Langsung ke konten utama

ANTARA SAYA & TANGGAL MERAH

Libur tlah tiba,,
Libur tlah tiba,,
Hatiku gembira..

Potongan syair lagu Tasya Kamila di atas bukan hanya mewakili perasaan bahagia anak-anak sekolah yang sebentar lagi akan memasuki waktu liburan namun potongan syair lagu tersebut juga sangat mewakili perasaan saya jika mendapati tanggal merah di kalender seperti yang akan terjadi besok.

Rasanya senang banget karena saya akan menikmati hari libur yang lumayan lama. Horray...!!! saya bisa menikmati liburan dari tanggal 24 Desember besok sampai tanggal 27 Desember nanti. Bagi saya dan keluarga libur empat hari itu sudah sangat istimewa.


sumber: peristiwa-id.com

Sebagai seorang ibu sekaligus karyawati yang masih aktif bekerja, ada satu hal yang sangat saya nantikan setiap bulannya selain tanggal gajian. Tau nggak apa itu? Hal yang saya nantikan itu tidak lain dan tidak bukan adalah tanggal merah.

Bukan tanpa alasan mengapa saya sangat menyukai tanggal merah. Alasannya adalah karena keberadaan dari tanggal merah itu memenuhi keinginan saya untuk bisa segera bertemu dan memeluk anak dan #ehem suami tercinta dengan durasi yang lebih lama dari biasanya.

Saya dan suami menjalani long distance marriage jadi kami baru bisa bertemu pada akhir pekan saja. Kondisi jalan yang rusak parah dan kondisi ombak yang kadang tidak bersahabat, membuat kami memutuskan untuk tinggal terpisah. Nah disinilah pentingnya tanggal merah itu.

Keberadaan tanggal merah sangat membantu kami untuk segera bertemu, terlebih jika posisi tanggal merahnya seperti tanggal 24 nanti. Walaupun pada hari sabtu saya seharusnya masih masuk kantor (kantor kami tetap buka di hari sabtu) namun pada hari itu saya mengajukan cuti (hak cutiku tersisa 1 hari lagi di tahun ini dan akan saya ambil pada tanggal 26 nanti).

Seandainya saja jumlah cutiku masih banyak, saya pasti akan mengajukan cuti sejak tanggal 21 yang lalu, agar masa liburnya lebih lama tapi apa daya ternyata cutiku hanya tersisa satu hari lagi. Biarlah, cuti yang hanya tersisa satu hari ini pun sudah sangat membantu kami menikmati waktu liburan yang bisa dibilang lama. Alhamdulillah, setidaknya saya punya waktu empat hari menikmati kebersamaan dengan keluarga.

Dulu, sebelum punya anak saya tidak pernah memperdulikan keberadaan tanggal merah dan tidak pernah memeriksa kalender untuk melihat keberadaan tanggal merah. Saya baru akan mengetahuinya satu hari sebelum tanggal merah tersebut namun semuanya berubah setelah kelahiran Wahyu.

Kelahiran Wahyu membuat saya memiliki kebiasaan baru yaitu melihat-lihat kalender. Saat menerima kalender baru pada awal tahun, saya akan langsung menandai semua tanggal merah yang ada di tahun itu dan sudah merencanakan waktu cuti yang akan saya ambil ketika tanggal merahnya "terjepit". Satu hal yang pasti, saya tidak akan pernah melewatkan keberadaan tanggal merah, hehe..

Tanggal merah menjadi penolong bagi saya untuk sesegera mungkin bertemu anak dan suami dengan waktu temu yang lebih lama dari biasanya. Tanggal merah membantu kami menciptakan quality time. Jika biasanya saya bertemu keluarga hanya satu hari dan dua malam dalam satu minggu, maka dengan adanya tanggal merah maka durasi temu kami bisa lebih lama dari itu.

Terimakasih tanggal merah, sering-seringlah hadir di kalender agar saya juga bisa sering-sering bertemu keluarga.

