Langsung ke konten utama

KARTINI MASA KINI

Beberapa jam lagi bulan April akan meninggalkan kita semua. Mumpung sekarang kita masih berada di bulan kelahiran RA. Kartini, gak papa dong yaa kita ngomongin beliau, hehehe ☺😊

pic source: cewekbanget.id

Kok tiba-tiba ngomongin Kartini? Jadi gini, Rumi yang bertugas menentukan tema bulan ini memilih Kartini Masa Kini sebagai trigger post buat kami, anggota Be Molulo lainnya. Itulah alasannya mengapa tulisan ini tayang menjelang detik-detik pergantian bulan ini (alasan lain mengapa tulisannya baru terbit sekarang adalah karena hingga menjelang DL saya belum juga dapat inspirasi untuk menulis, hiks 😥). #TjurhatAlert

Okee, lanjut...

Lalu seperti apakah sosok Kartini masa kini di mata saya? Hmmm seperti apa yaa? Agak bingung juga nih jawabnya karena menurut saya, saat ini sebagian besar wanita menganggap dirinya sendiri sebagai Kartini bagi orang-orang di sekitarnya atau minimal sosok ibunyalah yang menjadi Kartini itu .

Contohnya nih, bila ada yang bertanya pada saya dan keempat adik saya tentang siapa sosok Kartini bagi kami? Dengan mantap kami pasti akan menjawab mama-lah sosok Kartini itu. Bagi suami saya, mami-lah (ibu mertua saya) yang menjadi Kartini-nya. Pun dengan anak saya, jika ditanya siapa yang pantas menjadi sosok Kartini di matanya, saya yakin ia pasti menjawab sayalah sosok Kartini itu.

Tapi, ada yang membuat saya sedih sekaligus miris nih. Seiring canggihnya teknologi dan majunya pola pikir para Kartini modern ini entah mengapa ada hal yang membuat saya kurang sreg. Apakah gerangan? Adalah tak sedikit dari para Kartini ini menganggap dirinya selalu lebih baik dari Kartini lainnya.

Tak sedikit hal yang menjadi pertentangan di antara mereka sehingga menimbulkan perang pendapat. Dan karena saya adalah seorang ibu, maka yang saya maksudkan ini adalah perang pendapat di kalangan ibu-ibu yang biasa disebut sebagai mom war. Ini beberapa hal yang biasanya menjadi perang pendapat di kalangan ibu-ibu masa kini:

  • Melahirkan anak secara normal VS Melahirkan anak melalui operasi sesar
  • Working mom VS Stay at home mom
  • ASI VS Sufor
  • MPASI Homemade VS MPASI Pabrikan
  • Pokok sekali pakai VS Clody
  • Dst, dsb..

Masing-masing pihak mengklaim dirinya lebih baik dan paling benar. Orang lain yang tak sependapat atau berbeda dengan dirinya sudah pasti salah dan gak baik. Sedih yaa? Kok bisa para Kartini masa kini ini merasa dirinya lebih hebat dari wanita lainnya. Bukankah itu adalah bentuk kesombongan? 😓

Baca Juga: Saya Ibu Bekerja yang Tinggal Jauh dari Anak & Suami

Entah mengapa, saya merasa, seandainya saat ini RA Kartini masih hidup, beliau juga pasti akan merasa sedih melihat kaumnya menjadi suka berdebat seperti ini. Saya yakin, pada masa itu tujuan beliau memperjuangkan agar wanita mendapatkan hak belajar yang sama dengan pria, bukan untuk mendapatkan hasil yang seperti ini.

Padahal, seandainya saja pihak yang satu mau menerima perbedaan pendapat atau tindakan pihak lainnya, segalanya pasti terlihat lebih indah dan harmonis.

So, setelah di paragraf ketiga saya agak bingung menjawab seperti apakah sosok Kartini Masa Kini di mata saya, sekarang saya tak bingung lagi. Kini saya akan menjawabnya:

Bagi saya, Kartini Masa Kini yang sesungguhnya adalah wanita yang berpikiran terbuka, yang tidak kaku dalam memandang segala sesuatu dalam hidup ini. Wanita yang tidak memaksakan pendapatnya pada orang lain, yang menghargai pilihan wanita lainnya. Wanita rendah hati, yang tidak menganggap dirinya lebih baik dari wanita lain. Wanita yang menerima bahwa perbedaan itu adalah fitrah yang tak mungkin bisa dihapuskan.

Hmmm, mau tulis apa lagi yaa? Jadi bingung nih. Rasanya semua yang ada di pikiran saya sudah saya tuangkan dalam tulisan ini. Akhir kata, Selamat Hari Kartini bagi seluruh wanita Indonesia (walau udah telat banget), teruslah berkarya dan berkembang dalam segala hal 😘😘


*Note: tulisan ini murni adalah opini saya pribadi, tak ada maksud sedikitpun untuk menyinggung pihak lain ✌

Komentar

  1. Selamat Hari Kartini juga Kak Ira. Seperti Kak Ira, bagi saya Kartini adalah Mama.

    BalasHapus
  2. Iya say... Kadang debat sudah seperti biasa. Merasa opininya terbaik. Hem... Semoga kita menjadi yang menerima perbedaan. Bahaya juga kslau sedunia sama semua. Mari hargai perbedaan. Tulisan di detik2 deadline ngeri e...

