Langsung ke konten utama

TENTANG PENGELOLAAN KEUANGAN KELUARGA

pic source: pixabay.com

Beberapa waktu lalu beredar sebuah tulisan yang dibuat oleh seorang ibu di facebook tentang ilustrasi pengeluaran dengan total sebesar Rp. 2.500.000,-. Dalam tulisan itu, penghasilan sebesar 2,5juta sudah bisa memenuhi seluruh kebutuhan keluarga.

Walau tidak sepenuhnya setuju dengan rincian yang ditulis si ibu karena masih ada beberapa pengeluaran wajib seperti biaya listrik, pulsa, transport (uang bensin) yang tidak dimasukan, tapi saya cukup paham maksud beliau menulis status viral tersebut yakni mengajak kita agar pandai mengelola keuangan keluarga dengan sebaik-baiknya.

Yang saya tangkap, yang ditekankan ibu tersebut adalah kita harus cerdas mengelola penghasilan kita agar keuangan keluarga lebih sehat dan terjaga karena sebesar apapun penghasilan bila pengelolaannya tidak baik maka tetap akan terasa kurang dan kebutuhan tidak terpenuhi, sebaliknya bila kita pandai mengelola keuangan maka penghasilan yang "apa adanya" pun pasti bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Terinspirasi dari status ibu itu, saya kepengen menulis hal serupa. Lalu bagaimana cara saya selaku bendahara rumah tangga dalam keluarga mengatur keuangan agar pengeluaran tidak lebih besar dari pemasukan? Di bawah ini akan saya tuliskan hal-hal yang saya lakukan.

Untuk diketahui, saya dan suami tidak tinggal bersama dalam satu rumah, kami tinggal di kota yang berbeda alias menjalani long distance marriage jadi pengeluaran kami mungkin sedikit lebih besar dibanding keluarga lain yang tinggal serumah. Karena tinggalnya terpisah, maka otomatis ada dua "periuk nasi" yang harus dipenuhi dan pengeluaran sehari-hari juga menjadi dobel.

Baca Juga: Saya Ibu Bekerja Yang Tinggal Berjauhan Dengan Anak & Suami

Oh iyaa, saya dan suami sama-sama bekerja. Dan karena tinggal terpisah maka butab dan ATM suami dipegang sendiri olehnya tapi jangan khawatir jumlah gajinya tetap saya tahu dan saya pantau kok jadi ia gak bisa bohong 😃😂

Dan beginilah yang terjadi setiap bulan di keluarga kami: Setiap habis gajian suami akan mentransfer 65% gajinya ke rekening saya. Uang tersebut saya pakai untuk uang bulanan saya (biaya makan + transport, uang pulsa, bayar listrik), tabungan anak (tabungan biasa, bukan tabungan pendidikan), kebutuhan anak, dana darurat dan beli keperluan bulanan seperti sabun mandi, shampoo, detergen, dkk + kadang kosmetik.

35% dari gaji suami + honor ngajar + penghasilan tambahan dari keterampilan yang dimilikinya (alhamdulillah suami punya usaha kecil-kecilan di rumah) ia pakai untuk biaya hidup di rumah orang tuanya (suami + anak kami tinggal bersama ortunya), bayar listrik rumah ortu, beli pulsa, uang rokok + bensin dan sisanya ditabung.

Dan gaji saya untuk apa saja?? Sebenarnya saya agak malu untuk merincikan pengeluaran dari gaji saya karena 75% dari gaji saya adalah untuk membayar arisan. Yup, ada 4 jenis arisan yang saya ikuti, diantaranya: arisan uang (bersama teman-teman kuliah), arisan emas perhiasan, arisan panci dan arisan alat-alat rumah tangga. Sedangkan 25% sisanya untuk tabungan pendidikan anak, tabungan emas, bayar zakat dan uang bulanan si adik bungsu.

Mungkin teman-teman bertanya, kok bisa 75% dari total gaji saya dihabiskan untuk bayar arisan? Jawabannya adalah karena bagi saya arisan adalah salah satu cara mudah untuk menabung. Saya mungkin tidak sanggup (lebih tepatnya tidak konsisten) menabung  Rp. 3.500.000,-/bulan tapi saya pastikan bisa konsisten membayar iuran arisan sebesar itu setiap bulannya.


peserta arisannya lebih 10 orang tapi setiap kali lot, pesertanya tak pernah lengkap

Uang arisan yang saya terima tidak saya belanjakan melainkan saya masukkan ke deposito. Harapan saya semoga uang arisan yang saya kumpulkan selama ini bisa mewujudkan keinginan kami punya rumah sendiri yang sudah saya masukan sebagai salah satu resolusi di tahun 2018 ini.

