KETIKA BERCANDA TAK LAGI LUCU

by - Januari 06, 2016

adab bercanda
gambar kucing kami yang sudah almarhum, hiks :( 

Bercanda adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan agar hidup ini menjadi lebih berwarna dan ceria. Bercanda akan membuat kita lebih “waras” dalam menilai hidup ini. Bercanda dapat sedikit melonggarkan otot-otot yang kaku. Bercanda pun dapat mencairkan suasana yang beku. Itulah beberapa manfaat dari kata “bercanda” yang saya pahami dan rasakan.

Tapi apa jadinya jika bercandaan yang kita lontarkan ternyata malah garing, tidak lucu lagi bagi yang mendengarnya atau malah menyakiti orang lain? Haruskah kita tetap memaksa untuk melakukannya??

Bagi sebagian orang, mungkin mereka tidak menyadari bahwa candaan yang dikeluarkan itu terkadang sudah keterlaluan dan malah menjadi polusi bagi yang mendengarnya.

Seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu di grup yang saya ikuti. Awalnya grup itu dibentuk dengan tujuan yang sangat mulia yaitu untuk mempererat kembali tali silaturahmi saya dan teman-teman yang selama ini renggang. Mengakrabkan kembali teman-teman yang sudah sangat lama tidak bertemu karena banyak yang hidup dan tinggal di rantau dan tersebar di seluruh penjuru negeri.

Awal-awal bergabung, saya sangat enjoy dan menikmati obrolan santai dan diskusi dari teman-teman. Walaupun saat itu saya tidak ikut ngobrol di dalamnya namun kehangatan dari diskusi itu tetap bisa saya rasakan.

Hingga beberapa hari yang lalu muncul obrolan yang menurut saya cukup mengganggu dan membuat saya mengernyitkan dahi dan geleng-geleng kepala saat membacanya. Obrolan yang dilontarkan dengan nada bercanda itu menurut saya tak lagi lucu dan sudah sangat jauh keluar dari konteks *___*

Beberapa candaan yang menurut saya sudah tidak lucu dan membuat saya sangat tidak nyaman, diantaranya:

Mengolok-olok status single dari teman yang belum menikah.

Bagi kita yang sudah menikah ini (khususnya laki-laki) pantaskah kita mengolok-olok status teman kita yang belum menikah? Apa salah dari para wanita single itu hingga harus diolok sedemikian rupa? Tidakkah kalian berpikir bahwa jodoh itu adalah rahasiaNya?  Bukankah lebih bijak jika mendoakan mereka untuk segera bertemu jodohnya? bukan malah mengolok-oloknya walaupun itu diucapkan dengan (niat) bercanda. Tahukah apa yang dirasakan oleh teman yang diolok itu? Mungkin bibirnya tersenyum tapi di dalam hatinya kita tidak dapat menebak (terlebih saat itu kita tidak sedang bertatap muka).

Membahas bentuk fisk dan anggota tubuh

Tahun 2003 – 2015 adalah waktu yang cukup panjang. Tentunya fisik pun tak lagi sama seperti dulu. Kita tidak bisa mengharapkan kondisi fisik kita untuk tetap sama seperti 12 tahun silam. Melontarkan kalimat yang menyinggung fisik menurut saya bukanlah hal lucu yang bisa dimasukkan dalam candaan. Saya adalah orang yang mudah tersinggung jika orang lain membahas kekurangan fisik (saya punya pengalaman buruk dengan kondisi fisik yaitu sering di bully karena memiliki badan yang sangat kurus ketika sekolah dulu, hiks) karena itu saya pun tidak ingin melakukan hal yang sama kepada orang lain.

Laki-laki beristri menggoda wanita yang belum menikah dan si wanita balas menggoda

Nah inilah yang paling membuat saya tidak nyaman. Entah kenapa, ketika menyaksikan seorang laki-laki secara terbuka merayu wanita maka yang saya rasakan adalah malu dan tidak nyaman. Saya malu saat mendengar rayuan (gombal) itu. Terlebih jika yang saling menggoda itu adalah bukan muhrim, yang mana si pria merupakan seorang suami dari wanita lain. 

