah kamu mengalami kehilangan sekaligus merasakan penyesalan disaat yang bersamaan? Saya pernah mengalaminya..

Tanggal 10 November 2012 sekitar pukul sepuluh pagi saya menerima telepon dari mama yang mengabarkan kepergian papa untuk selamanya. Ketika mendengar kabar duka itu, rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sejenak badan saya terasa kaku, lutut saya gemetar seolah tidak bisa menopang berat badan sendiri.

Berat banget rasanya menerima kabar itu, rasanya terlalu cepat papa meninggalkan kami. Hari itu keluarga kami kehilangan sosok pemimpin sekaligus panutan yang sangat kami cintai.

Saat itu saya masih di kantor jadi tidak bisa berada di samping papa saat beliau menghembuskan napas terakhir. Sampai saat ini penyesalan masih saja terus menghantui karena sebenarnya pada hari itu saya sudah berjanji pada papa untuk datang menjenguk beliau namun ternyata papa sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

Rasanya sedih banget, seandainya saya tahu kalau hari itu papa akan pergi tentu saya akan datang lebih cepat agar bisa memeluknya, seandainya saja hari itu saya ikut adik saya untuk pulang bersama-sama menengok papa, saya pasti bisa menyaksikan detik-detik kepergian beliau. Sayangnya semua itu tidak saya lakukan, hiks.. 

Kepergian papa memang tidak terjadi secara tiba-tiba. Satu tahun lebih papa sakit, membuat beliau tidak kuat lagi untuk bertahan. Selama setahun lebih papa menderita insomnia kronis. Kondisi beliau semakin parah karena selain menderita insomnia papa juga mengidap maag kronis. Selama setahun lebih papa menderita dan hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. 

Berbagai metode pengobatan baik medis maupun alternatif telah kami coba tapi hasilnya nihil. Papa akhirnya pasrah dan menyerah dengan penyakitnya. Papa meminta kami untuk ikhlas melepas kepergiannya.

Dengan berat hati kami sekeluarga menyiapkan diri untuk melepas kepergian papa. Kami mencoba menata hati agar kelak siap jika saatnya papa meninggalkan kami, namun ketika hal itu terjadi rasa kehilangan yang mendalam tetap saja kami rasakan.

Satu hal yang membuat kami ikhlas dengan kepergian papa, yaitu karena kami yakin bahwa kepergian beliau merupakan jalan terbaik dari Allah untuk mengakhiri rasa sakit yang selama ini dideritanya. Walau berat, insyaallah kami ikhlas. Kami sangat sayang papa tapi ternyata Allah lebih sayang beliau.


Meskipun papa sudah tidak di sini lagi namun sosok papa akan selalu hidup dalam hati dan pikiran saya,,

Di sini, hari ini, saya masih merasakan kehilangan yang sama seperti tiga tahun yang lalu. Sampai hari ini rasa kehilangan itu masih membekas...

Papa, saya kangen..


Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway "Kehilangan" elisa-blog.com - nfirmansyah.com



Comments

  1. Rasanya pasti menyesakkan sekali ya, Mbak. Kehilangan sekaligus penyesalan... :(
    Semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin...

    ReplyDelete
  2. walaupun sudah tidak ada, tapi akan selalu hidup di hati ya mba..
    semangat :)

    ReplyDelete
  3. Jadi kangen ma ayahku juga. Rasanya sesak saat mengingat beliau yang udah di alam sana.

    ReplyDelete
  4. Semoga bapaknya mbk.e bisa di terima disisi-Nya ya mbak..

    ReplyDelete
  5. Al Fatihah saya untuk papahnya ya mbak.

    ReplyDelete
  6. semoga dapat di terima di sisi yg maha kuasa amin

    ReplyDelete
  7. bapak saya juga baru satu bulan yang lalu dipanggil Alloh.

    sedih ya mak. tapi kata orang, makin disesali makin nggak ada habisnya. pada intinya semua sudah diatur oleh Alloh. semoga papa mak Ira diberi kelapangan dalam kubur.
    aaamiiin.


