2/23/2017

LAKI-LAKI PECEMBURU ITU EGOIS & IDENTIK DENGAN PESELINGKUH. BENARKAH?

pic source: pixabay.com

Bagaimana rasanya dicemburuin pasangan? Senang banget! Bagaimana rasanya diprotektifin pasangan? Bangga dong! Itu artinya pasangan sayang dan cinta banget sama saya dan tidak mau kehilangan saya. Rasa cemburu dan over protektifnya menandakan bahwa hanya saya seorang yang ada di hatinya.

Itulah yang saya pikirkan bertahun lalu. Tapi pikiran itu seketika berubah saat saya mendapati kenyataan pahit bahwa pasangan saya yang pecemburu dan suka protektifin saya itu ternyata suka bermain mata di belakang saya, nah loh!

Yup, sejak saat itu, pandangan saya tentang laki-laki pecemburu dan over protektif mulai berubah. Saya mulai ragu dan berpikir bahwa lelaki pecemburu itu belum tentu benar-benar setia dan sayang sama pasangannya.

Lantas apakah lelaki pecemburu itu sudah pasti seorang peselingkuh? Hmmm, saya sih tidak memukul rata yaaa, hanya saja pengalaman yang saya rasakan juga pengalaman serupa yang dialami oleh beberapa teman dekat saya, mau tak mau membuat saya bertanya "benarkah laki-laki pecemburu itu egois dan identik dengan peselingkuh?".

Cukup berat yaa tema tulisan kali ini. Ngomongin hal yang satu ini berarti ngomongin mantan nih. Tapi tak apalah yah sesekali ngomongin mantan, berhubung ide yang muncul di kepala hanya yang ini, jadilah ini yang dieksekusi hehehe J J

Kebetulan banget belum lama ini saya dicurhatin sama teman (sebut saja Bunga). Bunga curhat bahwa dia baru saja mutusin pacarnya yang pecemburu karena ketahuan selingkuh. Pacar Bunga yang terkenal sangat cemburuan itu kedapatan jalan sama wanita lain di mall yang pada akhirnya diakui sebagai pacar barunya. Bunga yang percaya bahwa pacarnya sangat sayang padanya seketika shock setelah mendengar pengakuan sang kekasih hati.

Rasa shock-nya disebabkan karena ketidakpercayaannya. Kok bisa yah sang pacar yang cemburuan dan kelihatan sangat penyayang dan setia itu ternyata berkhianat di belakangnya? Bahkan sampai ia curhat pada saya pun terlihat jelas bila ia belum percaya terhadap apa yang menimpanya *peluk Bunga*


pic source: pixabay.com

Mendengar cerita Bunga, jadilah saya teringat dengan insiden buruk serupa yang saya alami beberapa tahun silam. Saat duduk di bangku kuliah semester lima, saya menjalin hubungan dengan seorang pria yang kelihatannya penyayang dan setia. Sejak pertama kami pacaran, ia memang sering menampakkan rasa cemburunya.

Awalnya saya komplain terhadap rasa cemburunya yang besar itu. Saya merasa khawatir dengan rasa cemburunya. Kekhawatiran saya muncul karena pernah melihat contoh pecemburu yang suka selingkuh. Adalah kekasih sahabat saya (teman satu kost) yang cemburuan banget ternyata suka selingkuh di belakang sahabat saya.

Saya katakan padanya "biasanya yang suka cemburu itu juga suka selingkuh loh. Cemburu dijadikan kedok untuk menutupi ketidaksetiaannya" tapi dengan tegas ia menolak "jangan samakan saya dengan laki-laki lain, saya cemburu karena saya benar-benar cinta sama kamu", begitu jawabnya ketika saya bercerita tentang kisah sahabat saya yang diselingkuhi pacarnya.

Jawabannya berhasil membuat saya percaya. Tak ingin dicap omdo (baca:omong doang), ia benar-benar berusaha membuktikan kata-katanya bahwa ia tidak sama dengan mantan pacar sahabat saya. Maka pelan-pelan saya mulai merasa nyaman dengan rasa cemburu yang sering ia perlihatkan, bahkan seiring berjalannya waktu saya mulai bangga dicemburuin. Seperti yang saya katakan di awal, saya merasa bangga dicemburui karena itu pertanda bahwa ia cinta dan takut kehilangan saya.