Tidakkah dia berpikir bahwa saat bercanda dengan wanita lain yang bukan muhrimnya akan ada seseorang yang terluka saat mengetahuinya? Sebagai seorang istri tentunya akan sangat menyakitkan bila mengetahui suami kita merayu dan menggoda wanita lain.

Dan sebagai wanita yang digoda, tidak sepantasnya juga kita balas menggoda pria yang bukan pasangan kita (lagi-lagi walau itu hanya bercanda). Jangan membuat status single yang melekat pada dirimu jadi murah di mata laki-laki. Jagalah harga dirimu wahai wanita single..

Apapun alasannya, menurut saya tidak dibenarkan seorang wanita single maupun yang sudah berkeluarga untuk membalas godaan laki-laki yang bukan pasangannya. Seandainya saja wanita itu berpikir dan membayangkan bagaimana jika kekasih atau suaminya yang melakukan hal itu pada wanita lain?

Melontarkan kata-kata vulgar

Demi apapun juga, menurut saya kata-kata vulgar itu tidak pantas dikeluarkan walaupun niatnya hanya bercanda. Apakah tidak ada lagi kata-kata yang lebih baik yang bisa dikatakan selain kata-kata kotor itu? Terlebih jika kata itu harus terlontar dari mulut orang yang “katanya” berpendidikan.

Intinya sih kita tidak dilarang untuk bercanda karena bercanda merupakan hal yang juga sangat dibutuhkan agar hidup kita seimbang. Hidup tidak selalu harus dijalani dengan serius, obrolan dan candaan ringan yang membuat kita tersenyum pasti sangat berarti.



sumber

Namun bercanda tentu memiliki batasan yang juga harus dipatuhi. Berikut beberapa adab bercanda yang saya kutip dari sini
  • Jangan bercanda dengan mengolok-olok Kitab suci
  • Jangan berbohong atau mengarang sebuah cerita untuk dijadikan bahan candaan
  • Candaan yang kita lontarkan jangan sampai menyakiti hati orang lain.
  • Candaan kita jangan sampai membuka aib orang lain
  • Jangan bercanda menggunakan kata-kata yang tidak pantas. Jika ingin bercanda, pilihlah kata yang pantas dan tidak melanggar norma.
  • Saat bercanda, lihatlah situasi dan kondisi dari lawan bercanda kita. Jangan memaksa untuk bercanda jika orang lain sedang tidak minat untuk mendengarkan candaan.
  • Jangan terlalu sering bercanda karena keseringan bercanda akan membuat orang susah percaya pada kita. Orang akan berpikir bahwa semua yang kita katakan hanyalah candaan semata.

Postingan ini terkesan emosional karena tulisan ini memang keluar dari lubuk hati saya yang terdalam yang sudah tidak tahan dengan segala bentuk candaan tidak mendidik. Semoga kita selalu dijauhkan dari bercandaan seperti itu yah gaes.

You May Also Like

93 komentar

  1. Amin ya robbal alamiinnn
    Hal itu emang udah sering bnyak juga saya temui mbk.
    Pastinya bercanda itu ada batasnya. Dan jangan berlebihan. Tak hanya itu. Sesuaikan sama kondisi dan situasinya hhhheee

    BalasHapus
  2. Mengolok-olok status single dari teman yang belum menikah. Iya, Mbak ini yg paling ngenes :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbak, ngenes banget :( dan mirisnya itu masih banyak dilakukan oleh teman-teman :(

      Hapus
  3. Laki2 mengolok2 wanita yg belum menikah? Itu tega banget :( dalam batas bercanda pun sudah keterlaluan. Huh... Jadi ikut emosi saya. Setuju, Mbak. Harus hati2 kalau bercanda. Jangan kelewatan apalagi menyakiti.. #ntms

