Langsung ke konten utama

TENTANG CITA-CITA DI MASA KECIL

Hai gaes, hari ini udah tanggal 20 Februari yaa, itu artinya saya, Irly dan Diah akan kembali hadir dalam Sultra Blogger Talk. Yeay! Alhamdulillah, sekarang adalah bulan kedua kami menjalani kolaborasi ini. Doakan semoga kolaborasi ini selalu berjalan lancar yaaa ^______^

Lalu apakah tema yang kami usung pada bulan kedua ini? Yup, sesuai judul, temanya adalah cita-cita masa kecil.

pic source: pixabay.com

Baca Tulisan Irly & Diah pada link di bawah ini:


Belum lama ini, seperti biasanya, di sore hari setelah mandi saya dan Wahyu bercengkerama dan menikmati waktu bersama. Saat sedang seru-serunya menikmati kebersamaan kami, tiba-tiba ia mengajukan sebuah pertanyaan yang menurut saya lumayan lucu dan cukup membuat saya bingung. Pertanyaan Wahyu adalah "Kalo besar nanti, cita-cita mama mau jadi apa?".

Duh. Anakku sayang, tau gak sih, kalo mama itu udah tua besar. Buktinya udah lahirin kamu loh. Maka saya menjawab diplomatis "mama mau jadi mama terbaik untuk Wahyu". Mendengar jawaban saya, Wahyu terlihat bingung. Maka ia pun menjawab "bukan itu Mama, kata Ibu Guru, cita-cita itu jadi dokter, jadi polisi, jadi tentara, jadi pilot. Jadi kalau sudah besar nanti, mama mau jadi apa?"

Nah lo, bingung kan? Saya apalagi, Hehehe. Maka sambil tersenyum, saya berusaha ngeles *duh, jujur amat Bu LOL*. Saya pun balik mengajukan pertanyaan pada Wahyu. "Kalo Wahyu sudah besar nanti mau jadi apa?"

"kalo sudah besar nanti Wahyu mau jadi pilot" jawabnya. Mendengar jawabannya, maka saya pun menemukan jawaban untuk pertanyaannya "kalo gitu cita-cita mama adalah mau jadi mamanya pilot".

pak pilotnya gagah yaaa, hihihi :)

Percakapan kami sore itu seketika membuat saya flashback ke masa lalu, masa saat usia saya sama dengan Wahyu. Saat itu, ketika ditanya mau jadi apa saat dewasa nanti, maka jawaban saya akan selalu sama yaitu ingin jadi "dokter".

Entah mengapa, untuk hal yang berkaitan dengan cita-cita ini, saya dan Wahyu punya kesamaan yaitu cita-cita kami tidak mudah berubah (walau untuk Wahyu masih terlalu dini sih bila saya katakan cita-citanya tidak berubah, secara usianya juga baru 5 tahun, hihihihi). Sejak kecil, setiap kali ditanya apa cita-citanya, maka saya akan menjawab dokter, begitu pun Wahyu, sejak ia mengenal kata cita-cita pada usia tiga tahun, jawabannya sejak dulu hingga saat ini adalah pilot (walau pernah berubah jadi tentara sih, tapi ia tetap mau jadi tentara yang bawa pesawat yang artinya yaa tetap pilot juga, hihihi).

Iya. Sejak kecil, setiap kali pertanyaan "apa cita-citamu saat dewasa nanti?" diajukan pada saya, maka jawaban saya selalu sama yaitu ingin jadi dokter. Cita-cita itu terus saya pelihara sejak kecil hingga duduk di kelas dua SMA.

Cita-cita saya baru berubah ketika saya duduk di bangku kelas tiga SMA. Saat itu saya tidak minat lagi untuk menjadi dokter, cita-cita saya berubah 180 derajat. Di kelas 3 SMA, saya bercita-cita ingin menjadi pegawai bank saja. Apa pasal? Kok bisa berubah?

Hmmm, alasannya cukup menyedihkan sih. Yup, persoalan klasik, apalagi kalau bukan dana pendidikan yang tidak cukup, hiks :(. Bila saya memaksakan diri untuk tetap kuliah kedokteran, maka pendidikan empat orang adik saya yang akan dikorbankan. Sudah menjadi rahasia umum bila biaya yang dikeluarkan untuk kuliah di fakultas kedokteran lebih besar dari fakultas lain.

Baca Juga: Siapkan Dana Pendidikan Sejak Dini Untuk Masa Depan Gemilang si Buah Hati

Jadi agar saya dan adik-adik tetap bisa mencicipi bangku kuliah, maka saya harus mengubah cita-cita. Toh menjadi dokter bukanlah satu-satunya pekerjaan yang bisa membuat saya terlihat keren. Maka sejak saat itu saya mulai mencari cita-cita lain, yang mana pada akhirnya pilihan saya jatuh pada pegawai bank. Di mata saya, menjadi seorang bankir itu keren banget dan yang pasti punya banyak uang LOL.