Selamat menikmati liburan buat teman-teman ^____^

sumber: hatchbuck.com

Komentar

  1. Kalau bagiku mah tanggal semua sama mbak, hehe..maklum kerjanya di rumah :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau bagi saya tanggal merah sangat berarti Mbak :)
      Wah, senangnya bisa bekerja di rumah.. :)

      Hapus
  2. Tetangga saya juga ada yg seperti itu, kayaknya kalau libur panjang gitu happy banget :)

    Kalau saya semua hari sama, lha wong tinggalnya seatap sama keluarga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. senangnya bisa selalu bersama keluarga :)

      Hapus
  3. Saya pengen libur tanggal merah, tp jatah liburnya cuma minggu. Ya sudahlah

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo memang seperti itu, dinikmati dan disyukuri ajah Mbak, insyaallah ada hikmah yang bisa dipetik :)

      Hapus
  4. Semua tanggal sama aja. Hehehe. Yang beda adalah saat si kecil diajak ayahnya, maka waktu saya bisa lebih puanjang. :D

    BalasHapus
  5. happy holiday ya mbak, liburan 24-27 nanti juga sangat sesuatu banget buat saya dan keluarga mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. happy holidays juga Mbak Ev :)
      nasib ibu bekerja memang seperti kita ini yah Mbak, selalu mendambakan datangnya tanggal merah :)

      Hapus
  6. nah...kalau bagi saya tanggal merah, justru melelahkan. tidak ada hari libur, adanya cuman shift libur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk tenaga medis biasanya memang gak ada liburnya yah Dok, sepertinya gak mengenal adanya tanggal merah..
      tetap semangat melayani orang-orang yang membutuhkan tenaga & keahlian dokter, pahala yang menjadi balasannya :)

      Hapus
  7. anak memang bisa mengubah kebiasaan ya mbak. btw, kalender 2016nya udah ditandain semua dong ya?

    BalasHapus
  8. Saya justru gak ada kalender mbak, kadang suka kaget siih kalau ada teman ngomongin libur tanggal merah hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau saya, kalender adalah salah satu barang yang saya dicari di akhir tahun ini adalah kalender Mbak, tujuannya hanya satu yaitu melihat tanggal merah, hehehe :D

      Hapus
  9. kayanya saya extreme banget ya mbak, orang lain liburan nah saya malah kerja sendiri kayak ga nemu warna merah gitu ya dikalender saya.hihi
    selamaat liburan yah...

    BalasHapus
  10. Semangat liburan mba, lumayan nih, kamis jumat sabtu minggu libur panjang, kalau minggu depan pas tahun baruan juga libur gak mba hari kamis nya..

    BalasHapus
  11. Dulu, saat jd fulltimer sy juga suka tengok tanggal merah. Skrg freelancer agak santai, kadang lupa tanggal hehehe! Happy holiday ya, Mak :D

    BalasHapus
  12. walaupun tiap hari berkumpul dengan keluarga, tanggal merah yang berurutan juga menyenangkan buat keluarga kecil kami, karena bisa mudik. bertemu ibu/bapak dan saudara2 yang sebagian besar tinggal di yogyakarta. berarti sama2 mengharap tanggal merah dong mak

    BalasHapus
  13. Pernah merasakannya Mbak Ira (sama namanya), dulu waktu masih LDR sama suami dan saya masih kerja. Pokoknya yg ditunggu itu ya tanggal merah, biar bisa kumpul sama suami dan anak.
    Selamat berlibur ya Mbak.

    BalasHapus
  14. Waah,,ga jauh beda. Excited kalo ketemu tgl merah, ya karna bisa quality time utk diri & keluarga ^_^

    BalasHapus
  15. Haha. Tanggal merah di tahun 2016 gimana nih, mbak :3
    Ternyata, ini yang dipikirkan seorang Ibu kalau nerima tanggalan ya. Jadi tahu kenapa mama suka ngecekin tanggal pas awal tahun :v

    BalasHapus
  16. Iya mbak, kalau libur, anak2 pasti seneng, sama kayak bintang, anak saya. kalau saya atau bundanya libur, raut mukanya seneng banget setelah tau....