    BalasHapus
    Balasan
    1. tega banget kan Mbak, makanya saya sampe posting di blog tentang masalah ini :(

      Hapus
  4. Setujuuu bgt hihii
    Aku juga ga nyaman klo ngebaca timelen goda godaan, pdhl aku ga kenal tp risih

    BalasHapus
    Balasan
    1. mereka yang goda-godaan tapi kita yang malu dan risih :(

      Hapus
  5. Itulah alasan saya meninggalkan group chat sekolah. I mean... common... kami bukan teman SMA lagi seperti dulu, sudah bermetamorfose menjadi ibu2 & bapak2 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, mereka gak sadar bahwa fisik manusia itu selalu berubah..

      Hapus
  6. Yupss.. setuju Mak..
    jangan sampai candaan kita justru menyakiti orang lain :)

    BalasHapus
  7. Setuju, mbak Ira. Saya juga sepakat poin2 yg mbak tulis di atas. Biasanya itu krn keseringan atau kelamaan becanda, kehabisan bahan, ujungnya jd ngebully. Sbnrnya kyk yg poin wanita single digoda itu, mnrt sy yg perempuan juga korban. Krn status single jdnya digoda2, mau marah biasanya malah dikatain kan (apalagi sm teman sepermainan), jd dibalas goda supaya yg laki2 malu. Makanya poin ngatain orang jomlo itu termasuk bahaya, selain bully juga rentan kegiatan rayu balas rayu. Khawatirnya klo beneran. Ih, naudzubillah...

    Mksh sharenya ya mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. takutnya jangan sampe dari goda-godaan sambil bercanda lama-lama serius dan saling jatuh cinta, Naudzubillah min dzalik, semoga kita dijauhkan dari hal seperti ini, amin..

      Hapus
    2. iyaa.. aamiin, naudzubillahi min dzalik..

      makanya bener tuh kata mbak Ira di postingan ini, kalau becanda jangan kelewatan. ya kan, mbak? ;)

      Hapus
  8. Aku juga ada grup kaya gitu. Kebangetan kalo becanda, yang paling bikin eneg kalo pake ngrayu. Ish, geregetan >,<

    BalasHapus
  9. bener banget. Setelah olok2 gak mutu itu pasti ngeles-nya begini, masa dibecandain gitu aja kok marah... Maksud saya kan baik...bla bla bla...

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang seperti itu jawaban mereka Mbak :(
      mungkin sudah gak ada stok kata-kata baik yang bisa dikeluarkan hingga harus mengeluarkan candaan gak mutu seperti itu..

      Hapus
  10. bener banget. Setelah olok2 gak mutu itu pasti ngeles-nya begini, masa dibecandain gitu aja kok marah... Maksud saya kan baik...bla bla bla...

    BalasHapus
  11. Saya suka banget dengan artikelnya, Mbak :) Saya sendiri sekarang lebih banyak berurusan dengan sepaham aja, ketimbang saya jadi ngebales mulut orang tanpa sadar :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih sudah menyukai artikel ini Mbak Nita, semoga bisa memberi manfaat, amin.. :)

      Hapus
  12. Iya mak
    Kadang standar guyon orang juga gak sama ya. Ada yg udh level kronis guyonnya masih bisa anteng ada yg level rendah udah baper. Jd lbh baik kita tetep santun dlm bercanda ya

    BalasHapus
  13. bener mak... apa lagi rayuan gombal..aku ga suka,apalagi udah punya pasangan masing2..