    ReplyDelete
  8. Allohumma firlahum warhamhum waafihi wa'fuanhum

    ReplyDelete
  9. Allohumma firlahum warhamhum waafihi wa'fuanhum

    ReplyDelete

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini :) :)

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus.

Popular posts from this blog

CARA MENGOBATI LEBAM/BENJOLAN PADA JIDAT ANAK KARENA KEJEDOT

Selamat tahun baru yah Gaes, semoga di tahun 2016 ini segalanya lebih baik dari tahun-tahun yang telah lalu, amin. Tidak terasa yah, hari ini kita sudah berada di hari ke empat di tahun yang baru ini. Setelah beberapa hari menikmati hari libur (libur nulis juga), hari ini saatnya kita untuk beraktivitas seperti biasanya.

Oh iya, postingan pertama saya di awal tahun ini akan dibuka dengan cerita sedih yang dialami oleh anak saya “Wahyu” beberapa waktu yang lalu.Pada hari kamis tanggal 24 desember 2015 yang lalu, Wahyu kejedot (bahasa Indonesia dari kejedot apa yah?) di kaki ranjang. Saat sedang berlari-lari dalam rumah, tanpa sengaja kakinya menabrak kaki Papanya hingga ia terlempar dan jidatnya terbentur kaki ranjang.
Wahyu yang awal mulanya tertawa ceria tiba-tiba berteriak dengan suara yang sangat keras disusul suara tangisnya yang pecah. Ternyata anakku tercinta terjatuh dan terdorong dengan keras hingga jidatnya menabrak kaki ranjang. Oh tidak..!

BERKAS YANG HARUS DISIAPKAN SAAT MENGAMBIL BPKB KENDARAAN DI LEASING SETELAH MASA KREDIT SELESAI

Blogpost kali ini mau ngomongin sesuatu yang berhubungan dengan kerjaan saya nih yaitu tentang berkas yang harus disiapkan saat mengambil BPKB di perusahaan pembiayaan setelah masa kredit selesai.
Ide ini muncul karena akhir-akhir ini banyak konsumen kantor saya yang telah lunas masa kreditnya namun belum mengetahui hal ini (walaupun syarat-syaratnya sudah ditempel di papan pengumuman kantor), akibatnya mereka harus bolak-balik pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang menjadi syarat pengambilan BPKB ini. Bagi yang rumahnya dekat sih tidak masalah, tapi bagi yang rumahnya jauh, pasti merepotkan dong? Tidak jarang mereka baru bisa datang kembali pada keesokan harinya.
Jadi menurut saya mungkin bagus juga jika saya menulisnya di blog ini, sekalian nambah postingan blog yang baru beberapa biji padahal udah pertengahan februari ^________^

PENGALAMAN MENGGUNAKAN KB IMPLANT/SUSUK TIGA TAHUN

Beberapa waktu belakangan ada satu celetukan dari teman-teman yang lumayan sering mampir ke telinga saya dan suami ketika melihat kami berjalan bersama Wahyu. Celetukannya kurang lebih seperti ini nih “ihhhh, Wahyu udah besar yah, kapan nih punya adik lagi?”
Mendapat pertanyaan seperti itu biasanya kami hanya tersenyum sambil menjawab “Bila Allah berkenan, Insyaallah secepatnya. Doakan semoga secepatnya kami mendapatkan adik Wahyu”.
Sebenarnya jawaban yang kami berikan itu adalah jawaban basa basi karena sejujurnya kami memang sengaja menunda kehadiran adik Wahyu. Saya sih sudah pengen banget punya anak lagi, tapi suami masih belum mau punya anak lagi. Menurutnya, Wahyu masih membutuhkan lebih banyak kasih sayang dari kami. Walau alasan itu terkesan “cemen” di mata saya, tapi akhirnya saya amini juga.