    BalasHapus
  17. Sejak memutuskan kembali bekerja, tanggal merah juga jadi salah satu hal yg paaaliiiing ditunggu2 Kak. Biar bs main lama2 ma si Kesayangan. Walau hari pertama masuk kerja lagi bakalan berat dilewati, apalagi biasanya Faraz klo sy beberapa hari libur jd ndk mau lepas klo mau ditinggal kerja lagi, hikss #dilemanyaworkingmon :(

    BalasHapus
  18. Kalo skrg msh suka liat tanggal merah?

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini 😊😊

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus 😉

Postingan populer dari blog ini

CARA MENGOBATI LEBAM/BENJOLAN PADA JIDAT ANAK KARENA KEJEDOT

Selamat tahun baru yah Gaes, semoga di tahun 2016 ini segalanya lebih baik dari tahun-tahun yang telah lalu, amin. Tidak terasa yah, hari ini kita sudah berada di hari ke empat di tahun yang baru ini. Setelah beberapa hari menikmati hari libur (libur nulis juga), hari ini saatnya kita untuk beraktivitas seperti biasanya.

Oh iya, postingan pertama saya di awal tahun ini akan dibuka dengan cerita sedih yang dialami oleh anak saya “Wahyu” beberapa waktu yang lalu.Pada hari kamis tanggal 24 desember 2015 yang lalu, Wahyu kejedot (bahasa Indonesia dari kejedot apa yah?) di kaki ranjang. Saat sedang berlari-lari dalam rumah, tanpa sengaja kakinya menabrak kaki Papanya hingga ia terlempar dan jidatnya terbentur kaki ranjang.
Wahyu yang awal mulanya tertawa ceria tiba-tiba berteriak dengan suara yang sangat keras disusul suara tangisnya yang pecah. Ternyata anakku tercinta terjatuh dan terdorong dengan keras hingga jidatnya menabrak kaki ranjang. Oh tidak..!


BERKAS YANG HARUS DISIAPKAN SAAT MENGAMBIL BPKB KENDARAAN DI LEASING SETELAH MASA KREDIT SELESAI

Blogpost kali ini mau ngomongin sesuatu yang berhubungan dengan kerjaan saya nih yaitu tentang berkas yang harus disiapkan saat mengambil BPKB di perusahaan pembiayaan setelah masa kredit selesai.
Ide ini muncul karena akhir-akhir ini banyak konsumen kantor saya yang telah lunas masa kreditnya namun belum mengetahui hal ini (walaupun syarat-syaratnya sudah ditempel di papan pengumuman kantor), akibatnya mereka harus bolak-balik pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang menjadi syarat pengambilan BPKB ini. Bagi yang rumahnya dekat sih tidak masalah, tapi bagi yang rumahnya jauh, pasti merepotkan dong? Tidak jarang mereka baru bisa datang kembali pada keesokan harinya.
Jadi menurut saya mungkin bagus juga jika saya menulisnya di blog ini, sekalian nambah postingan blog yang baru beberapa biji padahal udah pertengahan februari ^________^

PENGALAMAN MENGGUNAKAN KB IMPLANT/SUSUK TIGA TAHUN

Beberapa waktu belakangan ada satu celetukan dari teman-teman yang lumayan sering mampir ke telinga saya dan suami ketika melihat kami berjalan bersama Wahyu. Celetukannya kurang lebih seperti ini nih “ihhhh, Wahyu udah besar yah, kapan nih punya adik lagi?”
Mendapat pertanyaan seperti itu biasanya kami hanya tersenyum sambil menjawab “Bila Allah berkenan, Insyaallah secepatnya. Doakan semoga secepatnya kami mendapatkan adik Wahyu”.
Sebenarnya jawaban yang kami berikan itu adalah jawaban basa basi karena sejujurnya kami memang sengaja menunda kehadiran adik Wahyu. Saya sih sudah pengen banget punya anak lagi, tapi suami masih belum mau punya anak lagi. Menurutnya, Wahyu masih membutuhkan lebih banyak kasih sayang dari kami. Walau alasan itu terkesan “cemen” di mata saya, tapi akhirnya saya amini juga.