    BalasHapus
  14. Paling risih kalau lihat pria beristri merayu perempuan. Apa nggak ingat istrinya kali ya ? Nice sharing, mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama Mbak, saya ajah malu goda-godaan sama suami di tempat yang banyak orang melihat, ini yang bukan muhrim kok santai banget bercanda-bercanda di depan umum, hadeh.. :(

      Hapus
  15. Setuju bgt dg tulisannga mba, sy jg ga sk becandaan2 ky di atas..nambahin y mba..poligami jg bkn mslh yg bisa dijadikan candaan menurt sy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Mbak Kania, poligami juga termasuk yang gak pantas dijadikan candaan *jempol*

      Hapus
  16. Saya sangat tidak suka, jika ada yang bercanda mengenai fisik . Hiks hiks... Memang sih cuma bercandaan

    BalasHapus
  17. kejadian juga sih di teman saya belum nikah tergabung di group WA..jadi bahan namun lebih ke pemicu semangat biar cepat nikah aja sih :)

    BalasHapus
  18. Setuju, candaan itu ada levelnya, terlihat mudah tapi tidak gampang diterapkan dan candaan tidak bisa diterapkan sama kepada setiap orang. Dan untuk di ruang publik hal tersebut memang tidak pantas, semuanya bikin risih dan paling illfeel kalau becandanya jorok.. never agree!

    BalasHapus
    Balasan
    1. bercanda dengan kata-kata jorok?? kelaut ajeh sono..

      Hapus
  19. tetap santun dalam becanda, dan lihat sikon posisi kita. becanda memang menghibur, tapi klo kelewat batas bisa jadi petaka

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak kan Mbak, yang awal mulanya bercanda malah berakhir petaka? semoga kita tidak pernah mengalama hal seperti itu, amin..

      Hapus
  20. bercanda boleh saja. tp jangan maen fisik.

    BalasHapus
  21. Bercanda pun ada adapnya. harus extra hati hati saat bercanda karena lidah lebih tajam daripada pedang :-)

    BalasHapus
  22. wah, nggak banget deh kalau bercandanya kayak gitu. Susah memang kalau gaya bercanda membully udah jadi kebiasaan. Apalagi soal goda- menggoda. Enggak deh.. Semoga kita terhindar dari hal-hal seperti itu ya, mba' :)

    BalasHapus
  23. Saya hampir tidak mengikuti group apapun di medsos mbak Ira, dan jarang buka medsos juga sih..

    *Bercanda memang perlu tapi yang sopan ya mbak...apalagi laki-laki becandain wanita dan dibalas juga sama wanitanya...grrr..sangat tidak pantas! **eh kok saya jadi ikut emosi..? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga emosi Mbak Anjar, makanya bisa muncul tulisan ini karena saya udah gak tahan mendengar bercandaan gak mutu gitu..

      kalo masalah grup saya masih banyak bergabung di grup-grup yang sekiranya bisa memberi banyak manfaat, seperti grup Kumpulan Emak Blogger (KEB) misalnya :)
      Oh ya,Mbak Anjar sudah daftar di grup KEB? ayo daftar Mbak, banyak manfaat yang bisa didapat dari sana :)

      Hapus
  24. Di tipi tipi yang kyk gitu udah biasa ya mbak. Hampir tiap hari bahkan tiap saat, ada aja becandaan yang sebenernya nggak lucu, tapi tetep laku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, sangat miris memang,bercandaan gak mutu malah laku dipasaran, hiks :(

      Hapus
  25. Stuju dgmu Mbak

    jd inget temen2 DS yg reuni tp bercanda kaya jaman msh SD. Nggak berkembang bgt deh

    BalasHapus
  26. Saya setuju, Mbak ... 4 poin itu tidak pantas dijadikan bahan bercanda. Lha setelah lulus, pada nikah, sekarang kan bisa dibilang sudah "mulai tua". Lha kalo becndanya kayak begitu, mau mengajarkan apa pada anak2nya -_-

    BalasHapus
  27. melontarkan kata-kata vulgar, bercanda soal 'bagian tubuh tertutupi' itu dianggap biasa, berat mengingatkannya. Kalau dikantor cow mah biasa banget buat lelucon soal ini

    BalasHapus
  28. mengarang cerita untuk dijadikan bahan candaan, duuh ini neh yang kadang dijadikan bahan candaan :(

    BalasHapus
  29. Sy juga risih sama becandaan kayak yg ditulis Mak Ira. Status, fisik, ato apalah yg suka dijadiin olokan. Kemungkinan besar, mereka blm ato tdk mengalami/merasakan, ato rasa empati yg kurang dgn hal sensitif itu, maka dgn gampang hal itu jd objek olokan.

