Langsung ke konten utama

YUK JADI PEMILIH CERDAS SAAT PILKADA NANTI!

pic source: pixabay.com

Hai gaes, apa kabarmu hari ini? Harapan saya semoga selalu baik-baik saja, amin. Oh iya, tidak terasa yah sekarang kita sudah berada di hari kamis dan seperti beberapa kamis yang lalu, hari ini saya kembali hadir dengan artikel kolaborasi.

Tulisan saya kali ini terisnpirasi dari artikelnya Mba Adriana Dian yang berjudul "The Big No-No Dalam Sebuah Pemilihan Umum". Hmmm, ngomonging PILKADA nih? Hehe ^_____^

Seperti yang dituliskan oleh Mba Dian di dalam artikelnya bahwa saat ini media sosial sedang diramaikan dengan keriuhan pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta. Sejak diumumkan bahwa ada tiga pasang calon yang akan maju bersaing memperebutkan posisi orang nomor satu di Jakarta, sejak itu juga para pendukung dari masing-masing calon sudah saling berlomba dan tak ragu menulis/menyebarkan keunggulan calon DKI 1 pilihannya di media sosial masing-masing.

Bagaimana tanggapan saya melihat fenomena ini? Tanggapan saya sih biasa saja karena saya beranggapan bahwa semua ini adalah hal yang wajar terjadi. Di mata saya, apa yang dilakukan oleh para pendukung calon gubernur DKI Jakarta itu bukanlah sesuatu yang istimewa. Menurut saya, masing-masing orang berhak menentukan pilihan atas apapun yang disukainya asal tidak merugikan orang lain, termasuk di dalamnya adalah memilih kepala daerah.

selfie bareng cagub/cawagub DKI Jakarta. Mereka kompak yah?

Dan tak jauh berbeda dengan warga DKI, kami warga Sulawesi Tenggara juga tak kalah heboh loh. Pasalnya pada tahun 2017 nanti setidaknya ada 7 daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang akan ikut merayakan pesta demokrasi lima tahunan itu. Salah satu daerah di Sultra yang juga melaksanakan pilkada adalah Kabupaten Buton Tengah (Buteng). Sebagai pemegang ktp Buteng, tentu saya tidak ingin melewatkan kesempatan ini dong. Saya bertekad untuk menggunakan hak pilih saya.

Sejak pertama kali mendapatkan hak untuk menentukan pilihan dalam pemilu (baik pemilihan presiden, DPR, DPRD, Gubernur hingga Bupati) tidak sekalipun saya alpa dan menyia-nyiakan suara saya. Pada hari pemungutan suara saya selalu antusias datang ke TPS.

Dan hal-hal apa sajakah yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih dan menentukan pemimpin ideal (ala saya)? Hmm, kalo saya biasanya percaya pada feeling sih, kalo feeling saya mengatakan baik yah saya akan memilihnya, tentu setelah mengetahui visi dan misinya sang calon.

Masih menurut saya, tak salah bila kita menetapkan kriteria yang tinggi terhadap calon pemimpin kita. Toh bila ia terpilih, pemimpin itulah yang akan menjadi panutan kita selama lima tahun ke depan, jadi tidak salah dong bila kita menginginkan yang terbaik? Karena itulah kita harus menjadi pemilih cerdas.

Lalu bagaimana cara agar kita bisa menjadi pemilih cerdas yang mencetak pemimpin berkualitas? Lagi-lagi menurut saya, setidaknya kita harus melakukan 4 hal di bawah ini:

* Kenali calon pemimpin yang akan dipilih
Hal ini bisa dilakukan jauh-jauh hari sebelum tanggal pemungutan suara. Ada beberapa cara yang bisa kita pilih untuk mengenali sang calon pemimpin. Salah satu caranya adalah dengan melihat rekam jejaknya melalui sosial media miliknya (bila calon pemimpin punya sosmed), bisa juga dengan mendengar/membaca visi dan misi yang ia sampaikan selama masa kampanye atau yang tertulis di baliho. Pilihlah pimpinan yang memiliki visi dan misi yang mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan dan keluarganya.