Baca Juga: My 2018 Resolution

Seperti yang saya tuliskan di atas, menjalani LDM membutuhkan biaya yang lebih besar, tapi saya tetap harus bersyukur karena di BauBau saya tidak tinggal sendiri. Saya tinggal bersama adik jadi untuk kebutuhan makan sehari-hari, bayar listrik, beli galon, dan beli barang-barang lain untuk dipakai bersama di rumah kami patungan jadi terasa lebih ringan. Alhamdulillahnya lagi, hampir setahun belakangan kami tak lagi mengeluarkan biaya sewa rumah dan biaya PDAM.

Baca Juga: Pindah Rumah Lagi

Oh iyaa, ini beberapa langkah yang saya lakukan untuk mengatur keuangan keluarga kami:

#Buat list pengeluaran
Membuat list atau daftar pengeluaran ini sangat membantu saya dalam mengerem nafsu belanja barang-barang kurang penting. Dengan membuat list, akan lebih mudah bagi saya untuk mengetahui mana kebutuhan yang harus dipenuhi dan mana keinginan yang hanya datang untuk memuaskan nafsu sesaat.

Saat saya gajian di akhir bulan, yang pertama saya lakukan setelah membayar zakat adalah memisahkan iuran arisan, transfer ke rekening BNI untuk didebet dana pendidikan anak saya (saya pilih TAPENAS BNI). Setelahnya saya transfer uang bulanan adik bungsu, baru kemudian ke pegadaian setor tabungan emas. Sedangkan untuk biaya keperluan sehari-hari, saya baru dapat transferan dari suami di awal bulan.  

#Buat Rekeninng Bank lebih dari 1
Fyi, saya memiliki 4 rekening bank dan suami punya 2 rekening bank. Untuk saya, rekening yang saya punya ada di BRI, BNI dan 2 di Danamon. BRI saya pakai untuk memudahkan teman-teman dalam mentransfer uang arisan mereka (saya bendahara arisan), untuk membantu sepupu-sepupu dalam menerima transferan dari rantau, juga untuk keperluan belanja online. BNI saya pakai untuk mendebet tabungan pendidikan anak saya juga sebagai rekening "penampungan" bunga deposito. Yaa, seperti TAPENAS, saya juga memilih membuka deposito di BNI.

Baca Juga: Pertama Kali Membuka Rekening Deposito di BNI

Sedangkan di Danamon, satu untuk rekening gaji dan satunya lagi untuk transferan fee ngeblog dan ngebuzzer di medsos. Sejak Mei tahun lalu fee yang saya dapatkan dari blog dan medsos gak pernah saya belanjakan tapi saya tabung. Setiap nilainya mencapai 5jt, maka akan langsung saya tarik dan masukan ke deposito untuk menambah saldo yang telah ada.

#Hindari berutang
Alhamdulillah tiga tahun terakhir kami telah terbebas dari hutang dan belum ada rencana untuk berhutang lagi dalam waktu dekat ini. Hati terasa lebih tenang dan pikiran lebih jernih bila hidup tanpa hutang dan kami menjadi lebih leluasa bertindak. Uang yang sebelumnya digunakan untuk membayar cicilan hutang, bisa dialokasikan ke pos lainnya.
 

#Konsisten terhadap list yang telah dibuat
Bilang pada Dilan bahwa yang berat bukanlah rindu melainkan konsisten terhadap list pengeluaran yang sudah dibuat 😜 😂

Jujur saja, tidak jarang saya mengingkari list yang telah dibuat. Beberapa kali kami mengalami kondisi "besar pasak daripada tiang alias besar pengeluaran daripada pendapatan". Tak selamanya mata ini bisa tahan melihat banyaknya tas, dompet dan sepatu yang didiskon 70%. Tak selamanya leher ini bisa tahan untuk tidak jajan makanan enak di luar sana. Tak selamanya hati ini tidak goyah mendengar bisikan si anak lanang yang minta dibeliin mainan. Yaa, ada saatnya saya kelimpungan ketika mendapati saldo belanja yang nyaris habis padahal masih pertengahan bulan, hahaha #TertawaMiris 😤 😂

Bila mengalami hal seperti itu, maka dana darurat yang menjadi korban, huhuhu. Tapi syukurlah kejadian memilukan itu tak terjadi setiap bulan.