    BalasHapus
  30. Kadang ada juga maksud awalnya menyindir, tapi kalau yang disindir marah dia ngeles, "ih aku kan cuma bercanda" :(

    BalasHapus
  31. klo itu sih bukan masuk kategori bercanda lagi, udh masuk bullying

    BalasHapus
  32. Loh, kok, sama persis dengan yang ada di grup medsos saya ya? Gak ada yang beda, semua sama, dari mulai becandaan sampe rayu-rayuan gitu. Dan apa yang saya lakukan, mba? Saya leave dari grup! Banyak mudharatnya dari manfaatnya. Tali silaturahmi saya jalin secara personal saja, tidak di dalam grup.

    BalasHapus
  33. itu sekarang yg lagi laris di televisi mbak...
    saya sampe libur nonton tivi... acaranya gitu semua sih

    BalasHapus
  34. Terkadang terlalu banyak bercanda malah suka lupa kalau sudah kelewatan.

    BalasHapus
  35. Ini nih yang akku nggak suka mbak. Bercanda tidak pada tempatnya. Terkadang kalau kita marah, alasan mereka adalah, "ya gw kan orangnya emang suka bercanda gini. Gak usah dimasukkin ke hati".
    Heloooooo..... gak mikirin apa ya perasaan orang yang di bercandain itu..

    BalasHapus
  36. iya.mesti sensitif..
    menurut kita candaan itu biasa aja... tapi belum tentu yang nerima merasakan yang sama .... malah bikin tersinggung..

    BalasHapus
  37. Kalau menurutku tergantung sama siapa kita bercanda n situasinya lg gimana.. kalau aku sm temen yg deket banget, becandaan kelewat batas itu udah biasa, malah bikin kita semakin deket.. beda lg kalau sama temen biasa, ngomongin fisik atau jodoh itu sm dengan cari perkara, hehehe

    BalasHapus
  38. Setuju, terlebih lagi jika itu wanita. Wanita itu harus tahu batas antarapantas dan tidak pantas. Banyak topik candaan tapi kenapa harus yang dipilih yang tidak pantas. Norma kesopanan perlu kita pahami bukan hanya. Dipelajari saat pelajaran sosiologi saja.

    BalasHapus
  39. di tempat ku mbak, karena isinya bapak2 kabeh jadi bahasannya mengarah yg vulgar2, makanya jadi gak nyaman banget deh

    BalasHapus
  40. Kalau aku mah bercandanya sama kayak Meriska, tergantung sikon. Kalo sudah dekat banget dan biasanya sama kaum hawa suka nyerempet "topik hot". Hohoho...
    Suka terbawa suasana, Biasanya ada yang demen mancing2 gitu.
    Ikan kalles...

    BalasHapus
  41. setujuuuuuuuuuuuuuuuuh...
    tapi aku lost fokus sama foto pertama, aku pikir cucuth

    BalasHapus
  42. setujuuu ... becanda pun harus tau batas

    BalasHapus
  43. suka banget sama isinyaaa... nuhun sharing nya ☺

    BalasHapus
  44. Setuju, Mbak. Gak semua becandaan itu lucu. Tetapi, kalau ditegur, malah suka bikin alasan cuma becanda. Trus, malah kita yang dituding punya selera humor rendah. Kalau saat ini, saya lagi kesal banget dengan kasus yang 80 juta itu lho, Mbak. Sebel banget di WAG jadi banyak teman pria yang ngebecandain, bikin meme, dll. Gak pada mikir kalau di group juga ada perempuan. Dan gak mikir juga kayaknya kalau di antara mereka juga punya anak perempuan. Becandaannya jadi terkesan melecehkan perempuan

    BalasHapus
  45. Setuju sekali mba.. kadang2 yg becanda lupa tempat / sikon.. klo sdh bgtu sering jadi bibit perpecahan grup juga kan..