Maka setelah tamat SMA, saya putuskan untuk kuliah di fakultas ekonomi. Saya menjalani hari-hari kuliah dengan bahagia dan berharap setelah tamat kuliah saya bisa diterima bekerja pada sebuah bank. Tapi rupanya takdir berkehendak lain, karena setelah meraih gelar sarjana ekonomi, tak ada satu bank pun yang mau menerima saya sebagai pegawainya. Hiks :(

Entah mengapa, setiap kali memasukkan lamaran pada sebuah bank yang membuka lowongan kerja, saya tidak pernah mendapatkan panggilan untuk tes. Berkas saya tak pernah lolos. Saya heran, kok bisa gitu yaaa? Bahkan sampai saat ini saya tidak tahu apa alasannya. Satu hal yang pasti, saya jelas tidak memenuhi kualifikasi, hehehehe.

Lalu, apa profesi saya saat ini? Selain sebagai seorang istri dan ibu, saat ini saya bekerja di sebuah perusahaan pembiayaan nasional sebagai staf administrasi. Sebuah profesi yang jauh banget dari cita-cita masa kecil yaa? Hihihihi, tapi saya tetap bersyukur dengan semuanya.

Satu hal yang menjadi tekad saya yaitu saya tidak ingin Wahyu mengalami apa yang saya alami dulu. Wahyu harus mencapai cita-citanya. Yang harus kami lakukan sebagai orang tuanya adalah mendukung apapun yang dicita-citakannya, memberi fasilitas terbaik agar nantinya ia bisa mencapai apa yang dicita-citakannya tanpa kendala, khususnya terkait dana pendidikan.

Sehat terus yaa Nak, jangan takut dan jangan berhenti bermimpi karena mama dan papa akan selalu mendukung apapun mimpimu.



So, itulah sekelumit cerita tentang cita-cita Wahyu yang ingin menjadi seorang pilot juga cita-cita masa kecil saya yang tidak tercapai. Kalau kamu, apakah cita-cita masa kecilmu juga berhasil kamu wujudkan gaes? Ataukah cita-cita masa kecil tersebut berubah setelah dewasa? Yuk bagi ceritamu di kolom komentar ^_______^

Komentar

  1. Semangat. :) Semoga cita2 wahyu bisa terwujud

    BalasHapus
  2. Betul, Mbak. Ynag penting, para orang tua berusaha semaksimal mungkin. Whaever will be, wll be

    BalasHapus
  3. wah sama kek saya mba dulu pengen bgt jadi dokter ilmuwan *opo iki* hahaha lalu skerang pgn jdi teteh bella wkwkwk *dilemparin baskom*
    semoga tercapai abang Wahyu aamiin

    BalasHapus
  4. iihh ternyata kita sama dii Kak, cita-citanya ingin jadi dokter tawwa tapi sama2 berakhir status admin #eh :D

    moga cita-cita Wahyu jadi pilot kesampean yaahh, Aaamiin :)

    BalasHapus
  5. Cita2nya semoga tercapai ya mas Wahyu :)
    Dulu aku pinginnya jadi perawat Mbak. karanganku tentang nolong orang mulu haha. SMP berubah jd insinyur pertanian. padahal sukaku seni. Tapi gitulah, hidup kita nggak tahu ya :)

    BalasHapus
  6. cita cita saya dulu jadi power ranger mbak ^^

    tapi emang kadang realita berbeda dengan cita-cita kita ya, pengennya jadi dokter eee pas udah gede jadinya blogger

    BalasHapus
  7. Dulu kuliah di universitas apa mak? Saya jg ekonomi lho, jangan2 sekampus?

    BalasHapus
  8. Semoga cita-citanya terkabul yaa. KAlau aku drai dulu pengen jadi jurnalis mba. HIhihi. Alhamdulillah terkabul :)

    BalasHapus
  9. Meng-aamiin-kan cita-cita Wahyu dan Mama Wahyu.. bingung? Yang cita-cita jadi mamanya pilot kune kak.. :D

    Btw, itu si miminho bikin salfok sekali kak. LOL

    BalasHapus
  10. Hihihi jawabaannnya sukaaaa aku mb ir pas ditanya wahyu, keliatan dikau adalah ibu yang smart ahahhaha
    Hmmm sama dunk aku juga nih klo ngelamar bank dari dulu ga pernah tembus, mentok di tes wawancara abis itu yudadababay

    BalasHapus
  11. Ah, jawaban Mama Wahyu buat saya keinget Umi di rumah hahaha beliau memang segamblang itu sih menyatakan cinta(?) tapi bikin rindu huhuhu. Saya harus bisa kaya Mama Wahyu nih kalau punya anak, ya.. mirip2 dikit deh. Hahaha.

