MENGENANG BEBERAPA PEKERJAAN YANG PERNAH SAYA LAKONI DI MASA LALU

by - Juli 16, 2019

Tak terasa, hari ini tepat 1 bulan 3 hari saya menikmati libur atas cuti lahiran yang saya ajukan. Ya, waktu cepat banget berlalunya, tau-tau jatah cuti saya hanya kurang dua bulan lagi. Ahhh jadi ingat betapa pak Bos lumayan stres memikirkan siapa yang akan meng-handle pekerjaan saya saat saya cuti nanti, khawatir si admin baru tidak bisa menguasai pekerjaannya saat saya sudah cuti, sekarang saya malah sudah mau ngantor lagi.
pic source: pixabay.com
Ngomong-ngomong tentang pekerjaan, saya jadi pengen cerita tentang pekerjaan-pekerjaan yang pernah saya lakoni sebelum bekerja di tempat saya sekarang deh. Karena setelah saya ingat-ingat ternyata pekerjaan yang pernah saya lakoni itu lumayan banyak juga, hehehe
Sejak kecil saya sudah suka bekerja. Bekerja apa saja (yang pastinya halal) asal menghasilkan uang, pasti dengan senang hati saya lakukan. Saya ingat, saat kelas 2 SD saya jadi pengumpul tanah kapur (bahan baku pembuatan batako) dan kemudian menjualnya pada pembuat batako. 1 karung ukuran 50 kg, tanah kapur yang saya kumpulkan tersebut dihargai Rp. 300,-. Kerjaan lain yang saya lakukan adalah mengisi tanah di polybag sebagai media tanam biji lamtoro (saat itu sedang digalakkan program penghijauan oleh pemerintah). Kantong yang sudah berisi tanah itu diletakkan pada tempat yang dinamakan bedeng (lahan berukuran ± 1x2 meter). Satu bedeng yang full terisi polybag dihargai Rp. 2.000,
-
Saya melakukan semua itu bersama teman-teman secara diam-diam tanpa diketahui mama dan papa. Apa yang paling membahagiaan saat melakukan kegiatan yang rasanya cukup berat dilakukan anak SD itu? Adalah saat menerima upah. Uang yang didapat bisa ditabung atau dibelanjakan apapun yang diinginkan tanpa perlu repot meminta pada orang tua.

Selain 2 pekerjaan yang saya sebut di atas, kerjaan lain yang saya lakukan saat SD adalah menjajakan roti buatan mama. Saya melakukan ini 2x sehari yaitu pada pagi hari sebelum ke sekolah dan pada sore hari setelah shalat ashar. Setiap penjualan mencapai Rp. 1.000,- saya akan digaji Rp. 100,- oleh mama. Pekerjaan lain yang saya tekuni adalah menjadi pedagang makanan ringan. Saya menggelar dagangan itu di depan rumah. 
Memasuki SMP, kegiatan menghasilkan uang sendiri masih terus berlanjut. Saat itu setiap ramadhan tiba, saya selalu diajak tetangga yang berprofesi sebagai pedagang menemaninya berjualan sepatu/sandal. Upah yang saya terima setiap kali menemaninya adalah Rp. 5rb - Rp. 15rb tergantung banyaknya barang yang terjual. Saya melakukannya 3x seminggu.
Kerjaan lain yang saya tekuni adalah membelah jambu mete (memisahkan biji dari kulitnya hingga menghasilkan kacang mete). Hasil dari pekerjaan ini lumayan karena saya bisa membeli beberapa gram emas, membeli beberapa alat rumah tangga untuk mama dan sisa uangnya masih bisa saya tabung. Sampai SMA saya masih melakukan 2 pekerjaan ini.
Saat kuliah semester 5, saya bekerja sebagai pramuniaga di salah satu pusat perbelanjaan di Makassar. Sayangnya setelah hampir satu tahun bekerja, saya memutuskan resign karena jadwal kerja mulai bentrok dengan jadwal kuliah. Setelah itu saya tidak melamar kerja lagi, saya fokus menyelesaikan kuliah.
3 bulan setelah tamat kuliah, saya diterima bekerja di salah satu perusahaan property di Makassar namun hanya 4 bulan saja saya bekerja di sana. Setelah cukup lama tinggal jadi pengangguran di Makassar, saya memutuskan balik ke rumah orang tua di Lombe. Mengetahui saya tak punya kerjaan, sahabat saya mengajak saya bekerja sebagai penjaga warnet di tempatnya. Setelah 6 bulan menjadi penjaga warnet saya kemudian diterima bekerja di tempat kerja saya saat ini
Saat jadi penjaga warnet inilah saya berkenalan dengan suami lewat facebook. Setelah beberapa kali kopdar, kami berdua akhirnya yakin untuk melanjutkan hubungan kami ke jenjang pernikahan.