Hmmm apalagi yaa? Oh iyaa, tentang dana untuk liburan atau bersenang-senang dan asuransi kami memang belum menganggarkannya. Bila hendak berlibur dan bersenang-senang biasanya kami ambil dari dana darurat. Sedangkan untuk asuransi kesehatan kami masih merasa cukup memakai BPJS dan asuransi kesehatan dari kantor. Hmm, tapi kepikiran juga mau buat asuransi jiwa nih, kira-kira asuransi jiwa yang bagus apa yaa?

Akhirnya tulisan ini saya cukupkan sampai di sini saja. Maafkan bila pengaturan keuangan kami masih banyak banget kurangnya dan masih jauh dari ideal, namanya juga amatir yang sedang berbicara, hihihi 😂✌

Kalau kalian gimana pengaturan keuanganmu gaes? Yuk bagi di kolom komentar 😊

 
*Note: Ini adalah post trigger pertama untuk teman-teman yang tergabung dalam "Be Molulo" yang sebelumnya bernama SBT. Berhubung anggotanya Alhamdulillah semakin banyak, bulan ini kami sepakat untuk memodifikasi aturan nulisnya dari yang semula kami nulis serempak dengan tema yang sudah ditentukan, maka sekarang anggota lainnya akan menulis sesuai trigger yang sudah ditulis oleh salah satu anggota terpilih. Dan yang terpilih untuk membuat post trigger bulan ini adalah saya, hehehe 😊

Komentar

  1. TFS Kak. Sa terasa terjewer dgn postinganta deh. Kacau sekali pengaturan keuabganku, huhuhuh. Malu saya. Tp Alhamdulillah, disyukuri apa yg ada.

    Anyway, dari awal sa tunggu itu ttg arisan. Ternyata disebutji tawwa dii. Sy jg suka arisan. Uang iyah, emas koin iyah, barang pun iyah. Bahkan waktu sblm nikah pernah ikut arisan panci, wal hasil setelah nikah tinggal langsung angkut sj tu panci jd alat tempur. Awet smpe skrg. Msh ada bbrpa barang lain jg dari hasil arisan; piring2, oven, happycall, tupperware. Eeh apakah ini, cusss tulis juga eeh :D

    BalasHapus
  2. Buat list memang ampuh buat mengontrol keuangan. :D Btw, gara-gara postingan ini, adi ingat kalau nanti waktunya arisan. :D

    BalasHapus
  3. Benar juga. Dengan membuka lebih dari satu rekening, kemungkinan untuk konsisten menabung lebih besar. Soalnya, sayang kalau nggak diisi, mana tiap bulan pasti ada potongan.

    BalasHapus
  4. Wah dahsyat kak 75% gaji buat arisan, tapi ndak masalah sih kalau untuk jadi "penampungan dan bendungan sementara" sekalian silaturahim sam ateman-teman juga. Malah bagus jadinya, karna kita sudah tau kelemahan terhadap uang ada di mana. ^^

    Cuss.. Tulis juga

    BalasHapus
  5. Kayaknya saya harus belajar pos-poskan keuangan nih say...

    Belum pi sa sampai level itu...

    BalasHapus
  6. Pos penerimaan terbesar dari suami klo aku mba.
    Gaji..100% dikasih ke aku..nanti dia pegang honor+insentif.

    100% gaji kmdin dipos2 in buat spp anak2, blnja bulanan..listrik, dll.

    Uang ngeblog, aku pke klo uang gaji kurang..😁

    Tp alhamdulillah cukup si mba. Jarang nombok. Alhamdllh free hutang juga

    BalasHapus
  7. Wahh luar biasa pengelolaan keuangan ala Kak Ira.
    Apalagi bisa ikut arisan sebanyak itu.
    Saya masih harus banyak belajar soal ini.. hehehe

    BalasHapus
  8. Untuk urusan arisan, sa standing applouse kak ;)

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah ya Mbk gak dipusingkan dengan biaya macem-macem, hidup cukup tenang ya. Beban istri juga gak jadi banyak.

    BalasHapus
  10. Saya masih punya hutang mbak, bayar KPR, masih tiga tahun lagi, semoga lancar yaa aamiin :)

    Menabung emas itu pilihan bagus mbak, karena emas selalu menguntungkan dan nggak mungkin harganya turun. Semakin lama disimpan semakin untung kita hehe..