    BalasHapus
  3. Paling suka dengan kutipan pada paragraf kedua terakhir.. Sosok seperti itu memang spesial ya mba di zaman seperti ini.. Semoga saya dan semua wanita di Indoensia bisa menjadi spesial seperti itu.. :))

    BalasHapus
  4. sepakat kak sama "perempuan yang berfikiran terbuka" :)

    BalasHapus
  5. maaf telat.
    ternyata hari kartini sudah jauh lewat.

    BalasHapus
  6. Soal kartini...yang selalu masih membuatku bingung adalah..knp kartini identik dengan pke baju tradisional ya mba..? Klo di Jawa gitu, klo di Bau2..samakah,?

    BalasHapus
  7. sudah banyak perbedaan ya antara kartini dulu dan kartini sekarang.
    semoga tetap berpikiran positif dan semakin berpikiran terbuka :)

    selamat hari Kartini Mbak!

    BalasHapus
  8. Mom war masa kini itu memang agak agak ajaib ya. Apa aja jadi perdebatan. Padahal yakin deh semangat kartini dulu bukan seperti itu

    Semoga kita bisa meneladani kebaikan dan semangat kartini. Jadi perempuan yang tak henti belajar

    BalasHapus
  9. Sepakat, Mbak Ira. Kartini masa kini itu yang berpikiran terbuka, enggak sombong dan merasa benar sendiri.
    Hemm.. semoga kita dijauhkan dari sifat-sifat buruk itu, ya :)

    BalasHapus
  10. tiap wanita adalah Kartini ya Kak, utamanya bagi anaknya sendiri.
    semangaat :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini 😊😊

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus 😉

Postingan populer dari blog ini

CARA MENGOBATI LEBAM/BENJOLAN PADA JIDAT ANAK KARENA KEJEDOT

Selamat tahun baru yah Gaes, semoga di tahun 2016 ini segalanya lebih baik dari tahun-tahun yang telah lalu, amin. Tidak terasa yah, hari ini kita sudah berada di hari ke empat di tahun yang baru ini. Setelah beberapa hari menikmati hari libur (libur nulis juga), hari ini saatnya kita untuk beraktivitas seperti biasanya.

Oh iya, postingan pertama saya di awal tahun ini akan dibuka dengan cerita sedih yang dialami oleh anak saya “Wahyu” beberapa waktu yang lalu.Pada hari kamis tanggal 24 desember 2015 yang lalu, Wahyu kejedot (bahasa Indonesia dari kejedot apa yah?) di kaki ranjang. Saat sedang berlari-lari dalam rumah, tanpa sengaja kakinya menabrak kaki Papanya hingga ia terlempar dan jidatnya terbentur kaki ranjang.
Wahyu yang awal mulanya tertawa ceria tiba-tiba berteriak dengan suara yang sangat keras disusul suara tangisnya yang pecah. Ternyata anakku tercinta terjatuh dan terdorong dengan keras hingga jidatnya menabrak kaki ranjang. Oh tidak..!


BERKAS YANG HARUS DISIAPKAN SAAT MENGAMBIL BPKB KENDARAAN DI LEASING SETELAH MASA KREDIT SELESAI

Blogpost kali ini mau ngomongin sesuatu yang berhubungan dengan kerjaan saya nih yaitu tentang berkas yang harus disiapkan saat mengambil BPKB di perusahaan pembiayaan setelah masa kredit selesai.
Ide ini muncul karena akhir-akhir ini banyak konsumen kantor saya yang telah lunas masa kreditnya namun belum mengetahui hal ini (walaupun syarat-syaratnya sudah ditempel di papan pengumuman kantor), akibatnya mereka harus bolak-balik pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang menjadi syarat pengambilan BPKB ini. Bagi yang rumahnya dekat sih tidak masalah, tapi bagi yang rumahnya jauh, pasti merepotkan dong? Tidak jarang mereka baru bisa datang kembali pada keesokan harinya.
Jadi menurut saya mungkin bagus juga jika saya menulisnya di blog ini, sekalian nambah postingan blog yang baru beberapa biji padahal udah pertengahan februari ^________^

PENGALAMAN MENGGUNAKAN KB IMPLANT/SUSUK TIGA TAHUN

Beberapa waktu belakangan ada satu celetukan dari teman-teman yang lumayan sering mampir ke telinga saya dan suami ketika melihat kami berjalan bersama Wahyu. Celetukannya kurang lebih seperti ini nih “ihhhh, Wahyu udah besar yah, kapan nih punya adik lagi?”
Mendapat pertanyaan seperti itu biasanya kami hanya tersenyum sambil menjawab “Bila Allah berkenan, Insyaallah secepatnya. Doakan semoga secepatnya kami mendapatkan adik Wahyu”.
Sebenarnya jawaban yang kami berikan itu adalah jawaban basa basi karena sejujurnya kami memang sengaja menunda kehadiran adik Wahyu. Saya sih sudah pengen banget punya anak lagi, tapi suami masih belum mau punya anak lagi. Menurutnya, Wahyu masih membutuhkan lebih banyak kasih sayang dari kami. Walau alasan itu terkesan “cemen” di mata saya, tapi akhirnya saya amini juga.