    BalasHapus
  46. Nabi muMuhamm juga suka becanda dan ada adabnya.

    Becanda keterlaluan akan membuat orang sakit hati.

    BalasHapus
  47. Saya sebenarnya gak suka diolok2 mengenai fisik, tapi karena sejak SD saya selalu berada di lingkar pertemanan yang kebanyakan cowok, jadinya udah kenyang di olok2 hahaha
    Dulunya sih saya balas, tapi sejak kerja, dan kerjanya di antara para lelaki, jadinya saya jadi bulan2an banget, adaaa aja yang dikoreksi para lelaki tapi ber mulut wanita wkwkwkwk

    Biasanya saya balikin lagi, "jangan salahkan saya dong, salahkan Allah yang ngasih sayafisik model begini" wkwkwkw

    Atau dulu ditanyain dan diolok2 lama pacaran gak nikah2, saya cuman bilang, "tenang saja, besok pasti nikah, sekarang udah kesorean KUA dah tutup"
    Gara2 mereka, saya jadi tahan banting dibecandain fisik atau status.
    Meskipun ya jujur kadang kesal juga :D

    Tapi, kalau becanda masalah wanita dan suami orang, saya biasanya langsung nyemprot.
    Jijay tralala deh.
    Zaman sekarang bahkan bukan hanya lelaki beristri yang suka menggoda.
    Wanita bersuami juga ganjen, wkwkwkwk

    semoga kita selalu termasuk dalam golongan wanita yang bisa menjaga mulut dan sikap :)

    BalasHapus
  48. Ini grup SMA kan ya Mbak? Biasanya grup alumni SMA sering gitu, WAG alumniku juga gitu, bercandanya undercontroll malah sering ngegass. Bikin WAG khusus perempuan di SMA ganti pada diem semua, hahhaa. Makanya aku langsung out pas dimasukkan ke WAG alumni sekolah SMP-SMA. Bawaannya nanti bercanda ngetrill lagi, wkkkk.

    BalasHapus
  49. Kalau yg poin pertama nih yg masih mencoba untuk berhati2 sekali. Kadang kalau ketemu teman yg belum nikah biasanya tanya, kapan nih nyebar undangan/kapan nikah dsb. Sebenarnya sama sekali nggak ada unsur becanda atau mengolok atau semacamnya. Benar2 pengin bisa dapat kabar gembira dari dia. Tapi terkadang secara nggak sadar bisa jadi perkataan tersebut menyakiti si teman. Jadi, sekarang saya berusaha mengerem diri untuk nggak menanyakan hal tersebut. Takutnya kalau dia baperan kan berabe.

    BalasHapus
  50. Bercanda itu memang perlu. Tapi aku pernah sakit hati karena bercandanya keterlaluan karena bahas statusku yang single dan belum menikah. Belum lagi bercanda dengan keterlaluan yang bahas kondisi fisik. Duh, sedih.

    BalasHapus
  51. Wajar kalo mbak Ira sampai emosi. Aku pun kadang sebel kalo baca grup WA suami. Mereka pernah dikasih tahu sama suami, soal bercanda dan merayu yang bukan muhrimnya. Tapi alasannya selalu dg kata2 nggak seru kalo grup serius. Sesekali bercanda gpp, gitu kata mereka yg suka bercanda melampaui batas

    BalasHapus
  52. saya paling nggak suka kalau ada yang membahas hal-hal yang vulgar. ini pernah terjadi di grup SMP saya, dan akhirnya saya tegur baik-baik.

    setelah itu, semua kembali berjalan normal. alhamdulillah. memang harus ditegur sih mbak..

    BalasHapus
  53. Itu juga salah satu alasanku keluar dari salah satu grup. Bercandaannya ndak asyik.