    Anyway, saya juga setipe sama Mama Wahyu dan Wahyu: cita2 saya ngga gampang berubah. Dokter! Baru deh sekitar kelas 3 pertengahan, saya ganti karena ngerasa lebih keren dan saya banget: Ahli Gizi. Sekarang masih melanjutkan kuliah dengan bahagia sih hehehe.

    Ceritanya Mama Wahyu buat saya inget kalau: Tuhan memang lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Jadi Dia kadang2 akan kasih yang kita perlukan, bukan kita inginkan. Yet, it might be the best choice for us.

    Pertama kali main ke sini nih. Bolehkan dipanggilnya Mama Wahyu? Hehehe. Salam kenal :)

    BalasHapus
  12. Samaan mbaa, dlu waktu kecil sy juga bercita2 pengen jadi dokter hahaa

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini 😊😊

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus 😉

Postingan populer dari blog ini

CARA MENGOBATI LEBAM/BENJOLAN PADA JIDAT ANAK KARENA KEJEDOT

Selamat tahun baru yah Gaes, semoga di tahun 2016 ini segalanya lebih baik dari tahun-tahun yang telah lalu, amin. Tidak terasa yah, hari ini kita sudah berada di hari ke empat di tahun yang baru ini. Setelah beberapa hari menikmati hari libur (libur nulis juga), hari ini saatnya kita untuk beraktivitas seperti biasanya.

Oh iya, postingan pertama saya di awal tahun ini akan dibuka dengan cerita sedih yang dialami oleh anak saya “Wahyu” beberapa waktu yang lalu.Pada hari kamis tanggal 24 desember 2015 yang lalu, Wahyu kejedot (bahasa Indonesia dari kejedot apa yah?) di kaki ranjang. Saat sedang berlari-lari dalam rumah, tanpa sengaja kakinya menabrak kaki Papanya hingga ia terlempar dan jidatnya terbentur kaki ranjang.
Wahyu yang awal mulanya tertawa ceria tiba-tiba berteriak dengan suara yang sangat keras disusul suara tangisnya yang pecah. Ternyata anakku tercinta terjatuh dan terdorong dengan keras hingga jidatnya menabrak kaki ranjang. Oh tidak..!


BERKAS YANG HARUS DISIAPKAN SAAT MENGAMBIL BPKB KENDARAAN DI LEASING SETELAH MASA KREDIT SELESAI

Blogpost kali ini mau ngomongin sesuatu yang berhubungan dengan kerjaan saya nih yaitu tentang berkas yang harus disiapkan saat mengambil BPKB di perusahaan pembiayaan setelah masa kredit selesai.
Ide ini muncul karena akhir-akhir ini banyak konsumen kantor saya yang telah lunas masa kreditnya namun belum mengetahui hal ini (walaupun syarat-syaratnya sudah ditempel di papan pengumuman kantor), akibatnya mereka harus bolak-balik pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang menjadi syarat pengambilan BPKB ini. Bagi yang rumahnya dekat sih tidak masalah, tapi bagi yang rumahnya jauh, pasti merepotkan dong? Tidak jarang mereka baru bisa datang kembali pada keesokan harinya.
Jadi menurut saya mungkin bagus juga jika saya menulisnya di blog ini, sekalian nambah postingan blog yang baru beberapa biji padahal udah pertengahan februari ^________^

PENGALAMAN MENGGUNAKAN KB IMPLANT/SUSUK TIGA TAHUN

Beberapa waktu belakangan ada satu celetukan dari teman-teman yang lumayan sering mampir ke telinga saya dan suami ketika melihat kami berjalan bersama Wahyu. Celetukannya kurang lebih seperti ini nih “ihhhh, Wahyu udah besar yah, kapan nih punya adik lagi?”
Mendapat pertanyaan seperti itu biasanya kami hanya tersenyum sambil menjawab “Bila Allah berkenan, Insyaallah secepatnya. Doakan semoga secepatnya kami mendapatkan adik Wahyu”.
Sebenarnya jawaban yang kami berikan itu adalah jawaban basa basi karena sejujurnya kami memang sengaja menunda kehadiran adik Wahyu. Saya sih sudah pengen banget punya anak lagi, tapi suami masih belum mau punya anak lagi. Menurutnya, Wahyu masih membutuhkan lebih banyak kasih sayang dari kami. Walau alasan itu terkesan “cemen” di mata saya, tapi akhirnya saya amini juga.