    Saran saya beli di Antam saja mbak, lebih murah, memang jauh sih tempatnya, tapi dibanding pegadaian selisihnya lumayan loh saya pernah iseng-iseng hitung. Tapi kalau memang kesulitan ya nggak apa juga beli/nabung di pegadaian. Intinya sih, nabung emas adalah pilihan cerdas :).

    BalasHapus
  11. Sy paling susah yg bagian konsistennya itu kak 😭, kayaknya sy harus buka rek lg ini & harus diperjelas bagian2nya 😊

    BalasHapus
  12. wah keren juga nich tipsnya, bisa dipraktekin juga dalam keluarga

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini 😊😊

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus 😉

Postingan populer dari blog ini

CARA MENGOBATI LEBAM/BENJOLAN PADA JIDAT ANAK KARENA KEJEDOT

Selamat tahun baru yah Gaes, semoga di tahun 2016 ini segalanya lebih baik dari tahun-tahun yang telah lalu, amin. Tidak terasa yah, hari ini kita sudah berada di hari ke empat di tahun yang baru ini. Setelah beberapa hari menikmati hari libur (libur nulis juga), hari ini saatnya kita untuk beraktivitas seperti biasanya.

Oh iya, postingan pertama saya di awal tahun ini akan dibuka dengan cerita sedih yang dialami oleh anak saya “Wahyu” beberapa waktu yang lalu.Pada hari kamis tanggal 24 desember 2015 yang lalu, Wahyu kejedot (bahasa Indonesia dari kejedot apa yah?) di kaki ranjang. Saat sedang berlari-lari dalam rumah, tanpa sengaja kakinya menabrak kaki Papanya hingga ia terlempar dan jidatnya terbentur kaki ranjang.
Wahyu yang awal mulanya tertawa ceria tiba-tiba berteriak dengan suara yang sangat keras disusul suara tangisnya yang pecah. Ternyata anakku tercinta terjatuh dan terdorong dengan keras hingga jidatnya menabrak kaki ranjang. Oh tidak..!


BERKAS YANG HARUS DISIAPKAN SAAT MENGAMBIL BPKB KENDARAAN DI LEASING SETELAH MASA KREDIT SELESAI

Blogpost kali ini mau ngomongin sesuatu yang berhubungan dengan kerjaan saya nih yaitu tentang berkas yang harus disiapkan saat mengambil BPKB di perusahaan pembiayaan setelah masa kredit selesai.
Ide ini muncul karena akhir-akhir ini banyak konsumen kantor saya yang telah lunas masa kreditnya namun belum mengetahui hal ini (walaupun syarat-syaratnya sudah ditempel di papan pengumuman kantor), akibatnya mereka harus bolak-balik pulang ke rumah untuk mengambil berkas yang menjadi syarat pengambilan BPKB ini. Bagi yang rumahnya dekat sih tidak masalah, tapi bagi yang rumahnya jauh, pasti merepotkan dong? Tidak jarang mereka baru bisa datang kembali pada keesokan harinya.
Jadi menurut saya mungkin bagus juga jika saya menulisnya di blog ini, sekalian nambah postingan blog yang baru beberapa biji padahal udah pertengahan februari ^________^

PENGALAMAN MENGGUNAKAN KB IMPLANT/SUSUK TIGA TAHUN

Beberapa waktu belakangan ada satu celetukan dari teman-teman yang lumayan sering mampir ke telinga saya dan suami ketika melihat kami berjalan bersama Wahyu. Celetukannya kurang lebih seperti ini nih “ihhhh, Wahyu udah besar yah, kapan nih punya adik lagi?”
Mendapat pertanyaan seperti itu biasanya kami hanya tersenyum sambil menjawab “Bila Allah berkenan, Insyaallah secepatnya. Doakan semoga secepatnya kami mendapatkan adik Wahyu”.
Sebenarnya jawaban yang kami berikan itu adalah jawaban basa basi karena sejujurnya kami memang sengaja menunda kehadiran adik Wahyu. Saya sih sudah pengen banget punya anak lagi, tapi suami masih belum mau punya anak lagi. Menurutnya, Wahyu masih membutuhkan lebih banyak kasih sayang dari kami. Walau alasan itu terkesan “cemen” di mata saya, tapi akhirnya saya amini juga.