    BalasHapus
  54. Kalau diWAG ada Laki2 dan perempuan yg masing2 sudah menikah lalu saling goda itu yg ngeselin, apalagi becandanya kadang pakai kata2 vulgar, kalau di WAG ada yg begitu biasanya aku langsung left karena sebel banget bacanya, daripada jadi dosa ngomongin dibelakang mending kutinggalkan :)

    BalasHapus
  55. Mba Ira, setuju banget deh. Kalau becanda seperti itu, aku pun akan berasa nggak nyaman. Apalagi becanda yang saling menggoda.

    BalasHapus
  56. Memasuki usia di mana sebaiknya sudah bisa menikahi sy tau banget rasanya dibercandain soal status pernikahan, tp aku masih mending, ada sepuou yang sring dilontarkan kalimat candaan seperti ini dan beliau menangis. Nyesel Rasanya pengen kukasi selotip mulut yg suka nyindir status pernikahan yg msh single #uft jadi terbawa emosi

    BalasHapus
  57. Saya pun biasanya suka tidak nyaman jika adw becandaan seperti yang dicontohkan mba Ira, apalagi candaan laki-laki beristri terhadap perempuan single, nggak nyaman dan kayaknya nggak layak aja, makasih sharing-nya, semoga kita semua bisa terjaga dari becanda yang berlebihan

    BalasHapus
  58. Untuk punya skill bercanda atau melucu bener2 harus pinter ya. Kalau nggak mau belajar yaaa jatohnya bisa bikin orang lain gak nyaman :(

    BalasHapus
  59. Aku udah keluar banyak grup alumni sekolah yg ada masih sisa satu grup angkatan jurusan kuliah Karena orgnya ga banyak dan pada pekerja dan pns dan kalo nyetatus tuh lumayan baguslah isinya. Ga lucu2-an saru.

    BalasHapus
  60. Setuju sekali, Mbak. Memang WAG teman2 alumni ini sangat2 rawan apalagi buat yang pernah menjalin hubungan asmara ketika di masa sekolahnya dulu. Seharusnya memang bisa sama2 menjaga ya. Misal ada yang nggak bisa menjaga, ya yang lain nggak perlu menimpali. Diamka saja. Atau kalau bisa ya diingatkan. Sedih kalau terjadi perpecahan karena bercandaan yang menyebabkan sakit hati.

    BalasHapus
  61. nah, betul banget tuh mba...
    maaf, kadang orang suka keterlaluan bencadanya dan ga tahu porsi becanda. kadang mereka lupa utk jaga perasaan oranglain. semoga orang2 tersebut sadar apa yg menjadi candaannya kurang baik.

    BalasHapus
  62. Setuju banget deh dengan tulisannya. Aku paling gemes dengan becanda yang begini. Terutama yang body shaming dan becandaan para pria/wanita yang sudah berpasangan dengan pria/wanita lainnya yang sifatnya menggoda. Yang saya sebut terakhir, biasanya malah berujung pada 'selingkuh'. Walopun sebatas selingkuh hati. Banyak temen-temen yang pernah kena kasus begini. Awalnya malah dari FB. Aku sih, segimana gemes, untuk yang terakhir itu jarang banget aku tegur. Aku pikir mereka udah pada dewasa. Nah kalo body shaming, baru biasanya aku tegur. Nyebelin sih.

    BalasHapus
  63. bercanda boleh tapi ada batasnya ya mba. Apalagi body shaming suka bikin orang drop

    BalasHapus
  64. Wah iya saya pun sebel kalau ada grup kayak gitu jd serasa ikut dikumpulan yg ga ada gunanya...saya ga baca aja paling lgs clearchat klo dah numpuk

    BalasHapus
  65. Setuju mbak..becanda tetap harus pada tempatnya. Aku ngalamin dibecandain masalah status single dan itu ngga banget.