Hampir setahun saya nyaman-nyaman saja dengan hubungan kami. Saya baru mulai sadar bahwa hubungan kami tidak sehat saat sahabat-sahabat saya sudah resah dengan hubungan percintaan kami. Menurut sahabat saya, sejak berhubungan dengan sang mantan, saya jadi berubah.

Saya yang sebelumnya tak pernah ketinggalan bila ada acara ngumpul bareng sahabat, sejak berpacaran, saya menjadi orang yang paling sulit diajak ngumpul. Prioritas utama saya berubah, yang selalu saya pikirkan hanyalah perasaan sang mantan. Bagaimana cara agar ia tidak cemburu, bagaimana cara agar ia tetap nyaman hingga saya lupa membahagiakan diri sendiri.

Setiap kali diajak jalan oleh sahabat, selalu saja ada alasan yang saya kemukakan untuk menolak ajakan mereka. Saya katakan pada mereka bahwa saya tidak bisa ikut ngumpul karena dilarang mantan. Mendengar alasan saya, sahabat mengigatkan bahwa hubungan seperti itu sangat tidak sehat. Bukannya mendengar apa kata sahabat, saya malah cuek dan tetap membela mantan. 

Tak hanya merenggangkan hubungan saya dengan sahabat-sahabat saya, sifat cemburunya juga membuat saya mengubah nama teman-teman pria saya di daftar kontak handphone menjadi nama wanita. Ia meminta agar saya jangan pernah berhubungan/berteman dengan laki-laki lain (kecuali yang ia kenal baik). Alasannya ia takut saya tertarik pada mereka atau para lelaki itu yang tertarik pada saya. 

Bila kami sedang jalan bareng, dan di saat yang sama secara kebetulan saya bertemu teman pria (teman sekolah atau teman kampus), ia akan melarang saya untuk ngobrol lama-lama dan bisa ditebak setelahnya ia akan bertanya hingga sedetai-detailnya tentang siapa pria yang tadi ngobrol dengan saya.

Ada satu yang paling saya ingat yaitu saat ia menyamar menjadi pria yang sudah lama naksir saya (sebut saja Budi). Ceritanya, ia mengganti namanya di handphone saya menjadi Budi dan kemudian meng-sms saya dengan mengatakan bahwa akan datang melamar ke rumah orang tua saya di kampung (padahal saat itu kami sedang bersama-sama loh).

Saat menerima sms itu jelas saya kaget dong. Melihat saya kaget, ia pura-pura bertanya "sms dari siapa? kok kamu pucat gitu?" tanpa curiga saya langsung menyuruhnya untuk membaca sendiri sms itu.

Dengan raut wajah datar, ia kembali bertanya "jadi bagaimana tanggapan kamu?" yaa saya jawab dong "sekarang kan kita pacaran, jadi gak mungkin lah saya terima lamarannya". Dan tau apa yang terjadi kemudian?? Dia langsung tertawa. Tanpa merasa bersalah, dia berkata "sebenarnya yang sms itu bukan Budi tapi saya". "Saya sengaja mengganti nama saya di hape kamu menjadi Budi karena ingin menguji seberapa besar rasa cintamu pada saya" lanjutnya sambil tergelak.

Ckckckck, gila banget yaaa! -______-. Dan dengan bodohnya lugunya saya mau memaklumi tindakannya itu.  Kalau diingat-ingat, saya bahkan malu pada diri sendiri, kok bisa yaa saya sampe sebodoh selugu itu. Memang benar kata Agnez Mo, cinta itu kadang-kadang tak ada logika.

Hingga akhirnya saya mendapatinya berselingkuh dengan gadis lain. Sakit? Jelas. Merasa tertipu? Huhuhu iyaaa. Hubungan yang kami jalin selama dua tahun akhirnya kandas karena hadirnya orang ketiga (duh, maafkan bahasanya yang menyerupai bahasa infotainment, hihihihi). Lelaki yang pecemburu itu, yang sebelumnya menolak disamakan dengan mantan kekasih sahabat saya pada akhirnya membuktikan bahwa ia sama saja.




Satu hal yang saya syukuri dari kejadian itu adalah, para sahabat yang sebelumnya menentang hubungan kami, tidak ikut pergi meninggalkan saya. Tingkiu banget gaeeees :* :*

Berbekal pengalaman yang saya rasakan, saya tak ingin lagi mengulang kisah yang sama. Bila ada pria yang pedekate dan menunjukkan tanda-tanda cemburuan, maka saya akan buru-buru menolak. Masih trauma euy!