Baca Juga: 5 Hal yang Saya Lakukan Untuk Menciptakan rekam Jejak Positif di media Sosial

* Memilih calon kepala daerah sesuai hati nurani
Setelah mencari tahu dan mengenali calon pemimpin, yang kita lakukan kemudian adalah bertanya pada hati nurani; manakah yang baik untuk dipilih? Menurut saya, pilihan yang sesuai hati nurani adalah pilihan yang terbaik (walau pilihan hati nurani setiap orang berbeda). Dan karena alasan ini, maka semua orang berhak memilih sesuai keinginannya dan tak boleh dipaksa.

*Gunakan hak pilih kita dan jangan golput
Seperti yang saya katakan sebelumnya, sejak pertama kali diberi hak memilih, tidak sekalipun saya menyia-nyiakan suara saya atau istilah kerennya golput=golongan putih (tidak menggunakan hak pilih). Menurut saya, satu suara yang kita berikan saat pemilu dapat menentukan masa depan bangsa kita lima tahun ke depan.

*Hargai pilihan orang lain
Seperti yang saya katakan pada poin nomor dua, masing-masing orang tentu memiliki kriteria sendiri dalam memilih pemimpin. Hati nurani setiap orang berbeda-beda, olehnya itu sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menghargai pilihan masing-masing. Pemimpin yang menurut saya baik, belum tentu baik di mata orang lain, begitupun sebaliknya.

Yuk kita jadi pemilih cerdas saat pilkada nanti dengan melakukan empat hal di atas. Ayo sukseskan pelaksanaan pesta demokrasi pada tahun 2017 dengan cara saling menghargai. Siapapun pilihan kita, semoga pemimpin yang terpilih adalah yang terbaik. Amin..

Oh iya, jangan lupa ikutan GA-ku yah gaes, temanya dijamin gampang banget dan semua orang pasti pernah mengalaminya deh. Untuk info lengkapnya bisa baca di sini

Komentar

  1. Setuju mak, jangan sampai golput suarakan hakmu untuk pemimpin di daerah tempat tinggalmu, semoga pilkada DKI aman dan lancar ya Mak

    BalasHapus
  2. Poin terakhir, hargai pilihan orang lain, tampaknya sering terlupa ya Mba? :(

    BalasHapus
  3. Jadi pilih siapa nih buat Jakarta? Aku pilih yg ganteng aja...

    BalasHapus
  4. ehm bukan lagi penduduk jakarta sekarang hahahaa

    BalasHapus
  5. ah , malah aku pusing yang sliweran di TL tentang pilkada saja , belum di TV, aku mahsukanya yang ringan2 saja, pilih gubernur cukup di bilik dan cukup diri sendiri yg tahu

    BalasHapus
  6. nambahin satu mbk ira, istikharah lah sblum memilih, hehe,

    BalasHapus
  7. Aaaaaa, demam pilkada. Kadang masalah beginian bisa sampe bertengkar lho Mbak IR :D

    BalasHapus
  8. Pilihanmu menentukan 5 tahun ke depan. hhee
    Jadi perlu kepoin masing2 calon... xixixixii

    BalasHapus
  9. Yg penting memang menghargai pilihan masing2 sih ya, mba..

    BalasHapus
  10. Mbak Ira, gimana pilkada di Sultra 'panas' juga gak?

    BalasHapus
  11. iya benerrrr... eh.. nanti kan pilkada serentak ya bulan februari itu? semoga banyak yang menjadi pemilih cerdas.. karena serentak kan jadi biar nggak rusuh.