Karena terbiasa bekerja sejak kecil, saya jadi sangat menikmati saat-saat bekerja. Bagi saya, bekerja tak hanya untuk mendapatkan penghasilan saja, melainkan salah satu cara aktualisasi diri. Maka sebelum menerima lamaran suami, ada satu hal yang saya tegaskan padanya bahwa kelak saat kami menikah, saya tidak ingin dilarang bekerja, saya hanya akan berhenti menjadi working woman bila saya sendiri yang menginginkannya. Alhamdulillah suami tak keberatan karena ibunya juga working mom :)

Sampai saat ini saya masih betah dan sangat menikmati bekerja di luar rumah, belum terpikir untuk resign dan fokus bekerja di rumah. Suami dan orang-orang terdekat sangat mendukung apapun pilihan saya :)

You May Also Like

22 komentar

  1. sama mbak aq pun sampai saat ini masih ingin kerja, alhamdullilah suami juga mendukung, yah kadang ada sih keinginan untuk resign tapi bingung kalo gak kerja dan harus dirumah, ttp aja gak betah kayanya seharian dirumah cuma ngerjain pekerjaan rumah tangga aja

    BalasHapus
  2. Wah banyak juga ya Mbak pengalaman kerjanya. Mulai dari masih di SD sudah bekerja

    BalasHapus
  3. Wah kalau saya masih SD ya fokus belajar dan masih belum kepikiran untuk bekerja

    BalasHapus
  4. Wah keren banget nih ya Mbak, masih kecil sudah berkerja. Jadi, waktu sudah memasuki masa bekerja nggak bingung lagi nih ya

    BalasHapus
  5. Ternyata Mbak juga melakukan pekerjaan memecah jambu mete juga ya. Selain itu juga banyak banget pekerjaan lainnya

    BalasHapus
  6. Wah enak ya Mbak kalau semua apa saja ya yang akan dipilih itu didukung oleh semua orang hehe

    BalasHapus
  7. Menyenangkan bgt kalo mengenang hal2 semacam ini ya mb

    BalasHapus
  8. 2 bulan lagi menjalani kebersamaan 24 jam sama di baby ya mbak, berarti ngejar stok asi ya b uat ditingga kerja nanti, semangat terus.
    Aku tuh dulu waktu kerja suka kepikran kalau pas cuti nanti kerjaan gimana gak beres dll.
    Wah dari diam-diam udah dapet penghasilan ya dulu. Keren deh darei sekolah udah bisa berinvestasi mbak

    BalasHapus
  9. Wah menyenangkan sekali karaktermu ya mbak. Orang sepertimu akan survive apapun keadaannya. Semoga masa cutinya bisa mengembalikan kebugaran setelah melahirkan. Semoga ibu & bayinya sehat selalu. Aamiin.

    BalasHapus
  10. Wah hebat mba, sejak masih kecil sudah biasa bekerja, kok ya kepikiran sih mba, bukannya lagi enaknya main? ahaha.
    Kerasa kalau udah dewsa ya, karena pengalaman itu jadi bekal yang berarti

    BalasHapus
  11. Keren Mba, sejak kecil sudah biasa bekerja. Bersyukur juga ternyata dapat jodoh atau suami yang mendukung istrinya bekerja ya. Sukses terus ya, Mba :)

    BalasHapus
  12. Weh pekerja keras sekali hehe..
    Jadi inget ya dulu waktu sd smp aku juga bawa dagangan dari rumah buat dijual ke kantor.. 😄

    BalasHapus
  13. Aku pun termasuk tipe orang yang nggak bisa diam ada aja ide gimana caranya menghasilkan duit meskipun sedikit tapi ada pemasukan, hehe

    BalasHapus
  14. Ah jadi ingat percakapan di grup WA kita, mba Ira. Pekerjaan kita itu bikin bahagia asal tidak menjadi kewajiban karena terpaksa misalnya. Aku juga dulu punya perjanjian dengan suami tentang soal bekerja ini, mbak. Pokoknya aku berhenti kerja ketika memang menginginkannya, bukan karena dipaksa

    BalasHapus
  15. Waaah rajin sekali mba ira ini, salut saya.
    Btw, kenal sama suaminya lewat FB ya. Kalo jaman dulu mah aman aja ya. Aplikasi pertemanan emang murni mencari teman.

    BalasHapus
  16. Yang penting dari diri sendiri ya mba, pokoknya tanpa ada suruhan dari orang lain.. semangat busui

    BalasHapus
  17. aku juga banyak punya pengalaman bekerja di beberapa bidang yang berbeda, mulai dari marketing intelligent, penyiar radio, instruktur Bahasa Inggris, executive secretary, project management, sampai ASN terakhirnya

    BalasHapus
  18. Lumayan banyak juga ya jenis pekerjaan yang pernah dikau jalani, ira

    BalasHapus
  19. Alhamdulillah ya mbak, punya suami yang pengertian. Selama.diridloi suami, apalagi passion mbak, dinikmati aja ya mbak

    BalasHapus
  20. Otak bisnis dari kecil . Wah Kaya adik mpo suka dagang. Walaupun keluarga mpo cukup makan.

    Tapi inilah yang bikin Kita jadi survive dan tidak gampang menyerah

    BalasHapus
  21. Sewaktu kecil saya juga suka mungutin cengkeh untuk dijual, lumayan hasilnya bisa beli baju lebaran, jualan es juga, terus yang paling menghasilkan uang sih membantu bapak membuat diktat sekolah (zaman dulu nggak ada buku adanya diktat)

    BalasHapus
  22. aku dulu waktu SMA suka jualan cerpen dan tugas menggambar hahahaha
    insting jualan langsung jalan ya, kalo ada temen males bikin makalah cerpen, beli di aku mereka hahaha

    BalasHapus

Terimakasih telah berkunjung dan meninggalkan komentar di sini 😊😊

Mohon untuk berkomentar menggunakan kata-kata sopan dan tidak meninggalkan link hidup yah, karena link hidup yang disematkan pada komentar akan saya hapus 😉