Lantas apakah cemburu memang tak boleh dirasakan dan diperlihatkan oleh pasangan? Kalo menurut saya, cemburu boleh kok tapi kadarnya harus dijaga dan jangan berlebihan yaa, karena sesuatu yang berlebih-lebihan itu tidak bagus.

Lagi pula, masih menurut saya, rasa cinta tidak harus diperlihatkan dengan rasa cemburu loh. Membebaskan pasangan melakukan apapun yang ia mau (hal-hal positif) juga merupakan salah satu tanda mencintai pasangan.

Saya percaya, ketika kita mencintai seseorang maka kita akan membebaskan dia untuk menjadi dirinya sendiri dengan tidak mengekangnya melakukan apapun yang ia sukai selama tidak melanggar komitmen yang telah disepakati.

Yang saya pahami, ketika manusia memutuskan untuk saling mencintai, maka mereka haruslah saling membebaskan, bukan saling mengekang dengan rasa cemburu. Bagi saya, ketika memutuskan mencintai pasangan saya, maka saya akan senantiasa menjaga diri dari beragam godaan di luar sana. Tak perlulah dicemburui karena saya akan selalu ingat bahwa diri saya sudah ada yang punya.

Hal itu juga yang saya minta pada suami. Saya katakan padanya, bila ia mencintai saya, maka ia harus percaya pada saya. Saya meminta kepadanya agar tidak menunjukkan rasa cemburu yang berlebihan karena saya tidak ingin rasa cemburunya mengekang dan membatasi ruang gerak saya yang akhirnya membuat saya stress dan tidak enjoy menjalani hubungan kami. Suami sempat bertanya, mengapa saya seperti itu? Maka saya ceritakanlah kisah saya juga sahabat yang pernah mengalami hal serupa. Alhamdulillah suami saya mengerti.

Setelah membaca cerita di atas, teman-teman mungkin akan bertanya "apakah saya tidak pernah merasa cemburu?" maka jawabannya adalah PERNAH DONG! Sebagai manusia biasa, saya pasti pernah merasa cemburu, tapi ketika rasa cemburu menyerang, maka saya akan langsung bertanya dan meminta penjelasan pada suami. Suami pun akan melakukan hal yang sama, bila ia merasa ada sesuatu yang kurang ia sukai terkait hubungan saya dengan seseorang, maka ia akan langsung ngomong.

Sudah sepantasnya bila kitalah yang harus mengendalikan rasa cemburu dan bukan sebaliknya. Saya pernah merasakan betapa tidak enaknya menjadi pihak yang selalu dicemburuin juga dibatasi ruang geraknya. Itulah sebabnya saya tidak akan melakukan hal yang sama pada orang yang saya cintai.

Kembali kepada teman saya; Bunga. Sebagai seseorang yang pernah merasakan apa yang kamu rasakan, pesan saya hanya satu: yang sabar yaa Jeng, jangan pernah jera mencintai, kelak akan datang lelaki yang benar-benar mencintaimu apa adanya, yang tidak akan membatasi ruang gerakmu dan membebaskanmu melakukan apa saja. Yakin dan percaya masih banyak laki-laki baik dan setia di luar sana *peluk*



10 comments:

  1. iya betul mba kata org yg cemburuan dan protektif justru menyembunyikan bhw ia itu bersalah hahha kesel pgn nabok jdinya ke mantan mba hahahah *ehhh baper :p

    ReplyDelete
  2. Pecemburu dengan over protective lengkap deh mba :), semoga Bunga dapat yang terbaik , yakin saja bahwa cinta sejati itu ada. Jangan cari yang sempurna tetapi saling menyempurnakan.

    ReplyDelete
  3. Makin keren visual blog x

    Tulisannya juga makin yahuy...
    :)

    ReplyDelete
  4. Iya sih ya. Katanya gitu. Tapi faktanya aku ngalamin gitu Mbak Ira. Cemburu berat eh jebul selingkuh hikss...