    BalasHapus
  12. semoga pemilihannya hanya satu putaran saja ya, kalau sekali putaran kan nggak menghabiskan banyak biaya :D

    BalasHapus
  13. yah kita mah enjoy2 saja ... srmoga aja sukses dan memilih bukan karena paksaan oknum serangan pajar ...wkwkwk ...salam kenal

    BalasHapus
  14. Saya nggak pernah golput sejak punya hak pilih, mbak Ira. Semoga pemimpin kita kedepan adalah yang terbaik sehingga bisa membawa masyarakat lebih sejahtera ya mbak, aamiin :)

    BalasHapus
  15. Mengenali calon tidak selalu mudah juga ya Mbak.
    Bagaimana mencari tahu hal2 yang sebenar2nya terjadi, bukan yang telah "dikemas", dilebih2kan, itu tantangan tersendiri juga

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini 😊😊

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus 😉

Postingan populer dari blog ini

CARA MENGOBATI LEBAM/BENJOLAN PADA JIDAT ANAK KARENA KEJEDOT

Selamat tahun baru yah Gaes, semoga di tahun 2016 ini segalanya lebih baik dari tahun-tahun yang telah lalu, amin. Tidak terasa yah, hari ini kita sudah berada di hari ke empat di tahun yang baru ini. Setelah beberapa hari menikmati hari libur (libur nulis juga), hari ini saatnya kita untuk beraktivitas seperti biasanya.

Oh iya, postingan pertama saya di awal tahun ini akan dibuka dengan cerita sedih yang dialami oleh anak saya “Wahyu” beberapa waktu yang lalu.Pada hari kamis tanggal 24 desember 2015 yang lalu, Wahyu kejedot (bahasa Indonesia dari kejedot apa yah?) di kaki ranjang. Saat sedang berlari-lari dalam rumah, tanpa sengaja kakinya menabrak kaki Papanya hingga ia terlempar dan jidatnya terbentur kaki ranjang.
Wahyu yang awal mulanya tertawa ceria tiba-tiba berteriak dengan suara yang sangat keras disusul suara tangisnya yang pecah. Ternyata anakku tercinta terjatuh dan terdorong dengan keras hingga jidatnya menabrak kaki ranjang. Oh tidak..!


BERKAS YANG HARUS DISIAPKAN SAAT MENGAMBIL BPKB KENDARAAN DI LEASING SETELAH MASA KREDIT SELESAI

Blogpost kali ini mau ngomongin sesuatu yang berhubungan dengan kerjaan saya nih yaitu tentang berkas yang harus disiapkan saat mengambil BPKB di perusahaan pembiayaan setelah masa kredit selesai.
Ide ini muncul karena akhir-akhir ini banyak konsumen kantor saya yang telah lunas masa kreditnya namun belum mengetahui hal ini (walaupun syarat-syaratnya sudah ditempel di papan pengumuman kantor), akibatnya mereka harus bolak-balik pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang menjadi syarat pengambilan BPKB ini. Bagi yang rumahnya dekat sih tidak masalah, tapi bagi yang rumahnya jauh, pasti merepotkan dong? Tidak jarang mereka baru bisa datang kembali pada keesokan harinya.
Jadi menurut saya mungkin bagus juga jika saya menulisnya di blog ini, sekalian nambah postingan blog yang baru beberapa biji padahal udah pertengahan februari ^________^

PENGALAMAN MENGGUNAKAN KB IMPLANT/SUSUK TIGA TAHUN

Beberapa waktu belakangan ada satu celetukan dari teman-teman yang lumayan sering mampir ke telinga saya dan suami ketika melihat kami berjalan bersama Wahyu. Celetukannya kurang lebih seperti ini nih “ihhhh, Wahyu udah besar yah, kapan nih punya adik lagi?”
Mendapat pertanyaan seperti itu biasanya kami hanya tersenyum sambil menjawab “Bila Allah berkenan, Insyaallah secepatnya. Doakan semoga secepatnya kami mendapatkan adik Wahyu”.
Sebenarnya jawaban yang kami berikan itu adalah jawaban basa basi karena sejujurnya kami memang sengaja menunda kehadiran adik Wahyu. Saya sih sudah pengen banget punya anak lagi, tapi suami masih belum mau punya anak lagi. Menurutnya, Wahyu masih membutuhkan lebih banyak kasih sayang dari kami. Walau alasan itu terkesan “cemen” di mata saya, tapi akhirnya saya amini juga.