    BalasHapus
  66. Gara-gara bercanda imi sering tidak sadar sudah memzholimi seseorang ya. Membuat orang lain sakit hati, duh saya pun pasti pernah melakukannya

    BalasHapus
  67. Aku lagi mengalami hal serupa, Mba Ira. Di grup SMP-ku. Ya Allah, kadang jengah banget ngliatin bercandaan mereka. Awalnya grup dibentuk karena untuk memudahkan koordinasi reuni yang sebentar lagi diadakan.

    Yang Mba Ira sebutkan di atas, ada semua. Suatu kali saya pernah menegur karena udah kelewat batas. Masa jam 1 dini hari ada dua cewek cowok ngobrol aja berdua di grup. Kan nggak pantes banget, apalagi masing-masing udah berkeluarga. Saya yang saat itu sedang menyelesaikan DL tulisan akhirnya angkat suara.

    Sekarang saya nggak pernah gabung obrolan. Saya mute, kalau chat udah numpuk tinggal saya clear.

    BalasHapus
  68. Ini nih yang bikin aku "left" dari beberapa grup WA. Kadang orang bercanda kayak ga ada batasnya, padahal secara usia udah tua, udah ga pantas lagi bercanda yg ga penting2 gitu.

    BalasHapus
  69. Harus hati-hati dalam bercakap ya Mba, hehehe catet. AKu juga kadang masih suka ngajak becandaan temen, yang belum nikah tapi intinya sih biar disegerakan karena dia kan juga aslinya ngebet banget. Yang penting jangan diluar batas ya Mba.

    BalasHapus
  70. Iyaa, kak Ira.
    Melihat banyaknya WAG ku...aku bener-bener jengah kalo yang becandaan ga lucu gitu.

    Mau nasehatin, nanti pada pakeweuh.
    Yang aman, left group aja kali yaa...

    BalasHapus
  71. Aku sering mengalami nih yang kayak gini. Mentang-mentang aku senang bercanda, kadang ada yang mengajak canda dengan kelewat batas. Terutama masalah bentuk fisik. Yah namanya mamak-mamak ya dengan problem utama skala galaksi yaitu menurunkan berat badan. Suka syebel aja kalau akhirnya candaan dibawa ke arah itu.

    BalasHapus
  72. Poin2 tentang adab becanda di atas betul sekali. Tak jarang terjadi karena candaan yg menyakitkan hati fan menyinggung hrg diri kemudian menimbulkan dendam, àkhirnyaaa...terjadi hal yg tak diinginkan. Aduduuu...serem ya.

    BalasHapus
  73. Noted to myself juga ini Kak.
    kadang ndak sengaja kita bisa kebawa suasana olok-olok itu. tapi klo sadar mulai aneh, mending di stop saja daripada kebablasan.
    itu yg goda menggoda, isshh ndak risih apa ya? apalagi di forum gitu, ckckckk..

    BalasHapus
  74. SUKA SEKALI TULISAN INI! MONMAAP CAPSLOCK JEBOL XD aku setuju banget mb.. kadang becanda udah gak lucu lagi kalo menyangkut hal-hal diatas. yang bikin males juga tu, yang dulunya pernah mantan, sekarang masing-masing udah berkeluarga, masih aja diolok-olok. DIH MAUNYA APA SIH?! huhu esmosi aku. LEFT AJA DEH.

    BalasHapus
  75. Betul.mbak, aduh ini mewakili kata hatiku juga nih mbak Ira, saya pernah juga left dari grup alumni, sebab udah gak nyaman dengan cara berkomunikasinya. Becandaan yang aduh gak banget deh. Lebih baik left daripada jadi penyakit hati.

    BalasHapus
  76. iya sih becanda juga ada adabnya. Sering orang berdalih, "cuma bercanda." padahal konsekuensi dari bercanda itu sama dengan berbicara serius.

    BalasHapus
  77. Aku juga paling kesel klo udah ngomongin soal fisik sama omongan2 vulgar. Apalgi klo becandaan vulgar tuh kebanyakan obyeknya adalah perempuan. Kayak enggak ngehargain perempuan bgt.

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini 😊😊

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus 😉