    ReplyDelete
  5. Wuihhh panjang dan dalam kak :) sy dulu pernah jadi tipe pencemburu berat kak, bahkan ke sahabat2nya suamiku dlu pas masih pacaran, alhamdulillah makin kesni sy diajar spy malin woles,toh cuma teman. Skrg cemburunya jadi lebih sehat ;)

    ReplyDelete
  6. jangan sampai deh. soalnya saya punya hubungan khusus ya cuma dengan suami saya.

    tapi pernah dong cemburu. ceritanya baca WA suami dengan teman-teman SMAnya. kok rasanya akrab banget sih?!

    kesal. saya cuma berdoa, "Ya Alloh tolong selesaikan ini."

    eh ternyata...acara WA itu berakhir gara-gara HP suami ga sengaja kecuci oleh saya dan itu HP wafat!

    sampe kaget sayan lho...kok gitu cara-Nya mengabulkan doa saya ya?

    pelajarannya, kalau berdoa yang komplit. hehe...

    ReplyDelete
  7. katanya juga gitu..tiba2 suami cemhuru..sayang ..n mesra tak biasa... bisa tanda selingkuh sih... untuk menutupi rasa bersalah...#katanyaloh..

    ReplyDelete
  8. Hmmm masuk akal memang.. tp memang saat2 seperti itu sahabat itu luar biasa ya.. ga akan ninggalin kita saat kita susah

    ReplyDelete
  9. Baca ini aku jd inget pengalaman yg sama dengan ex suami pertama dulu. Sharing aja nih mba, dia juga over cemburu dan over protected. Awalnya sana aku malah bangga. Tp lama2 jd sebel. Pernah tuh kita lg naik motor, aku dibonceng di belajang, dan pas sampe, dia marah2 ga jelas krn menurut dia, aku sdg ngeliatin cowo di pinggir jalan oas lg jalan. Dia ngeliat dr kaca spion. Aku cuma bengong. Cowo yg mana aja aku ga tau mba. Tp krn males ribut, aku cm minta maaf dan angkat sedikit ego nya.

    Lain waktu, pas aku pindah kuliah ke Malaysia, dan ex suami ttp di Aceh, dia ngirimin puluhan sms yg isinya cuma marah2 gila. Hanya krn aku ga jwb sms nya. Lah gimana mau jwb mba, dia tau aku sedang ujian saat itu. Wajarlah hp aku matiin. Trs ujung2nya nuduh kalo aku sedang ama co lain di kampus. Aku msh sabar banget waktu itu.

    Tp yg bikin kesabaranku abis, las dia mulai memaki aku cewe jalang krn ga angkat2 telp dia pdhl aku sdg bikin skripsi. Di situ aku meledak, ga trima ama kata2 kasar dia. Dan nth balas dendam ato beneran, tp malamnya ada sms nyasar k aku, dari dia, tp kata2nya sedang ngerayu cewe lain. Hahahaha, miris mba.. Aku di situ sadar, ini bukan tipe suami yg aku mau. Suami yg baik bukan yg menghina istrinya trs dia malah ngerayu ce lain, di saat istrinya sdg jauh pula. Suami yg baik ga bakal menuduh yg bukan2 tanpa bukti. Ga bakal bikin istrinya nangis tiap malam krn mikirin tuduhan2 dia.

    Malam itu juga aku tlp dia, dan aku minta cerai. Dia bilang dia ngerayu krn dia kesepian ga ada istri di samping. Aku g peduli ama semua alasannya. Aku mantap minta cerai, dan alhamdulillah prosesnya lancar. Hidupku tenaaaaang banget setelahnya. Ga ada lg co gila yg over cemburu ga jelas tp trnyata dianya sendiri tukang selingkuh :p

    ReplyDelete
  10. Waduhh ngeri juga ya mbak kalau baru pacaran sudah over protektif dan pencemburu gitu, sampai hubungan dengan teman juga dibatasi, bicara dengan teman cowok nggak boleh. Capek dehhh..

    Dan semua itu ternyata hanya kedok untuk menutupi perbuatannya yang sebenarnya suka selingkuh, duh sangat menyebalkan yaa..

    Syukurlah akhirnya mbak Ira bisa move on dan mendapat suami yang lebih baik dari si mantan itu :)

    Cemburu boleh saja karena itu menunjukkan rasa cinta kita pada pasangan tapi yang sewajarnya saja, jangan sampai justru membelenggu dan membuat tidak nyaman :)

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini :) :)

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus.